SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 55


__ADS_3

Banyak mahasiswi yang patah hati setelah Zulfikar mengatakan bahwa dia telah memiliki anak dan istri. Sekalipun begitu, ada sebagian mahasiswi yang masih berharap bisa menikah dengan sang dosen. Bukan hanya dari kalangan Mahasiswi, dari kalangan Dosen pun ada yang terpikat akan ketampanan Zulfikar.


Setelah mengajar di kelas A, Zulfikar kembali ke ruangannya. Pria itu mengirim pesan pada sang istri, menanyakan bagaimana keadaan mereka di Toko. Tak membutuhkan waktu lama, balasan dari Azahra pun masuk.


"Aku dan Zahira baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Masih aman kan? Ingat! Jaga mata dan hati"


Zulfikar terkekeh membaca balasan pesan dari istrinya. "Aman, Sayang. Hati ini hanya akan ditempati oleh kamu" balasnya dengan smile love hampir sepuluh.


"Modus! Sudah dulu, ada orang mau belanja"


Zulfikar hanya membaca dan tak membalas. Pria itu membiarkan ponselnya di atas meja sementara dia bergegas ke kelas C membawakan materi yang sama dengan kelas A. Belum selangkah, tiba-tiba beberapa pesan di aplikasi WA masuk. Zulfikar mengabaikan pesan masuk itu, dia yakin, itu pasti dari group.


Beberapa jam kemudian, Zul selesai mengajar di kelas C. Pria itu segera bergegas ke ruangannya. Benda pertama yang dia gapai adalah ponselnya. Seketika matanya membulat sempurna tatkala melihat belasan panggilan tak terjawab dari sang istri.


"Mati aku, bisa kena omelan ini" gumam Zul. Zul segera melakukan panggilan namun tak dijawab oleh Azahra. Perasaan Zul tiba-tiba tak tenang, segera ia mengambil tasnya, pamit pada rekan Dosen lalu pulang ke Toko. Jarak Toko dari Kampus sangat dekat, bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


Hanya butuh waktu dua menit, Zul sampai di depan toko. Pria itu tak langsung masuk, dia menarik langkah ke penjual Pop Ice, di sana, selain ada Pop Ice, ada juga pisang ijo.


"Azahra suka pisang ijo, dia juga suka Pop Ice coklat" gumam Zul.


"Mbak, pisang ijo 1 dan Pop Ice coklat 1 ya. Jangan dicampur boba" kata Zul pada Tante Bule. Ya, Tante bule karena wanita itu berparas seperti Bule.


"Iya, Zul" sahut Tante Bule yang sudah mengenal Zul.


Tak berapa lama menunggu, pesanan pun sudah jadi. "Zul, ini pesanannya" Tante Bule menyodorkan dua kresek berisi pisang ijo dan Pop ice.

__ADS_1


Zul menarik senyum, mengambil pesanannya lalu membayar tagihan. Kemudian ia menggiring langkah ke toko, di sana, dia mendapati istrinya tengah mengepak barang yang akan di kirim di Jeneponto lewat ekspedisi JNE dekat Toko.


"Sayang, itu apa?" tanya Azahra meninggalkan pekerjaannya. Mencium tangan suaminya lalu mengambil kresek yang berisi menu kesukaannya itu.


"Maaf, tadi aku ninggalin ponsel di meja kerja jadi aku nggak tahu kamu nelepon" ungkap Zulfikar memelas.


"Nggak Papa, lagian tadi aku hanya mau minta kamu singgah belikan sukun goreng di BTN Hamsi" jelas Azahra.


"Zahira, ayo sayang, Papa belikan kita pisang ijo" ajak Azahra dengan wajah berseri seri. Zahira yang namanya dipanggil pun segera menghampiri. Tepuk tangan juga tawa kecilnya membuktikan betapa senangnya gadis kecil itu.


"Mama, Mam" ucapnya bersorak girang. Sedetik kemudian ia kembali bertepuk tangan.


Zulfikar ikut bahagia saat melihat rona bahagia di wajah istri dan putrinya. Hanya bermodal es pisang ijo dan pop ice dia bisa melihat tawa kecil Zahira juga senyum manis Azahra.


"Sayang, ayo kita nikmati bersama" ajak Azahra.


Azahra memisahkan sebagian pisang di piring kecil Zahira. Melihat piringnya terisi makanan, Zahira kembali cekikan. "Mama, Mam ... Aaa" Zahira membuka mulutnya.


Tersenyum, Azahra mulai menyuapi istrinya. Ditengah kegiatan keduanya, Zul memperhatikan mereka. Lewat penglihatannya, dia melihat Azahra tak kunjung menyuapi dirinya sendiri, dia lebih fokus menyuapi putrinya.


Zul mengambil piring mangkok, uang lima ribu, kemudian bergegas ke luar. Saat kembali, ia datang membawa pisang ijo di piring mangkok. "Ini untuk kamu" kata Zul.


Di lain tempat, Asna dan Haikal sedang bertengkar hebat di kamar. Di luar, ada Taufik yang tanpa sengaja mendengar. Taufik yang mendengar isak tangis sang Mama, pria kecil itu membuka pintu yang tidak tertutup rapat.


"Jangan marahin Mama ..." seru Taufik menghadang sang Papa. Lalu ia berbalik menatap Asna yang dengan cepat menyeka air matanya.

__ADS_1


Seringkali terdengar istilah “Kesetiaan seorang istri akan diuji ketika suaminya tidak memiliki apa-apa, sedangkan kesetiaan seorang suami akan diuji ketika ia memiliki segalanya"


Istilah itu sedang melanda keluarga kecil Asna dan Haikal. Haikal, pria yang memilih mengakhiri masa lajangnya diusia muda itu, dipergoki istrinya sedang melakukan panggilan video bersama seorang wanita. Saat Asna bertanya itu siapa, Haikal menjawab teman kerja. Lantas, Asna bertanya, kenapa harus dia mengenakan pakaian terbuka saat melakukan panggilan video. Karena pertanyaan itu, keduanya berdebat.


"Sayang, Papa nggak marah" Asna menyeka air mata putranya.


"Taufik dengar, Papa marahin Mama" ungkap Taufik.


"Taufik, Sayang. Papa nggak marahin Mama. Tadi Papa dan Mama lagi latihan" jelas Haikal berbohong.


Tangis Taufik mereda lalu memeluk Mama dan Papanya. "Jangan berantem seperti Mak Ning dan Pak Dung. Taufik nggak suka"


Asna menggendong putranya yang sudah besar. Membawanya keluar dari kamar. "Taufik tahu dari mana Pak Ding dan Mak Ning berantem?" tanya Asna. Pasalnya dia tak pernah membawa Taufik jalan-jalan di rumah tetangga mereka yang bernama Pa Dung dan Mak Ning itu.


"Taufik lihat, Pak Dung marahin Mak Ning. Mak Ning nangis lari-lari" jelas Taufik bercerita.


"Ya Allah, cukup aku yang menjadi anak broken home, jangan lagi putraku. Ya Allah, jauhkan suamiku dari wanita penggoda. Aamiin" batin Asna berdoa.


"Mama, Taufik Sayang Mama dan Papa" Taufik memeluk erat sang Mama. Mata Asna kembali berkaca kaca. Dia masih sangat muda, namun tanggung jawab mengharuskan dia untuk bersikap dewasa. Bukan hanya dia, Haikal pun begitu. Perubahan Haikal terlihat saat ada anak magang di Apotek Wahda yang dibangun oleh Faisal. Sejak kehadiran sosok wanita itu, Haikal mulai pulang larut malam. Dan paginya dia pergi lebih awal dari biasanya.


Menjelang magrib, Zulfikar menutup toko. Dia dan keluarga kecilnya pun kembali ke rumah. Hanya 5 menit diperjalanan, mereka sampai di rumah. Setibanya di rumah, Zul menggendong Zahira membawanya masuk ke dalam.


"Papa, nain" ajak Zahira menunjuk mainan masak-masak.


"Sayang, kamu temani Zahira dulu ya. Aku mau ke dapur dulu, mau memasak" ucap Azahra.

__ADS_1


"Besok saja baru memasak. Malam ini kita makan di luar" ujar Zulfikar.


Azahra menarik senyum, kalimat itu yang dia suka dengar.


__ADS_2