
Sepeninggal Azahra, terjadi perdebatan sengit antara Zulfikar dan Kulsum. Berawal dari peringatan Azahra hingga menjadi boomerang antara Zulfikar dan sang kekasih. Zulfikar menegur Kulsum mengenai penampilan gadis itu. Namun Kulsum tak terima dengan teguran Zulfikar. Hingga perdebatan itu membuat Zul marah.
Lelah berdebat dengan Kulsum, Zul memilih pergi tanpa tujuan. Kulsum selalu menang bila berdebat dengan Zul, pria yang dibutakan oleh cinta. Melewati jalanan kota, Zul melihat Azahra bersama seorang wanita. Hati Zul tersentuh melihat kegigihan Azahra dalam mengais rezeki.
"Andai Kulsum bisa seperti Azahra" batin Zul. Pandangan pria itu teralihkan pada Asna yang mengenakan kerudung sama yang dengan Azahra.
"Mungkin itu yang bernama Asna" gumam Zul mengurangi kecepatan motor yang dikendarainya.
Di atas motor, Azahra fokus berkendara. Sementara Asna fokus berbalas pesan dengan customer yang berada di jln Pampang dua. Untuk ke alamat tersebut, Azahra tak perlu menggunakan geogle maps, dua tahun lebih terjun dalam dunia bisnis online, membuatnya menghafal nama-nama jalan yang ada di kotanya. Bahkan lorong kecil pun gadis itu tahu.
"Na, minta Ibu itu keluar. Sekitar 50 meter lagi kita sampai" ucap Azahra.
"Kata si Ibu beliau sudah di depan rumah" jawab Asna memberitahu. Dan benar saja, customer bernama Yonna ada di depan rumah.
Azahra mengeluarkan paket milik Ibu Yonna, menyerahkannya pada sang sahabat. "Total tagihan 95 ribu" kata Azahra memberitahu.
Asna mengangguk. Segera menghampiri pembeli. "Selamat pagi menjelang siang" Asna menyapa.
"Pagi, Dek" jawab Ibu Yonna menarik senyum. Dilihat dari kalung yang dikenakannya, Ibu Yonna bukan seorang muslim.
"Bu, ini paketnya. Totalnya 95 ribu" Asna memberitahu.
Ibu Yonna mengambil paket yang disodorkan Asna. Dan tak lupa memberi selembar uang kertas dengan nominal seratus ribu. "Ambil saja kembaliannya, Dek"
"Nggak perlu, Buk. Ini aku punya uang lima ribu" Asna tak enak hati menerima walau hanya lima ribu.
"Nggak papa" kata Ibu Yonna.
"Makasih ya, Buk. Kami permisi dulu"
__ADS_1
Asna menghampiri Azahra. "Za, Ibu yang tadi ngasih 100 ribu dan nggak mau ambil uang kembalian" Asna memberitahu.
Azahra menarik senyum. Dia sering bertemu dengan custamer yang berlaku seperti Ibu Yonna. Entah mereka mengasihani Azahra atau uang 5 ribu tidak berharga bagi mereka. "Anggap saja mereka bersedekah" kata Zahra.
Azahra dan Asna kembali melanjutkan perjalanan. Dari satu alamat ke alamat yang lain. Dari satu kompleks ke kompleks yang lain. Saat adzan dzuhur terdengar menggema dari arah Masjid Raya Makassar, Azahra yang sementara menyetir, memasuki area perkiran. Setelah keduanya melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Pukul 3 sore, semua paket habis diantar pada custamer. Kini giliran Asna yang menyetir pulang. Dalam perjalanan pulang, Azahra memeluk sang sahabat. Ingin rasanya dia berbagi cerita tapi dia sadar, beban yang dipikulnya mengenai harkat dan martabat suaminya.
"Ya Allah, kuatkan aku dalam menjalani ujian ramah tangga ini" batin Azahra.
Setibanya di rumah Asna, Azahra pun ikut masuk. Lelah, wanita itu merebahkan diri di sofa tuang keluarga dimana Nenek Leli sedang menyaksikan siaran televisi.
"Sana istirahat di kamar" ujar Nenek Leli.
"Di sini aja, Nek. Aku suka dengar ocehan orang di televisi, jadi cepat tidur" kata Azahra.
Nenek Leli terkekeh, begitu juga dengan Asna. "Zah, makan dulu yuk. Nanti baru istirahat" Asna mengajak.
Di lain tempat, Zul tengah bekerja di caffe Perintis samping kampus STIMIK Dipanegera. Dan tak lama lagi, dia akan pulang ke rumah. Membuatkan pesanan, lalu mengantarnya pada meja 9.
"Silahkan dinikmati" ucap Zul.
Si pemesan cofee capucino, hanya menarik senyum disusul anggukan kepala. Dan tak lupa mengucap terima kasih pada Zul yang tampan.
Zul kembali ke dapur, merogoh ponselnya, pris itu berniat menghubungi sang kekasih. Mengingatkan dia untuk memasak. Panggilan pertama, nomor sang kekasih diluar jangkauan.
"Kemana sih ini anak. Kenapa nomornya nggak aktif sih!!" Zul mengumpat dalam hati.
Waktu pulang pun tiba, Zul bersiap siap untuk pulang. Keluar dari pintu caffe, Zul melihat Azahra seorang diri. Dia yakin, Azahra akan pulang ke rumah. Segera Zul menaiki sepeda motornya, menyetir dengan hati-hati karena dia lawan arus.
__ADS_1
Mengambil jalan pintas, Zul bertemu Azahra di lorong masuk kompleks. Azahra menarik senyum saat Zul menatapnya.
"Stop bentar" pinta Zul. Azahra mengindahkan, segera wanita itu berhenti di depan Rumah Makan Mas Eki, penjual aneka makanan yang berasal dari Jawa Timur.
"Ada apa, Kak?" tanya Zahra.
"Kamu udah makan?" tanya Zul.
"Belum. Kenapa memangnya?" tanya Azahra lagi.
"Ya udah, kita makan di luar saja" Kata Zul mematikan mesin motornya. Azahra menurut, segera wanita itu turun dari motor. Keduanya mengambil tempat di bagian depan.
Seorang pelayan datang. "Mas dan Mbak mau pesan apa?"
"Dek, kamu mau apa?" tanya Zul pada sang istri.
"Ayam lalapan, minumannya es teh" jawab Azahra.
Zul menatap sang pelayan. "Ayam lalapan dua ya, Mas. Minumannya sama"
"Baik, Mas" sang pelayan pergi.
Azahra ingin tak bersuara, tapi dia malu. Malu bila orang lain menganggap dia dan Zul berkelahi hingga tak ada percakapan diantara keduanya. Mau tidak mau, Azahra mencari topik yang enah dibahas saat ini juga.
"Tadi Mama menelepon saat aku masih ngantar paket. Mama nanyain Kakak. Aku jawab Kakak baik-baik aja" ungkap Azahra.
"Kamu nggak bilang soal tadi ke Mama kan?" Zul bertanya serius.
Azahra menarik senyum. "Nggak. Lagian untuk apa aku melapor. Nggak ada untungnya buat aku"
__ADS_1
Kedatangan sang pelayan mengakhiri percakapan keduanya. Azahra segera makan karena memang dia belum makan sedari tadi. Saat di rumah Asna pun Azahra tak makan. Bukannya tidak mau, tapi dia harus tiba di rumah sebelum pukul 5 sore.