SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 11


__ADS_3

Menyesap teh hangat, Azahra terus diam. Tak ada yang perlu dibicarakan. Semuanya sudah jelas. Bahkan sangat jelas. Maka dari itu, tak ada topik cerita dalam kepala Azahra.


"Aku udah nemuin indekos untuk Kulsum jadi dia nggak akan tinggal lagi dengan kita di sini" ungkap Zul setelah cukup lama terdiam.


"Hmmm" kembali Zahra menyesap teh hangatnya hingga tandas.


"Kak, apa masih ada lagi yang mau Kakak katakan? Kalau nggak ada lagi, aku mau masuk istirahat" tanya Azahra yang pada dasarnya sedikit tidak sehat.


"Nggak ada lagi" jawab Zul berbohong.


Zahra mengangguk. Segera beranjak dari sofa menuju dapur. Setelah membersihkan gelas yang digunakannya, Azahra kembali ke kamar. Tak lupa mengunci pintu, ia segera menggiring langkah menuju tempat tidur.


Memejamkan mata indahnya, Azahra mulai hanyut dalam mimpi. Hingga pukul dua malam, wanita itu terbangun karena menggigil. Menarik selimut hingga menutupi seluruh tidurnya, namun rasa dingin itu masih terasa menyeruak.


Jam 4 pagi, Zahra menarik diri untuk bangun walau tubuhnya terasa lemas. Cepat-cepat ia ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan membilas wajah. Mengambil air wudhu, kemudian menunaikan shalat tahajud. Selanjutnya ia mengaji hingga tiba waktu shalat subuh.


Suara merdunya menyita perhatian Zulfikar yang tidak tidur semalaman. Memikirkan setiap kata demi kata yang keluar dari mulutnya di hari kemarin, rasa bersalah itu menghampiri hingga membuatnya terjaga. Dering ponsel Zulfikar membuyarkan lamunan pria itu. Segera dia menerima panggilan masuk yang tak lain dari Kulsum.


"Aku di luar sekarang" kata Kulsum.


"Iya tunggu bentar" Zul beranjak dari pembaringan. Menarik langkah ke ruangan tamu, membukakan pintu rumah, membuka gembok pagar, kemudian mempersilahkan Kulsum masuk.


"Kamu! Di panggil panggil kok nggak dengar!" cecar Kulsum memasuki rumah tanpa mengucap salam. Zul menggelengkan kepala. Menutup pintu, pria itu menyusul Kulsum ke dalam. Di waktu yang sama, Azahra keluar dari kamarnya.


Mengambil sapu, Azahra mulai menyapu rumah hingga bersih. Setelahnya, dia ke dapur melihat bahan makanan di kulkas. Mengeluarkan sayur buncis dari dalam, Zahra mulai mencuci dan memotongnya.


"Kul, sana bantuin Zahra masak" titah Zul yang sementara di sofa menyaksikan siaran televisi.


Kulsum yang sementara memainkan ponsel, wanita itu mendengus kesal. "Kenapa harus dibantu? Dia kan sepupu kamu, ya wajarlah dia memasak" cecar Kulsum beranjak dari sofa lalu masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Zulfikar mulai dilanda emosi. Pria itu menyusul Kulsum di kamar. Dari arah dapur, Azahra mendengar keduanya bertengkar hebat. Sama samar terdengar Zulfikar membahasa panggilan telepon yang menyebabkan Aira dan Kurniawan marah hingga pergi dari kontrakan. Tak ingin mencampuri urusan keduanya, Zahra dengan telaten menyelesaikan pekerjaannya.


Hingga pagi pukul 6. Zahra sudah siap dengan pakaian seragam sekolahnya. Dia yang berencana berpamitan, mengurungkan niat saat melihat kamar Zulfikar berantakan. Membalikan badan untuk pergi, ia berpapasan dengan Zulfikar yang akan masuk ke kamar.


"A_Aku ..."


Zulfikar faham. Segera ia mengulurkan tangannya. Dengan cepat Zahra mencium tangan suaminya. Mengucap salam, kemudian pergi.


"Apa orang pacaran seperti itu?" gumam Zahra mengeluarkan motornya dari garasi.


"Dek, ini" Zul menyodorkan uang selembar dengan nominal 50 ribu.


"Buat beli ikan?" Tanya Zahra mengambil uang dari tangan Zul.


"Bukan, buat kamu jajan" Jawab Zul.


"Tapi ..."


"Mana untuk aku? Jika Zahra 50 maka aku 100" Kulsum mengulurkan tangan meminta.


Zulfikar melewatinya. "Semalam sudah aku transfer jadi jangan meminta lagi" ujarnya melenggang masuk ke kamar. Pagi jam 8 nanti dia ada jadwal kuliah.


"Pelit bangat sih kamu!" Kulsum menendang pintu kamar Zulfikar.


Kesal, Zul keluar kamar menemui Kulsum. "Kamu kira aku bank? Aku kerja buat bayar uang SPP kamu, perbaiki nilai mu, beli ini itu, dan kamu bilang aku pelit!!" teriak Zulfikar.


Kulsum berdecih. "Kalau kamu merasa terbebani, ya jangan bayar uang SPP ku dan yang lain" dengan santainya Kulsum berkata lalu masuk ke dalam kamarnya.


Zulfikar mengusap wajahnya dengan kasar. Tak ingin semakin marah, Zul kembali ke kamarnya. 30 menit kemudian, dia sudah siap berangkat ke kampus. Tinggal sepatunya saja yang belum dipakai.

__ADS_1


"Kul, besok pagi kamu beres-beres. Mulai besok malam, kamu tidur di indekos lamamu" Zul memberitahu seraya mengenakan sepatu.


"Aku nyaman di sini jadi biarkan aku tinggal di sini. Aku janji, aku nggak akan nyusahin Zahra maupun kamu" ucap Kulsum melewati Zulfikar.


Di Sekolah, Zahra tertawa bersama teman-temannya di kelas. Canda dan tawa, menghiasi hatinya yang sempat tertoreh. Andai dia bisa mengembalikan waktu, dia ingin kembali ke masa dulu. Jauh sebelum Papa Giman memberitahunya tentang perjodohan yang diusulkan oleh Mama Aira dan Papa Kurniawan.


Haikal, Zahra, Asna, Geovani dan Irwan, mereka duduk dibawa pohon yang tumbuh rimbun di lingkungan sekolah. Petikan gitar yang dimainkan oleh Haikal, serta lagu yang dinyanyikan oleh Irwan, membuat Zahra hanyut dalam syair lagu tersebut.


Lagu cinta, entah siapa penulisnya. Mengisahkan kisah pasangan yang menikah karena perjodohan. Tak ada kebahagiaan melainkan derita. Maju salah, mundur pun salah.


"Zah, kamu kok nangis" ucap Geovani saat melihat Zahra menyeka bulir bening yang sempat jatuh.


Zahra terkekeh. "Lagunya sedih bangat tahu" ucapnya.


"Tapi nggak perlu nangis juga kali, Zah ... Kek ada di posisi itu aja" Haikal menimpali.


Geovani dan Irwan terkekeh. Sementara Asna hanya diam. Pikirannya berkelana pada hubungan Zahra dan suaminya. Apakah Zahra berada di posisi itu? Semoga saja tidak. Pikir Asna.


"Haikal, pinjam gitarnya dong. Udah lama aku nggak nyanyi. Story whatsapp ku tentang jualan mulu. Sekali kali tampil beda, iya kan?" ucap Zahra tersenyum.


"Ini" Haikal memberikan gitar pada Zahra. Zahra pun mengambilnya.


"Asna, jangan lupa video ya. Aku mau pasang story dulu" Ucap Zahra menyerahkan ponselnya pada sang sahabat. Asna pun mengindahkan.


Petikan gitar, juga ekspresi wanita itu. Membuat Asna semakin yakin, sahabatnya sedang tidak baik-baik saja. Hingga lagu yang dinyanyikan oleh Zahra mendapat ribuan like di akun instagram Haikal. Lagu berjudul "Kekasih Tak Dianggap" Vokalis Pinka Mambo, cukup menyita perhatian para wanita yang berada di situasi yang sama. Video yang berhasil direkam oleh Haikal tersebut, dalam sekejap mata dibagikan oleh mereka yang sempat mampir mendengarkan.


Zulfikar yang berada di kampus, juga menonton video tersebut. Begitu juga dengan Qonita, Assagaf dan Kulsum.


"Udah cantik, sholeha, pandai masak, pandai main gitar pula" Qonita bergumam.

__ADS_1


"Suaranya bagus ya, Qo. Aku pernah dengar dia hafal surah panjang saat di dapur" Assagaf menimpali.


"Jangan menilai orang penampilannya. Tertutup belum tentu baik. Kali aja udah nggak perawan" Kulsum mencibir.


__ADS_2