
Azahra dan Zulfikar kembali melanjutkan agenda setelah dari kontrakan meletakkan barang belanjaan. Dan kini, mereka berada di atas motor membelah jalanan kota menuju Pantai Losari. Hanya beberapa puluh menit saja, keduanya sampai di tempat tujuan. Azahra masih ingat terakhir kali dia kesana, Pantai Losari belum sebagus sekarang juga belum seramai sekarang. Hingga dia pun berdecak kagum melihat ribuan pengunjung di sana.
"Kamu kenapa?" tanya Zul heran.
"Nggak, nggak kenapa napa" balas Azahra yang masih berdiri di samping motor.
"Lalu kenapa masih di situ?" tanya Zul lagi mengernyitkan alis juga dahi.
Membenarkan jilbabnya, Azahra menghampiri Zulfikar yang berdiri tiga langkah di depannya. Berjalan di samping Zul, namun sekali kali menatap sekilas para pasangan yang juga sedang jalan bersama pasangannya.
"Kak Zul, izinkan aku menggenggam tangan Kakak seperti pasangan yang lain" ucap Azahra yang dibalas senyum oleh Zulfikar.
Berkeliling di Pantai Losari yang dibanjiri lautan manusia, Azahra sekali kali mencuri pandang. Beberapa jam bersama Zulfikar, Azahra mengetahui satu fakta tentang pria itu, Zulfikar sangat royal. Dia, tanpa berpikir panjang membelikan ini dan itu untuk Azahra. Jagung bakar, bakso, somay, pop ice, kacang rebus dan beberapa jajanan lainnya. Memang makanan itu harganya murah, namun murah bila belinya di tempat lain, tidak dengan di area Pantai Losari.
Kekenyangan, mengakibatkan Azahra menguap berulang kali. Dia yang tadinya masih ingin berlama lama harus mengajak Zulfikar pulang.
"Kak Zul, ayo kita pulang. Mataku mulai sulit diajak bekerja sama" ucap Azahra, sedetik kemudian dia kembali menguap.
"Ya sudah, akhir pekan nanti kita kesini lagi. Sekitar jam ..." Zul berpikir sejanak. "Jam setengah lima biar bisa lihat sunset di sini" sambungnga tersenyum kearah Azahra. Sepanjang langkah menuju tempat parkir, Zulfikar tak segan menggenggam erat tangan Azahra. Baginya itu hal biasa, tapi tidak dengan Azahra yang menganggap perjalanan mereka kali ini adalah kecan pertama mereka.
"Tunggu disitu" titah Zulfikar. Sementara dia mengeluarkan motor yang terjebak diantara ratusan motor yang terpakir. Dibantu oleh tukang parkir, Zul berhasil mengeluarkan motornya.
Setibanya di rumah, Azahra masuk ke kamar disusul oleh Zulfikar. Zulfikar langsung merebahkan diri sementara Azahra masuk ke kamar mandi menyikat gigi sekalian membilas wajah dengan sabun sebelum tidur.
"Kak Zul, Kakak mau tidur di sini?" tanya Azahra saat mendapati Zulfikar tidur di kamarnya.
"Hmm" balas Zul singkat.
__ADS_1
Azahra mengangguksan kepala, segera ia mengambil tempat di samping Zulfikar. Menatap lekat wajah pria di sampingnya, Zahra yakin, Zulfikar masih patah hati. Dan sebagai sahabat juga rekan yang baik, dia akan membantu Zulfikar melupakan Kulsum.
"Zahra, aku tahu aku tampan. Tapi bisakah kau tidur sekarang? Aku malu dilihatin terus" ucap Zulfikar menatap manik mata Azahra.
"Siapa juga yang tatap Kaka!" kilah Azahra segera merubah posisi.
Zulfikar terkekeh. Kembali ia memeluk Azahra seperti awal mula mereka tinggal di kontrakan. "Selamat tidur, Zahra" ucap Zul sekilas mengecup kepala Azahra.
.
.
.
Waktu begitu cepat bergulir, tak terasa sudah dua minggu Azahra dan Zulfikar tidur bersama. Bahkan keduanya mulai akrab seperti Kakak beradik. Tak ada lagi rasa canggung, apalagi panggilan mendadak dari wanita lain.
Sore hari, Zulfikar pulang dengan rona wajah gembira. Beberapa puluh menit yang lalu dia gajian, dan uang itu akan dia gunakan untuk membeli sesuatu. Memarkirkan motor, Zulfikar masuk ke dalam rumah setelah mengucap salam.
"Kakak mandi dulu, nanti aku buatkan teh setelah ini" ucap Azahra yang sementara mengangkat seember pakaian yang baru selesai dibilas.
"Biar aku yang jemur" Zul mengambil alih ember tersebut. Kemudian ke depan menjemurnya. Sementara Azahra kembali ke dapur membuatkan teh untuk Zulfikar.
"Zahra ... jam delapan nanti temani aku ke TOKO RUMAHKU. Ada yang mau aku beli dan itu harus ada kamu" terang Zulfikar sambil menggantung pakaian di hanger.
Azahra yang baru selesai membuatkan segelas teh, segera menghampiri pria itu. "Kakak mau beli apa?" tanyanya sambil membantu Zulfikar.
"Jika kuberitahu sekarang kau pasti akan menolak, jadi nanti saja" jelas Zulfikar.
__ADS_1
Seperti kata Zulfikar saat menjemur pakaian tadi, kini keduanya telah berada di TOKO RUMAHKU. Seperti namanya, toko tersebut menjual peralatan isi rumah. Sengaja Zulfikar mengajak Azahra ke lantai dua toko, karena memang apa yang dia cari ada di lantai dua.
"Kita mau beli apa, Kak Zul?" tanya Azahra memicingkan mata.
"Mesin cuci" balas Zulfikar sedikit berbisik.
"Kenapa harus mesin cuci? Aku bisa mencuci pakaian secara manual. Aku masih muda, masih kuat" protes Azahra.
Sudah Zulfikar duga, Azahra pasti akan memprotes. Lalu, saat mereka ke Top Mode Azahra sempat mengecek harga mesin cuci. Dia mengutarakan niatnya pada Zulfikar namun Zulfikar melarangnya beli. Melarang bukanya Zulfikar mau Azahra terus terusan mencuci secara manual melainkan ia ingin membeli benda tersebuf dari hasil keringatnya. Dan tadi, dia baru gajian.
"Ini saja, yang otomatis. Sebelum ke sekolah bisa kamu masukkann pakaian di mesin cuci, pulang sekolah tinggal kamu jemur" ucap Zulfikar.
Menghela napas panjang, Azahra mengalah. Setelah membayar, mereka kembali ke kontrakan. Setibanya di kontrakan, Zulfikar menyempatkan waktu menggembok pagar sementara Azahra langsung ke dalam rumah.
Di dalam, ia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi galeri, mata dan jari lentiknya terfokus mencari kelender Sekolah. Ditatapnya kalender tersebut cukup lama hingga ia tak menyadari kehadiran Zulfikar.
"Nggak lama lagi aku akan ujian" batin Azahra. Dia yang tadinya gembira dibelikan mesin cuci, sedetik kemudian termenung. Merenungi dirinya yang tidak lama lagi akan menjadi janda diusianya yang terbilang sangat muda.
"Kapan ujian?" tanya Zul menyadarkan Azahra dari lamunannya.
"Beberapa bulan lagi" jawab Azahra nampak tak bersemangat. Janda muda? Dua kata itu yang paling dominan tergiang ngiang diingatannya.
"Semangat dong, kan tinggal beberapa bulan lagi" Zulfikar menyemangati tanpa dia tahu penyebab Azahra tak bersemangat.
"Iya, Kak Zul, ayo kita tidur, besok aku mau ke Sekolah" Zahra beranjak dari sofa disusul oleh Zulfikar.
Author: Maaf ya, baru bisa Up sekarang. Tadinya mau mengetik tapi ada kesibukkan mendadak. Oh ya, jangan lupa mampir di Novel "Istri Nakal Dokter Asiz"
__ADS_1