
Sehari setelah acara kelulusan–sahabat Azahra yang tak lain adalah Asna Ariana, gadis cantik itu memutuskan hubungan asmaranya dengan sang kekasih, Haikal. Alasan yang diberikannya pun masuk akal. Hingga Haikal menerima keputusan yang telah dipikir matang oleh Asna sendiri.
Di putuskan oleh Asna Ariana, tak membuat seorang Haikal bersedih apalagi sampai menangis seperti dalam drama film, justru sebaliknya. Ya, sebaliknya. Pria itu berusaha untuk menjadi pria yang layak menjadi pasangan dari Asna–wanita yang begitu dicintai oleh Haikal. Bersama Asna, Haikal banyak merubah sikap. Maka hanya bersama Asna lah Haikal bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
Di rumah, tepatnya di ruang keluarga, Haikal menghitung uang tabungannya dibantu oleh Assagaf–sang Kakak. Sekitar dua puluh menit, semua uang yang tadinya berserakan di lantai terhitung jua.
"Alhamdulilah" Haikal bernafas legah. Uang yang dia tabung selama ini melewati jumlah target.
"Dek, apa kamu yakin?" tanya Assagaf menatap serius sang adik. Pasalnya, Assagaf sendiri tak berani menikah muda. Dia takut, takut tak mampu menafkahi anak orang yang dia persunting. Lantas, ada apa dengan Haikal yang dengan ringannya berkata akan melamar mantan kekasihnya itu.
"Apa aku terlihat main-main, Kak?" Haikal balik tanya. Dari tatapannya, terlihat keseriusan di sana. Tentu hal itu membuat Assagaf menghela napas panjang. Dia rasa, adiknya itu sudah gila.
Acara lamaran pun digelar malam ini di rumah calon mempelai wanita. Kedua orang tua yang telah lama bercerai, kini berkumpul di satu rumah yang dulunya mereka jadikan tempat bernaung hingga lahirnya Asna Ariana. Masing masing dari mereka membawa pasangan yang telah dijadikan teman tidur juga teman segalanya. Tak ada rasa canggung, apalagi cemburu. Selain keluarga Asna, ada Haikal ditemani sang Kakak yang kedatangannya dinanti sejak pagi tadi.
"Asna, keputusan ada ditangan kamu, Nak. Apapun keputusanmu, Papa dan Mama mengikut saja" ucap Papa kandung Asna.
Asna menatap Haikal yang menatapnya penuh harap. Pria tampan bermodal nekat itu nyatanya tidak main-main dengan ucapan nya. Sebelum memberi keputusan, Asna melirik Nenek nya sejenak. Senyum manis sang Nenek membuat Asna yakin akan keputusan yang akan dia ambil.
Di lain tempat, Azahra dan Zulfikar dalam perjalanan dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar ke rumah Papa Giman di Jln Mekar, BTP, Perumahan Indah. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Pak Mo pun sampai di alamat tujuan.
Dibantu oleh Pak Mo, Zulfikar membawa koper ke dalam rumah. Sementara Azahra mengekor dari belakang. Tanpa Azahra tahu, dalam group alumni telah dihebohkan akan berita Asna dan Haikal.
"Pak Mo, siapa sih yang menikah? Kok Mama dan Papa nggak bisa jemput kami" tanya Zulfikar sambil menyeret koper ke dalam rumah.
"Anaknya Bu Tima, yang Tetangga Ibu di Maros itu" jelas Pak Mo, yang tak lain adalah supir Pak Gunawan yang baru dua minggu kerja sebagai supir.
__ADS_1
Zulfikar mengangguk paham. Usai memasukkan barang bawaan kedalam rumah, Zulfikar mengambil tempat di samping Azahra yang baru saja mendudukan bokongnya di sofa ruang keluarga. Sementara Pak Mo pamit pulang ke Maros.
Sepeninggal Pak Mo, Zulfikar mengajak Azahra ke kamar. Lelah, keduanya pun memilih tidur tanpa harus memainkan ponsel lebih dulu.
Keesokan harinya, Azahra dan Zulfikar dikagetkan akan kabar tentang pernikahan Asna dan Haikal yang akan digelar pekan depan di kediaman mempelai wanita. Sebagai sahabat, tentu Azahra turut senang mendengar kabar bahagia itu.
Azahra masih ingat apa yang dikatakan Asna lewat pesan WA. Gadis cantik bernama Asna itu berkata, bahwa dirinya siap menikah muda apabila pria yang melamarnya itu bersungguh sungguh. Bahkan Asna tak menyebut nama Haikal dalam pesan itu hari. Seakan akan, siapa pun yang datang melamar, selama dia serius dan siap membimbing, maka Asna akan menerimanya.
Dan nyatanya, pria yang kerap menabur janji pada Asna, kini, dia telah membuktikan separuh dari janjinya.
.
.
Hari pernikahan pun tiba, Azahra dan suami dalam perjalanan menuju kediaman Asna. Di perjalanan, ponsel Azahra berdering berulang kali. Segera Zahra menjawab panggilan telepon dari Gea.
Setibanya di Rumah Sakit Unhas, Azahra dan Zulfikar menemui Gea yang sementara bersama Geovani, Irwan dan juga Akri. Terbesit tanya dalam benak Azahra maupun Zul, siapa yang dibawa lari ke Rumah Sakit?
"Siapa yang sakit?" tanya Azahra dengan manik mata berkaca kaca. Dia yakin, salah satu dari teman gengnya ada yang sakit.
"Asna, Beb. Tiba-tiba dadanya sakit setelah di meka up. Selang beberapa puluh menit, dia sesak nafas. Bahkan dia nggak bisa turun dari tangga" jelas Gea mengingat apa yang tadi dia saksikan.
Mata Azahra berkaca-kaca. "Lalu bagaimana keadannya sekarang?" tanyanya cemas.
"Kami belum tahu" jawab Irwan.
__ADS_1
Di lantai lima bagian poli jantung. Asna dirawat setelah melakukan beberapa pemeriksaan medis. Gadis muda nan cantik itu belum ditahu dengan jelas penyakit apa yang di deritanya. Berada di poli jantung pun karena keluhannya saat masih di rumah. Hingga orang tuanya membawanya ke Poli jantung tanpa ke UGD terlebih dahulu.
Haikal, sang mempelai pria baru saja tiba di Rumah Sakit bersama sang Kakak. Rombongan yang tadinya ikut terpaksa dipulangkan. Cemas, Haikal menemui kawan kawannya.
"Dimana Asna?" tanyanya.
"Di Lantai lima" jawab Geovani.
"Ayo kita ke atas" ajak Haikal.
"Nggak bisa, Bro. Harus orang tua Asna keluar dulu baru kita ke sana. Itupun hanya dua orang yang bisa masuk ke dalam" jelas Irwan diangguki oleh Gea, Geovani dan Akri.
"Sana Mama nya Asna" jari telunjuk Azahra terarah pada wanita yang tak lain adalah orang tua kandung dari sahabat mereka.
Haikal segera menghampiri calon Mama mertuanya. "Ma, gimana keadaannya Asna sekarang?" tanya Haikal.
"Pergilah ke lantai lima, ruangan paling ujung sebelah kanan, Asna di rawat di sana"
Tanpa berpikir panjang, Haikal ke lantai lima meninggalkan sang Kakak.
Di ruang poli jantung, hanya Asna seorang yang terbaring lemah di atas brankar. Asna yang tak berdaya, hanya diam menatap hampa langit-langit kamar rumah sakit. Bukan kali itu saja dia merasakan sesak, tapi sudah berulang kali. Namun, serangan kali ini berbeda dari sebelumnya.
Arah pandang Asna teralihkan saat Haikal perlahan menghampirinya. Stelan jas abu-abu masih melekat di tubuh pria itu. Tak ingin terlihat lemah, Asna berusaha mengulas senyum.
"Kamu tampan mengenakan stelan itu" ujar Asna memuji calon suaminya.
__ADS_1
Haikal terkekeh walau sebenarnya dia sedih. Dia yakin, Asna berusaha untuk membuatnya tertawa. Menarik langkah, Haikal duduk di samping Asna.