
Sejak menjadi dosen, Zulfikar banyak berubah. Seperti pagi ini, setelah shalat subuh, Zulfikar menjemur pakaian yang telah dicuci oleh istrinya. Tak hanya itu saja, dia juga merapikan mainan Zahira lalu membersihkan rumah.
"Semoga saja ini awal yang baik" batin Azahra berharap.
Dulu, jauh sebelum dia menikah, dia mengimpikan suami yang dapat membimbingnya menjadi lebih baik lagi. Suami yang mau saling membantu baik dalam keuangan maupun pekerjaan rumah. Selain itu, dia bertekad akan membangun rumah sebelum dia menikah. Mengapa? Karena dia tidak mau tinggal dengan mertua ataupun orang tuanya. Alasan pertama, dia tidak mau masalah rumah tangganya diketahui keluarga. Kedua, dia malu bila bangun terlambat. Ketiga, alasan ketiga seperti yang saat ini Zulfikar kerjakan. Membantu mengurus anak juga membereskan rumah.
Sayangnya, sebelum dia membangun rumah, dia telah dinikahkan dengan Zulfikar. Pria yang sempat membuat Azahra membenci Papa Giman. Dan sekarang, pilihan Papa Giman bersikap seperti pria idaman Azahra waktu dulu.
"Mama ... Papa ..." Zahira memanggil. Zul yang sementara menyeruput kopi yang dia buat sendiri, pria itu menghampiri putrinya di kamar.
"Anak Papa udah bangun ya. Gimana, nyenyak nggak tidurnya?" Zahira mengangguk seraya mengucek matanya.
"Papa ..." panggilnya dengan suara parau. Kedua tangannya pun terbuka lebar minta digendong. Segera Zulfikar menggendong putrinya. Berhubung dia mengajar pukul 9:40 AM, maka Zul memiliki waktu untuk memanjakan putrinya.
Pukul 08:21 AM, Zulfikar mengantar anak dan istrinya di Toko Rezeki sekalian dia lanjut ke Kampus. Setibanya di Kampus, dia di hadang oleh seorang mahasiswi cantik yang tak lain adalah primadona Fakultas Sospol, mahasiswi tingkat akhir yang meminta bantuan Zul. Dimana Zul diminta memeriksa skripsi yang wanita itu buat sebelum dia pergi konsul di Pembimbingnya. Zulfikar yang baik hati dan tidak sombong, mengatakan bahwa dirinya memiliki jam mengajar, setelah mengajar dia bisa menemuinya di ruangan Dosen.
"Apa yang kamu isi pada bab satu sudah bagus. Pendahuluan memang seperti ini, ringkas dan padat. Penempatan titik koma juga sudah pada tempatnya. Saya yakin, pantulan mu tidak akan banyak"
"Bagaimana dengan Bab dua, Pak?" tanya Siti, si primadona Fakultas. Siti kerap mencuri pandang. Besar harapannya jika dosennya itu tertarik padanya. Tak mengapa dia menjadi istri kedua, menjadi simpanan pun dia mau asal dinafkahi.
Zul membuka Bab dua. Ia mulai membaca sambil memperhatikan titik komanya. Tak terasa, sudah sejam dia menghabiskan waktu bersama Siti.
"Untuk Bab dua kamu tambahkan bahan tapi dari literatur lain selain dari yang sudah kamu masukkan" ucap Zul. Zul melirik jam pada pergelangan tangannya. "Saya harus mengajar sekarang. Jika kamu mau konsul sekarang silahkan cari pembimbingmu. Jika mau tambahkan literatur dulu juga bisa" tambahnya.
"Pak, bisa saya ke rumah Bapak?" tanya Siti setelah berpikir panjang.
"Bahas skripsi mu?" Zul balik bertanya.
"Iya, Pak" sahutnya membenarkan. Walau jawaban yang sebenarnya bukan itu.
"Nanti di kampus saja ya. Besok setelah Dzuhur" ucap Zul kemudian pergi mengajar.
__ADS_1
Pukul 3 sore, Zul bersiap pulang setelah membawakan materi di kelas B yang tak lain adalah kelas Mahasiswa Baru. Sebelum menjemput istri dan anaknya, Zul mengendarai sepeda motornya ke BTN Hamzi membeli sukun goreng. Sukun pun dibeli sebanyak lima ribu, moleng lima biru dan tahu isi lima ribu.
Ditengah semangatnya menunggu, tanpa sengaja Zul melihat Haikal di atas motor bersama seorang wanita, dan itu bukan Asna.
"Apa Haikal jadi driver ojol sekarang? Tapi ... Kenapa wanita tadi memeluk Haikal? Itu pasti bukan Haikal" gumam Zulfikar.
Zul mengambil belanjaannya. Dan mulai mengendarai sepeda motornya menuju Toko. Dalam perjalanan pria itu masih memikikan apa yang tadi dilihatnya. Besar harapan itu bukan Haikal. Tapi bagaimana jika itu Haikal? Asna akan terluka. Pikir Zul. Zul menepikan motornya di depan Toko, segera pria itu masuk ke dalam dan tak lupa mengucap salam.
"Papa ... Papa ... tu ..?" Zahira menuntuk kresek berisi gorengan tadi.
"Ini gorangan, Sayang. Nanti Papa suapin ya, tapi tunggu Papa ambil piring sekalian Papa cuci tangan dulu" jelas Zul pada sang putri yang kini berbinar bahagia.
"Sayang, ada sukun nggak?" tanya Azahra berjalan menghampiri. Wanita itu mencium tangan suaminya.
"Ada" sahut Zul menarik senyum.
"Biar aku yang ambil piring, kamu cuci tangan saja" Azahra mengambil kresek dari tangan suaminya.
Zul masih mengingat tentang Haikal, pria itu ragu memberitahu Azahra. Tapi, dia juga ingin memastikan apa yang tadi dia lihat. Jika benar itu Haikal, maka mereka harus bertindak. Terlebih Assagaf, dia harus menasehati adiknya.
"Bisa, bahkan aku bisa hubungi Zul langsung" sahut Azahra.
"Ya sudah, terserah kamu deh. Tapi coba kamu tanya, dimana Haikal sekarang?"
Azahra mengerutkan keningnya. "Sayang, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku?" tanyanya sambil menyuapi Zahira.
"Nanti aku cerita, tapi tunggu Zahira makan dulu" ucap Zul.
Usai menikmati gorengan, Zahira kembali bermain. Kini giliran Azahra menangih penjelasan. "Sayang, cepat cerita" desaknya.
Zulfikar menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan. Lalu ia pun mulai bercerita. Mendengar cerita suaminya, Azahra juga ikut marah. Setahu Azahra, Haikal mencintai Asna, lantas kenapa dia selingku?
__ADS_1
"Kok bisa dia selingkuh?" gumam Azahra masih tak percaya
"Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu dan cinta juga bisa hilang seiring waktu. Hanya orang-orang tertentu yang mampu menjaga pandangan dan menjaga perasaa pasangan. Dan aku berharap, salah satu orang itu adalah kita" ucap Zul.
"Aamiin" sahut Azahra.
Di lain tempat, Irwan yang juga berada di jalan sehabis dari Kampus juga melihat Haikal bersama wanita yang dilihat Zulfikar. Pria itu menahan marah, bukan karena dia cemburu, tapi dia tak terima bila Asna dikhianati.
Irwan melajukan motornya mengejar Haikal. "Menepi!" titah Irwan.
Wanita yang sementara memeluk erat Haikal, segera menjauhkan dua gunung kembarnya dari tubuh Haikal. "Sayang, dia siapa?" tanya wanita itu.
"Sahabat aku" jawab Haikal. Haikal menepikan motornya depan Kampus UMI. Dia yakin, Irwan akan menghajarnya habis habisan.
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
"Berani beraninya kamu khianati sahabat kita!!" pekik Irwan tak perduli dengan orang-orang melihat mereka. "Dia istrimu!" tambahnya mencengkram kuat leher baju sang sahabat.
"Lepas! Apa kamu sudah gila!" seru Dea, ya, wanita itu namanya Dea.
"Ya, aku sudah gila! Dan kamu" Irwan menatap tajam Dea. "Apa kau tahu dia sudah menikah?" tanyanya memekik.
"Aku tahu, memangnya kenapa?!" Dea menantang.
Darah Irwan mendidih. Ingin rasanya dia melempar selingkuhan Haikal di Planet Pluto. Marah, Irwan melepas cengkraman tangannya dengan kasar.
"Kenapa kamu nggak balas?!" pekik Irwan pada Haikal.
__ADS_1
Haikal hanya diam tanpa membalas. Pria itu menyeka sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Urusan kita belum selesai, aku akan memberimu pelajara. Tunggu saja kau, Haikal!" Irwan naik di atas motor, menyalakan mesin motornya lalu pergi dari sana.