
Keesokan harinya, minggu.
Di rumah Papa Giman begitu ramai. Mama Aira sekeluarga datang berkunjung di rumah besannya. Bukan hanya Mama Aira, Asna dan Taufik juga Assagaf dan Arumi juga datang. Kelompok orang dewasa berada di ruang keluarga, sementara kelompok anak kecil berada di kamar Berlin. Mereka yang kelompok anak kecil tak kalah hebohnya dengan kelompok orang dewasa.
"Kita ke Pantai Nusara yuk, mandi mandi sekalian bakar-bakar ikan di sana. Bila perlu kita bermalam di sana. Bagaimana, kalian mau nggak?" Mama Aira menunggu jawaban.
"Aku setuju, udah lama bangat kita nggak jalan-jalan" Azahra setuju.
"Ayo kita bermalam di sana ya. Nanti kita bawa gitar, Asna dan Azahra yang main gitar aku menyanyi" ucap Mama Allice berbinar.
Ehem!! Papa Giman berdehem. "Aku jamin, kalian akan menangis saat mendengar istriku bernyanyi" Papa Giman menahan tawa.
Azahra dan keluarga telah berada di speed boat menuju pantai Nusara. Di dalam, ada Haikal yang masih terlihat seperti gembel. Bagaimana tidak, saat mereka semua hendak masuk ke dalam mobil, Haikal tiba-tiba keluar dari rumah Papa Giman. Ya, pria itu baru bangun tidur dan langsung ditarik oleh Mama Allice.
"Beb, coba kamu lihat Haikal. Tapi lihatnya sebagai bestie bukan sebagai mantan suami" bisik Azahra pada Asna. Asna melirik Haikal yang seperti orang gila, seketika tawa wanita itu pecah. Ia tertawa terbahak-bahak. Azahra yang melihatnya pun ikut tertawa.
"Ya Allah ... andai aku di dekatnya, sudah aku tabok kepalanya" ucap Asna lalu kembali tertawa.
"Sayang, kalian kenapa? Cerita dong, biar kami juga ikut tertawa" tanya Mama Aira.
"Ini Azahra, Ma. Masa dia bilang ___" Asna tak kuasa melanjutkan kata, wanita itu kembali tertawa setelah melihat Haikal versi sahabat.
"Aku tahu kalian berdua menertawakan aku" ucap Haikal merasa diri. 3 tahun dia berteman dengan Asna dan Azahra, dia tahu betul bagaimana dengan kedua temannya itu.
Zulfikar menahan tawa, begitu juga dengan Assagaf dan yang lainnya. Tak terkecuali Asna dan Azahra, kedua mama muda itu mengejek teman mereka. Diejek, Haikal mendengus. Ia berbalik menghadap lautan lepas.
"Aku senang melihatmu tertawa lepas. Aku mencintaimu, Asna. Bahkan sampai detik ini aku berharap kamu mau rujuk lagi denganku" batin Haikal.
"Papa" panggil Taufik.
Haikal kembali menoleh, mendapati putranya tersenyum. Haikal membalas senyuman itu, lalu menggendong putranya, mendudukkan sang putra di pangkuannya. Kemudian ia mulai menunjukkan pesona laut.
__ADS_1
Mereka yang ada dalam speed boat menatap iba Haikal, bahkan Asna pun mengasihani mantan suaminya itu. Tak berapa lama mereka pun sampai di Pantai Nusara.
Zulfikar turun terlebih dahulu, lalu menggendong istrinya agar tidak basa. Kemudian ia menurunkan anaknya, adiknya dan iparnya. Jangan tanya Taufik lagi, karena anak kecil itu masih bergelayut pada Papa nya. Semua orang sudah turun, tinggal Asna. Asna turun sendiri walau Haikal menawarkan bantuan.
"Pamali!" ucap Asna menekan dua kata tadi. Lalu meninggalkan Haikal yang berusaha menarik senyum. Haikal duduk seorang diri di bawah pohon kayu jawa menatap orang dewasa yang tengah mandi air laut.
"Sayang sini ..." Zulfikar memanggil Azahra. Pria itu telah berendam di air laut.
"Iya ..." Azahra berlari menghampiri. Wanita itu meletakkan kedua tangan dipundak suaminya. Zulfikar mulai menyelam, diatasnya ada Azahra yang juga ikut menggerakkan kaki.
"Papa ... aku juga mau ikut ..." rengek Zahira.
Zulfikar membawa istrinya ke tepi pantai, lalu memanggil putrinya. "Cepat Sayang ... kita buat istana di sini" ucap Azahra.
Zahira berlari kecil menghampiri. "Papa, dimana Mamanya Kak Ayumi?" tanya Zahira menatap Ayumi bermain ditemani Assagaf. "Kenapa Papa Taufik nggak ikut Taufik main sama Mama Taufik?" ia menatap Asna yang bermain berdua bersama anaknya, Taufik.
"Mama nya Kak Ayumi ada di langit. Dan ... Papa Taufik lagi malas main jadinya nggak ikut Kak Taufik dan Mama Taufik main" jelas Azahra.
Sementara membuat istana, Zahira menatap sekilas mama dan papa nya. "Papa, Mama. Aku nggak mau punya adik, jadi kamarnya jangan banyak ya" ungkapnya.
"Loh, kenapa? Punya adik itu bagus tahu, ada yang temani bermain" jelas Azahra membuat satu kamar besar.
"Aku nggak mau punya adik. Nanti mama dan Papa nggak sayang lagi sama aku" lirih Zahira menunduk.
Di bawah pohon kayu jawa, Haikal memantau mantan istrinya juga anaknya. Penyesalan itu kembali menyapanya. Ingin rasanya dia berteriak, memaki dirinya yang dulu. Dia masih ingat betul saat pertama kalinya dia gajian, dia memberikannya pada Asna, lalu ia berkata untuk selalu ditegur apabila ia membuat kesalahan. Dan di saat dia telah berada di jalan yang salah, dia tak menghiraukan teguran dari istrinya itu.
"Kenapa? Kamu masih mencintainya?" Papa Kurniawan tiba-tiba datang memegangi pundak Haikal lalu mengambil tempat di samping pria itu.
Haikal menarik senyum, ia menundukkan wajah sejenak kemudian mengangkat wajah kembali. "Iya, Om" sahutnya.
"Kenapa nggak minta rujuk?" tanya Papa Kurniawan lagi.
__ADS_1
"Aku mengenalnya. Itu sebabnya aku hanya diam memantau mereka" jelas Haikal.
Waktu makan siang pun tiba, Azahra mengambilkan makanan untuk suaminya juga untuk putrinya. Sementara yang lain ambil makanan masing-masing, terkecuali Ayumi, Berlin dan Naudira, mereka diambilkan oleh Asna.
Setelah makan, Zulfikar mengajak anak dan istrinya menelusuri tepi pantai. Rona bahagia terlihat jelas di wajah cantik Azahra juga Zahira. Zulfikar berdoa, semoga dia selalu bisa menjaga pandangannya. Semoga dia menjadi suami baik untuk anak dan istrinya. Kesalahan yang dia lakukan dulu akan dijadikannya pelajaran.
"Papa, aku kasihan pada Papa Taufik. Papa Taufik seperti orang di lampu merah itu" ucap sikecil Zahira.
"Papa Taufik begitu karena Papa Taufik nggak mandi" jelas Azahra.
"Hah .." mata Zahira membulat. "Jadi, kalau aku nggak mandi aku seperti Papa Taufik?"
Azahra mengangguk. Mendapat respon dari Mama nya, Zahira bergidik. "Mama, aku mandi 5 kali sehari ya, Ma. Biar aku nggak kaya Papa Taufik"
Zulfikar terkekeh, begitu juga dengan Azahra.
Masih di tempat yang sama, namun suasanya berbeda. Bila tadi Haikal duduk sendirian kini dia duduk bertiga, bersama mantan istri juga anak mereka.
"Papa, kapan kita seperti Zahira? Mereka jalan bertiga, bermain dan tertawa. Apa Mama dan Papa akan seperti ini terus?" Taufik menatap Mama lalu Papa nya.
Haikal terdiam, begitu juga Asna. Mereka tak tahu harus jawab apa.
Tak mendapat jawaban, Taufik terdiam. Ia beranjak pergi meninggalkan Mama dan Papa nya. Di bawah pohon, menyisakkan Asna dan Haikal. Canggung, Asna bersiap berdiri menyusul putranya yang pergi menemui Arumi dan Om Assagaf.
"Sampai kapan kamu akan menghukumku?" ucap Haikal menatap sayu mantan istrinya.
"Aku tidak menghukum mu . Tapi aku rasa kamu tahu betul bagaimana aku. Jadi hiduplah dengan baik, jangan seperti gembel seperti sekarang ini" jawab Asna.
"Asna, maafkan aku. Aku tahu kamu nggak sayang lagi sama aku, tapi bisakah kamu memberiku kesempatan?" lirih Haikal.
"Pernikahan itu bukan mainan, Haikal. Jadi carilah wanita lain jika memang kamu ingin membina rumah tangga" tegas Asna berlalu pergi.
__ADS_1