SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 64


__ADS_3

Asna baru saja pulang dari pasar ditemani Taufik. Anak dan Mama itu terlihat seperti Kakak beradik. Bahkan keduanya kerap bercanda gurau. Ya, Taufik hanya akan terlihat bercanda saat bersama Mama dan Arumi, Tante nya. Dan dia akan irit bicara saat bersama Papa, Om dan orang lain.


"Ma, boleh aku ke rumah Tante?" ucap Taufik masih duduk di atas motor, sementara Asna akan membuka pintu rumah.


"Boleh, asal jangan pulang kesorean" sahut Asna sambil memasukkan kunci.


"Iya, Assalamualaikum" ucap Taufik.


"Waalaikumsalam" Asna menatap putranya yang semakin menjauh.


Dua puluh menit setelahnya, Taufik tiba di rumah Om Assagaf atau rumah almarhuma Neneknya. Taufik segera turun, kemudian menekan bel rumah, tak berapa lama terlihat Arumi membukakan pintu.


"Assalamualaikum, Tante" Taufik mencium tangan Tante Arumi. "Om ada?" tanyanya kemudian.


"Ada di dalam, Papa kamu juga ada di dalam" balas Arumi.


Taufik menggiring langkah dimana Assagaf berada. Begitu juga dengan Arumi. Di ruang keluarga, terlihat Assagaf dan Haikal sedang menikmati kopi di pagi hari menjelang siang. Taufik mencium tangan Papa nya, lalu Om nya.


Haikal, sejak penolakan Asna saat di Pantai Nusara, pria itu tak lagi seperti Haikal yang keluarga kenal. Dia masih Haikal yang pekerja keras, tapi dia bukan Haikal yang lima waktu lagi. Dia menjadi Haikal yang berteman dengan minuman keras. Gajinya sebagian ditabung untuk Taufik sebagian juga untuk membeli rokok dan minuman beralkohol.


"Mama kamu dimana?" tanya Haikal.


"Ada di rumah" jawab Taufik sekenanya saja.


"Kenapa nggak di ajak ke sini?" Tanya Haikal lagi.


"Nggak ada niat" jawab Taufik tanpa ekspresi.


Haikal menghela napas panjang. Melihat sang putra yang hanya tersenyum saat bersama Asna, Azahra dan Arumi, hati kecil Haikal memprotes. Entahla, sejak tahu penyebab perceraian orang tuanya, Taufik menjadi kurang srek pada wanita. Bahkan dia tidak suka Zahira yang suka genit.


"Terus, apa tujuanmu datang?" tanya Haikal lagi.

__ADS_1


"Jalan-jalan, mau ketemu Om dan Tante" jawab Taufik menyandarkan kepala di bahu sofa.


"Nggak mau ketemu Papa?" pertanyaan konyol itu terdengar dari mulut Haikal.


"Pa, jangan bersikap seperti anak kecil. Aku rasa Papa tahu apa yang aku inginkan" ucap Taufik menatap kesal sang Papa. Sekalipun dia tahu Papanya berkhianat tapi dia tetaplah orang tuanya. Pria yang patut dia hargai. Besar harapan melihat orang tuanya rujuk kembali.


Sore sekitar jam 5. Asna sedang mengistrahat tubuh setelah usai memasak juga mandi. Wanita itu menatap kosong langit-langit kamar. Pikirannya kembali menerawang masa lalu dimana dia dan Haikal tidur di kamar yang kini dia tempati. Haikal selalu berkata untuk selalu menegurnya bila pria itu berada di jalan yang salah.


"Aku sudah menugurmu, namun kamu acuh tahu" gumam Asna.


Ditengah masa lalu itu terekam kembali, ponsel Asna tiba-tiba berdering. Asna hanya menoleh pada ponselnya yang terletak di atas nakas. Ponselnya kembali berdering, dan ia kembali menatap ponselnya tanpa pergerakan sedikitpun. Untuk ketiga kalinya, Asna mulai meraih ponselnya.


"Taufik" gumam Asna, segera wanita itu menjawab panggilan. "Assalamualaikum, Sayang kamu dimana?"


"Waalaikumsalam. Asna, ke Rumah Sakit Sembuh sekarang, Taufik kecelakaan!" ucap Haikal terdengar tergesa gesa.


Prankkk!! Ponsel Asna jatuh di lantai. Tanpa memungutnya, janda muda itu segera mengenakan jilbab, mengambil jaket dan tak lupa dompet juga kunci motor.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, ia tak henti hentinya menangis dalam diam. Tak sabar melihat kondisi sang putra, Asna menambah laju kecepatan. Hanya beberapa belas menit saja, Asna tiba di Rumah Sakit Sehat. Dari kejauhan, ia melihat Assagaf bersama Arumi. Segera Asna menghampiri kakak beradik itu.


"Dia ada di dalam, kamu bisa masuk sekarang" jawab Assagaf.


Asna segera masuk ke UGD. Dicarinya sang putra yang menjadi salah satu pasien. Tak jauh dari pintu, dia melihat putranya yang diinfus. Di samping sang putra, ada pria yang penampilannya berantakan, Asna yakin, itu pasti mantan suaminya. Asna segera menghampiri sang putra dan mantan suaminya itu.


"Mama" panggil Taufik berusaha menarik senyum.


Haikal menoleh mengikuti arah pandang Taufik. Dilihatnya Asna yang semakin cantik. Badannya pun semakin berisi sekarang. Jauh berbeda dengan dulu, saat dia masih mudah juga saat dia bersuamikan Haikal.


"Saat bersamaku dia tak segemuk itu. Apa ini bukti nyata kalau dia nggak bahagia saat bersamaku?" batin Haikal.


"Haikal, bagaimana keadaan Taufik?" tanya Asna membuyarkan lamunan Haikal.

__ADS_1


"Dia___" Haikal tergagap.


"Aku baik-baik saja, Ma. Bahkan kata dokter aku bisa pulang sekarang" Taufik menjelaskan.


Haikal tak mengalihkan tatapannya dari Asna, dia menatap takjub wanita yang kini berdiri di sampingnya. Setahun dia tak bertemu Asna, dan wanita itu mengalami perubahan drastis.


"Ei Haikal, nggak baik natap orang kek gitu. Mau aku cungkel bola matamu!" desis Asna.


"Ge-er kamu!" celetuk Haikal berusaha menolak tuduhan Asna.


"Papa, Mama, kita seperti mereka yuk" Taufik menatap pasien dimana ada seorang anak yang dijaga oleh Mama dan Papa nya. Mereka bergantian menghibur sang putra yang akan menjalankan operasi tumor.


"Aku__" Taufik terisak. "Aku ingin kita tinggal bersama. Aku mohon, Ma. Tolong maafkan Papa, tolong Mama beri Papa kesempatan. Aku iri lihat orang lain yang keluarganya utuh. Aku ingin mengakhiri hidup tapi siapa yang akan jaga Mama. Ma, Pa, aku bukan anak kecil lagi, tapi jujur, aku masih menginginkan sosok kalian di setiap harinya"


Haikal memeluk sang putra, air matanya pun menetes begitu saja. "Jika itu maumu, Papa akan melakukannya. Tapi bagaimana dengan Mama kamu?"


Asna terdiam, dan pada akhirnya dia setuju untuk rujuk kembali.


Di lain tempat, kebahagiaan sedang dirasakan oleh keluarga kecil Azahra dan Zulfikar. Azahra hamil anak ke 2 mereka. Usia kandungannya pun baru sebulan. Bagaimana dengan sang putri, Zahira? Dia menolak kenyataan itu. Alasannya hanya satu, dia tidak mau kasih Sayang keluarganya terbagi.


"Kan aku udah bilang, aku nggak mau punya adik ... Hiks ... hiks ... hiks ..."


Tawa Nenek Aira pecah, begitu juga dengan Naudira dan yang lainnya. Naudira melingkarkan tangan dileher Zahira lalu mengajaknya berbicara. Kali saja Zahira mau paham.


"Kamu nggak mau punya adik tapi aku mau punya ponaan. Kakak aku hanya Papa kamu, jadi plis deh, jangan cengeng. Punya adik itu senang, kamu bisa sentil telinganya kalau dia nakal"


"Seperti Tante yang suka cubit telinga aku?" ucap Zahira menatap sinis Tantenya.


"Hahahahaha" tawa Naudira kembali pecah. "Gemes deh, ayo tersenyum. Nggak baik menolak ciptaan Tuhan. Kasihan adik kamu, sedih nanti dia. Gimana perasaan kamu saat Mama atau Nenek nggak suka sama kamu?"


"Sedih lah!" potong Zahira.

__ADS_1


"Nah! Itu kamu tahu. Adik kamu juga sedih di sana karena kamu menolak kehadirannya" sambung Naudira.


"Ya sudah, tapi kalian harus janji nggak akan pilih kasih!" ucap Zahira menatap satu persatu keluarganya.


__ADS_2