SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 8


__ADS_3

Memarkirkan motor di garasi, Azahra menarik langkah hingga ke kamar. Kedua kening wanita itu menukik naik saat mendapati Zulfikar di kamar tengah tidur. Azahra melirik jam dipergelangan tangannya sebelum mengganti pakaian seragam yang dikenakannya saat ini.


"Jam 3, aku punya waktu sejam untuk tidur siang" gumam wanita itu. Melihat Zulfikar terlelap, Azahra segera mengganti pakaian seragamnya. Kemudian merebahkan diri di samping Zul.


Bunyi alaramm membangunkan Azahra dari tidur nyenyaknya. Saat wanita itu membuka mata, ia tak mendapati Zul di tempat tidur. "Mungkin Kak Zul sudah kembali ke kamarnya" gumamnya sebelum beranjak dari sana.


Menggiring langkah ke kamar mandi, Azahra mengambil wudhu kemudian menunaikan shalat Ashar. Sesudah shalat, wanita itu keluar dari kamar dan mendapati Zul berkutak dengan note book di sofa.


"Dek, jam 6 nanti Kakak pergi kerja. Jam 11 baru pulang" Zul memberitahu dengan jari jemari yang berkutak pada keyboard.


"Oh iya, Kak" Azahra mengangguk paham. Segera menggiring langkah hingga ke dapur. Sebagai istri yang baik, dia harus menyiapkan makanan untuk suaminya sebelum pria itu berangkat kerja.


Waktu yang ditunggu pun hampir tiba, Zulfikar ke dapur setelah Azahra memintanya makan sebelum pergi kerja. Dengan senyum mengembang, pria itu menarik kursi lalu duduk. Setelah makan, Zulfikar membersihkan diri terlebih dahulu sebelum pergi kerja.


Susudah bersiap siap, Zul menemui Azahra di kamar yang sibuk mengerjakan tugas sekolah. "Dek, Kakak berangkat dulu ya" Zul pamit.


Azahra meraih tangan Zul lalu menyalaminya. "Hati-hati ya, Kak" ucapnya tersenyum.


"Iya" Zul segera keluar diikuti oleh Azahra hingga di depan pintu rumah.


"Kakak kerja di mana?" tanya Zahra sebelum Zul menyalakan mesin motornya.


"Di Caffe depan" jawab Zul menarik senyum.


Azahra mengangguk. Sepeninggal Zulfikar, Zahra segera masuk dan tak lupa mengunci pagar juga pintu utama. Entah dimana Kulsum, Azahra juga tak tahu dan tak ingin tahu.

__ADS_1


Di tempat lain, tepatnya di Pantai Losari, Kulsum dan beberapa teman-temanya yang dari Kampus lain, tengah mengambil gambar bersama. Cinta tulus seorang Zulfikar, tak membuat Kulsum setia pada satu pria. Nyatanya, pria dengan nama lengkap Ardi Ardiansyah adalah kekasih baru Kulsum.


Membuat janji bertemu, Kulsum mengindahkan ajakan sang kekasih. Dan kini, selain jalan bersama teman-temannya, Kulsum juga sedang menunggu Ardi yang katanya sudah di jalan Hasanuddin.


Kembali ke rumah. Azahra melanjutkan akrivitasnya yang sempat tertunda. Walau banyak tugas sekolah yang menumpuk, tak mengurangi semangat seorang Azahra untuk membalas pertanyaan pertanyaan dari calon custamer.


Hingga pukul 11 malam, Azahra belum tidur. Selain berbalas pesan dengan para calon custamer, Azahra juga berniat menunggu Zulfikar pulang. Bunyi motor yang berhenti di depan rumah, mengalihkan konsentrasi Azahra. Dia yang tadinya sibuk chattan, segera mengintip lewat jendela depan. Seulas senyum tersungging indah di wajah cantiknya. Akhirnya, dia yang ditunggu telah pulang.


"Assalamualaikum" Zul mengucap salam walau dia sendiri yakin, penghuni rumah sudah tidur. Apalagi lampu ruang tamu telah dimatikkan.


"Waalaikumsalam" jawab Azahra yang sementara duduk di sofa.


"Setan ...!!" teriak Zulfikar. Pria itu berlari ke dalam kamar Azahra tanpa melepas sepatu yang dikenakannya.


"Kakak mau langsung tidur atau mau dibuatkan sesuatu?" tanya Azahra berdiri di ambang pintu.


Zulfikar yang berada dibalik selimut, menurunkan selimut hingga bagian leher. "D_dek, k_kamu yang jawab salam?" tanyanya terbata.


"Iya" jawab Azahra dengan santai. Seketika senyum wanita itu mengembang. "Jadi itu yang buat Kakak berteriak setang? Hahahahahaha"


Cis! Zulfikar mendengus kesal. Mengibas selimut, ia turun dari ranjang menghampiri Azahra yang menertawakannya. "Dasar bocil" Zul menyentil hidung mancung sang istri.


Azahra terkekeh. "Kakak, mau aku buatkan apa?" tanya Azahra.


Zulfikar yang sementara memegang handle pintu, menoleh menatap Azahra. "Nggak perlu. Kamu tunggu Kakak di kamar ya, Kakak ganti pakaian dulu"

__ADS_1


Sesuai perintah, Azahra naik di atas tempat tidur. Merebahkan diri di samping kiri ranjang, wanita itu memainkan ponselnya sambil menunggu Zul datang.


Tak lama, Zul dengan bertelanjang dada memasuki kamar. Tanpa malu dengan penampilannya, pria itu merebahkan diri di samping Azahra.


"Kakak, pantas saja Kak Kul menyukai Kakak, nyatanya Kakak tampan dan cool" ungkap Azahra dengan jujur.


"Jadi ceritanya kamu udah jatuh cinta sama Kakak" Zul memiringkan tubuhnya menghadap Azahra.


"S_siapa bilang? Mana mungkin aku jatuh cinta pada kekasih orang lain" jawab Azahra dengan cepat.


Zulfikar terkekeh. "Bagus. Kamu nggak boleh jatuh cinta padaku. Kamu tahu sendiri kan, aku mencintai Kulsum" ucap Zul kembali membenarkan posisi tidurnya.


Azahra terdiam sesaat untuk berpikir. "Kak, ayo kita cerai"


Zul yang tadinya menutup mata, serentak membukanya lebar-lebar. "Maksud kamu?"


"Permikahan ini direncanakan dengan tujuan yang baik. Aku yang masih sekolah, dinikahkan agar ada yang menjagaku di kota ini. Sementara Kak Zul, adalah pria yang dipercayakan orang tuaku untuk menjagaku. Bukan hanya orang tuaku, orang tua Kakak pun menganggap Kakak bisa menjagaku. Dan aku mengakui itu, Kakak bisa menjagaku seperti Papa"


"Jujur, tinggal serumah dengan kekasih Kakak, membuatku ingin marah tapi aku tetap diam dan bersabar"


"Aku yakin, Kakak memenuhi permintaan Papa dan Mama juga karena terpaksa kan. Jadi mari kita akhiri. Dengan begitu, Kakak bisa menikahi Kak Kulsum. Dan aku, aku bisa memulai hidup baru tanpa menyaksikan kemesraan pria yang berstatus suamiku"


Zulfikar mencerna apa yang didengarnya. "Tunggu sampai kamu lulus baru kita bahas masalah itu" ucap Zul.


Azahra terdiam. Ia berbalik membelakangi Zulfikar. Menangis dalam diam, hingga ia terlelap.

__ADS_1


__ADS_2