SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 24


__ADS_3

Seperti janji yang sudah disepakati sebelumnya. Azahra dan Asna akan ke pasar membeli beberapa jenis sayuran, ikan dan juga ayam serta rempah rempah yang nantinya dibutuhkan saat memasak. Karena nanti malam, mereka akan makan malam bersama di kontrakan.


Dalam perjalanan ke pasar Tello, Asna yang kebetulan membonceng Azahra, tanpa sengaja melihat Haikal bersama seorang wanita yang Asna sendiri tidak tahu siapa. Penasaran, Asna pun menambah kecepatan.


"Gila kamu Asna ... Jangan ngebut-ngebut dong ...!" Azahra memeluk erat sang sahabat.


"Maaf, Zahra ... Itu Haikal bukan sih?" Asna menunjuk motor di depannya.


"Oh iya, itu Haikal. Sama siapa dia? As, jangan bilang Haikal selingkuh" ucap Azahra menerka nerka.


"Loh, kok kecepatannya dikurangi?" sambung Azahra bertanya saat Asna yang tadinya ngebut tiba-tiba mengendarai motor dengan kecepata standar.


"Asal aku udah tahu, Zah. Lagian, aku dan dia kan hanya pacaran. Aku nggak punya hak untuk melarangnya jang ini jangan itu. Dia bukan anak kecil lagi, dia udah tahu mana yang benar dan mana yang salah" ucap Asni serius.


Di kontrakan, Kulsum tengah bersiap-siap ke suatu tempat. Bahkan dia enggan mengindahkan apa yang diperintahkan oleh Zul pagi tadi. Memasak? Maaf, wanita yang memiliki nama lengkap Kulsum Ummu, tak menyukai aktivitas memasak. Dan Kulsum rasa Zulfikar pun sudah tahu, tapi entah dia pura-pura lupa atau dia mau Kulsum belajar memasak. Entahla.


"Sayang, nanti siang kamu makan di warung terdekat dulu ya. Soalnya aku nggak sempat memasak, Sindi sakit jadi aku mau ke sana besuk dia"


Terkirim, tak lama balasan dari Zul pun masuk. "Ya sudah. Kamu hati-hati ya"


Kulsum menyunggingkan senyum bersamaan dengan jari jemarinya yang terus mengetik sesuatu di keyboard. Selesai, ia mulai mengirimnya pada target.


"Sayang, bisa kau berikan aku uang? Aku mau beli sesuatu untuk Sindi"


Ting!! Seling satu menit, balasan pesan dari Zulfikar pun masuk. Segera Kulsum membacanya. "Datang saja di tempat kerjaku"


Setelah membaca balasan pesan dari Zulfikar, Kulsum segera meraih tasnya di atas tempat tidur. Menatap penampilannya lewat cermin, gadis itu menarik senyum di kedua sudut bibirnya.


"Kek gini aja dulu, sampai di rumah Sindi baru aku ganti baju" gumamnya tersenyum.


Keluar dari rumah, Kulsum tak lupa mengunci pintu rumah juga menggembok pagar. Menyalakan mesin motor yang dia rental di Batua Raya, gadis itu segera menemui Zulfikar di tempat kerja. Hanya beberapa menit saja, wanita bermuka dua itu tiba disana. Baru juga dia akan menghubungi Zulfikar, pria dungu itu terlihat keluar dari Caffee menghampiri dirinya yang pandai berdusta.

__ADS_1


"Apa ini cukup?" Zul menyodorkan selembar uang merah yang sudah pasti nominalnya seratus ribu.


"Bisa tambahin seratus lagi nggak? Buat isi bensin dan buat aku beli makanan. Oh ya, nanti malam aku bermalam di indekos Sindi, kasihan dia sedirian di sana"


Tanpa menjawab, Zulfikar merogoh uang dari saku celananya lalu memberikannya uang itu pada Kulsum, sang kekasih. Setelah memberi uang pada Kulsum, Zulfikar kembali bekerja meninggalkan Kulsum di parkiran.


Belum lewat satu menit berada di dalam caffe, satu pesan teks tiba-tiba masuk dari nomor yang tidak dikenal. Penasaran, Zulfikar segera membuka dan membacanya. Isi pesan tersebut, berhasil membuat Zulfikar terdiam sesaat sebelum menatap keluar dimana Kulsum berada.


Kembali ke Azahra dan Asna, kedua wanita itu telah tiba di kontrakan. Azahra turun dari motor membuka gembok pagar, mendorongnya agar Asna bisa masuk memakirkan motor di garasi. Belum juga memakirkan motor, Geovani dan Gea datang bersamaan dengan menggunakan kenderaan masing-masing.


"Berhubung kalian sudah datang, tolong bantu kami angkat barang belanjaan" ujar Asna seraya menggiring motor ke parkiran.


"Iya" balas Gea dan Geovani bersamaan.


Seperti kata Asna barusan, membantu mereka membawa barang belanjaan–Gea dan Geovani pun membopong barang belanjaan, membawanya ke dapur dan meletakannya di atas meja, terkecuali ayam dan ikan, yang langsung diletakkan di wastafel dapur.


Berhubung belum sore, Azahra pamit ke kantor J&T Puri Kencana Sari mengambil paket–meninggalkan Gea, Geovani dan Asna di kontrakan. Sepeninggal Azahra, Zulfikar yang entah dari mana, datang tanpa suara. Pria itu langsung ke kamar hingga Azahra kembali.


"Zahra, tadi pas kamu pergi, Kak Zul datang. Dan dari tadi sampai saat ini, kami nggak dengar pergerakan orang di kamar. Tapi tadi, pas Kak Zul datang, matanya memerah, seperti orang habis menangis gitu" Asna memberitahu.


"Pasti bertengkar lagi dengan kekasihnya" batin Azahra.


"Mungkin lagi tidur jadi nggak ada pergerakan" balas Azahra seraya menuangkan air digelas. Membaca basmalah, Zahra pun mulai meneguknya hingga tandas.


Di kamar, Zulfikar duduk di lantai, bersandar pada sisi tempat tidur. Kenyataan yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri, membuat hati pria itu hancur berkeping keping.


"Kenapa barus begitu, Kulsum. Apa uang yang aku berikan kurang untuk kebutunanmu?" batin Zul.


Sementara termenung, Zulfikar mendengar Azahra berbicara dengan seseorang. Rasa penasaran membuat Zulfikar memasang kuping untuk mendengar lebih jelas.


"Iya, Sayang. Kamu datang saja di sini. Kakakku nggak jahat kok, dia orangnya baik"

__ADS_1


"........"


"Iya iya ... nanti aku masak yang enak untuknya. Hehehehe. Bdw, kamu dimana sekarang? Aku rindu tahu!"


"........"


"Hahahahaha. Ya rindulah, masa nggak. Udah cepat datang, aku kangen kamu. Oh iya, jangan lupa bawa gitar karena nanti malam aku mau persembahkan lagu untuk kekasih idolaku"


Cek--lek ...!! Zul membuka pintu kamar, mengambil tempat di dekat Azahra. Mengira Azahra akan menyapanya, nyatanya tidak. Wanita itu sibuk dengan dunianya sendiri.


"......."


"Iya dong, itu harus. Sayang, udah dulu ya. Aku bantu Gea dan Geovani dulu.


"........"


"Assalamualaikum, Sayang"


Usai melakukan panggilan telepon, Azahra beranjak dari ruang tamu. Baru juga selangkah, namun harus terhenti saat bunyi klakson terdengar. Diluar, Haikal dan adik kecilnya tengah menunggu dibukakan gembok pagar.


"Bestie ... buka pintunya dong ... Nanti adiku gosong ni ..." teriak Zul.


Azahra terkekeh. Segera wanita itu menemui Haikal di luar. Wajah cantik Amira, adik bungsu Haikal, membuat Azahra gemas hingga ia mengambilnya dari gendongan sang sahabat. Setelah memarkirkan motor, Haikal mengikuti Azahra ke dalam rumah. Melewati ruang tamu, Haikal berpura pura tak melihat Zulfikar yang sekilas menatapnya.


"Zahra, Kakak dungumu itu dimana?" tanya Haikal.


Degh!! Azahra membulatkan mata, begitu juga dengan si dungu yang dimaksud Haikal.


Kembali berpurah purah menatap kearah dimana Zulfikar duduk, Haikal tertawa. "Hahahahah. Kak Zul, kukira tadi hiasan bernyawa, nyatanya Kak Zul toh. Maafkan aku ya, Kak" Zul mengambil tempat di samping Zulfikar.


"Kenapa? Baru habis nangis ya? Cengeng amat" sambung Haikal dengan kedua kening berkerut.

__ADS_1


"Sok tahu kamu!" ketus Zulfikar. Tiga kata itu berhasil mengundang gelak tawa Haikal. Melihat Haikal dan Zulfikar yang nampak akrab, Azahra meninggalkan keduanya di ruang tamu.


__ADS_2