SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 17


__ADS_3

Zulfikar mondar mandir di ruang tamu. Sambil sekali kali mengintip keluar lewat jendela rumah. Sudah jam sepuluh malam namun Azahra belum juga pulang. Mencoba untuk menghubungi namun ponsel wanita itu ada di dalam kamar. Cemas, Zulfikar kembali masuk ke kamar Azahra untuk mengambil ponsel wanita itu. Ponsel Azahra yang tanpa dikunci memudahkan Zulfikar menghubungi teman-teman Azahra. Orang pertama yang Zulfikar hubungi adalah Asna dengan nama kontak, Asna sahabatku.


"Assalamualaikum, Dek. Maaf menggangu waktunya. Saya Kakak nya Azahra. Apa Zahra ada di situ?" tanya Zul.


"Waalaikumsalam. Nggak ada, Kak. Azahra sudah pulang jam satu siang tadi. Katanya sih kepalanya sakit. Jadi dia izin pulang" jelas Asna.


"Kak, sudah dulu ya. Aku mau nanya teman-teman ku di group. Sempat Zahra ada bersama mereka" sambung Asna kemudian memutuskan panggilan.


Asna yang tadinya mengantuk berat, seketika matanya membulat. Membuka aplikasi WhatsApp, Asna mulai mengetik sesuatu di group. Dalam sekejap, balasan dari teman sekelas memenuhi layar ponsel.


"Zahra ... kamu dimana, Zah ..." Asna tak bisa tidur. Segera ia menghubungi Zulfikar.


"Kakak, tolong buka group WhatsApp" titah Asna yang langsung diindahkan oleh Zul.


"Iya, saya sudah baca balasan chat dari teman-temanmu. Ya sudah, saya cari Zahra dulu. Jika ada info, tolong kabarin saya"


Setelah memutuskan panggilan, Zulfikar masuk ke kamar mengambil kunci motornya. Segera pria itu keluar mencari di depan namun Azahra tak ada di sana. Tak tahu harus kemana, Zulfikar menepikan motor depan ekspedisi Cargo.


Hingga pukul satu, lewat tiga belas menit, ponsel Zulfikar tiba-tiba berdering. Zulfikar segera menatap layar ponselnya. Menekan icon hijau, Zulfikar menempelkan benda pipi itu di telinganya.


"Halo, Kak. Belum lama perawat dari Rumah Sakit Wahidin menghubungi saya, kata mereka Azahra sedang dirawat di sana" jelas Asna.


Tut ... Tut ... Tut ...


Panggilan tiba-tiba terputus. Nyatanya ponsel Zulfikar kehabisan daya. Memasukkan gawai dalam saku celana, Zulfikar mulai membelah jalanan Kecamatan Tamalanrea menuju Rumah Sakit Wahidin, seperti kata Asna tadi.


Setibanya di rumah sakit, Zul berlari di IGD. Di sana, ada Haikal yang sudah berada di rumah sakit. Zul dan Haikal yang tidak saling mengenal, keduanya tak saling menyapa. Haikal sibuk melakukan panggilan, sementara Zulfikar bertanya pada petugas medis.


"Aku nggak kenal, kek mana itu wajahnya?" ungkap Haikal pada Asna.


"Aku juga nggak tahu kek mana. Orang aku juga belum pernah melihatnya" balas Asna yang sementara berada di rumah. Tadi, gadis itu sedang menunggu grab tetapi Haikal menyuruhnya untuk tetap di rumah biar dia yang ke Rumah Sakit.

__ADS_1


"Ya sudah, aku temani Zahra di dalam dulu" ucap Haikal.


Di belakang Haikal, ada Zulfikar yang tanpa sengaja mendengar nama Azahra di sebut. Segera pria itu membalikan badan menunggu Haikal selesai menelepon.


"Maaf, Azahra yang Mas maksud ..."


"Om, saudaranya Azahra?" Haikal balik bertanya.


"Aku bukan Om Om" protes Zulfikar.


"Dan aku juga bukan Mas Mas" kembali Haikal yang protes.


"Kakak yang mau jaga Azahra atau aku? Kalau aku, Kakak bisa pulang sekarang. Kalau Kakak, ya aku tidur di emperan karena aku nggak mau pulang" ujar Haikal seraya melangkahkan kaki menuju ruang IGD.


"Biar aku yang jaga" balas Zulfikar.


Haikal memberitahu dimana Azahra di rawat. Segera Zulfikar masuk ke ruang IGD setelah diberi izin oleh satpam. Melihat Azahra yang tidur di brankar dengan tangan yang diinfus, hati kecil Zulfikar terasa sakit. Suami seperti apa dirinya, hingga dia sendiri tidak tahu istrinya sakit.


"Aku yang harusnya bertanya, kenapa kamu bisa di sini?" tanya Zulfikar tanpa ekspresi. Ego yang bersarang di tubuhnya, membuatnya tak ingin Zahra tahu jikalau dia cemas akan kondisi wanita itu.


Azahra terdiam. Tak ingin menambah beban pikirannya, dia memilih memejamkan mata. Ekspresi Zulfikar membuat Azahra sakit hati. Tak bisakah pria itu bersikap seperti lalu, saat Azahra sakit kepala hingga Assagaf dan Qonita turut terlibat dalam mengurusnya.


...


Jam sepuluh keesokan harinya, Azahra sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Tak ingin menjadi beban Zulfikar lagi, Azahra meminta bantuan Asna untuk mengurus biaya tagihan rumah sakit. Mengira itu adalah keputusan terbaik nyatanya tidak, Zul marah saat mengetahui itu. Namun kemarahannya tidak diungkapkan secara langsung.


Setibanya di rumah, Zulfikar turun dari mobil tanpa membantu Azahra. Melihat sikap Zulfikar, Azahra semakin sedih. Segera dia turun dari mobil menyusul Zulfikar di dalam.


Bugh!!


Zulfikar menutup pintu kamar dengan kasar. Mendengar itu, Azahra segera masuk ke kamarnya dan tak lupa menguncinya dari dalam. Bersimpuh di lantai, Azahra menangis saat itu juga.

__ADS_1


"Akh ... Akh ... Akh ..." tangisnya semakin menjadi jadi.


Di luar, Zulfikar sudah berada di sofa. Marah akan keputusan Azahra saat di rumah sakit, Zul enggan


menghibur Azahra. Entah siapa yang harus disalahkan dalam hal itu.


"Aku benci Papa aku benci ...!!" teriak Azahra di kamar. Sakit hati berselimut marah. Wanita itu membuka pintu dengan kasar. Terisak, ia menatap Zulfikar yang sementara menatapnya.


"Mari bercerai" ucap Azahra seraya menyeka air matanya. "Kakak nggak bahagia kan? Begitupun aku, aku sama sekali nggak bahagia. Apa Kakak pikir, hanya Kakak saja yang terluka? Kakak salah! Aku juga sama menderitanya dengan Kakak. Kak Kulsum belum menikah, Kakak masih punya kesempatan untuk bersamanya"


Zulfikar terdiam, bahkan ia acuh tak acuh. Malas menanggapi, Zulfikar memilih masuk ke kamarnya. Sikap Zulfikar, membuat Azahra berteriak hingga kembali menangis.


"Aku benci Kakak ...!!"


"Aku benci kalian ...!!"


Setelah mengutarakan apa yang dikatakannya, Azahra kembali masuk ke kamar. Seketika hening, tak ada lagi tangisan di dalam. Hingga pukul 12 siang, kamar itu masih sunyi, seperti kamar tanpa penghuni.


Zulfikar berniat membawakan makanan untuk Azahra tapi dia mengurungkan niatnya. Sepiring makanan yang diletakkan di atas nampan, kembali diletakkan di atas meja dapur.


Pukul 1 siang, Zul yang sedari tadi ada di sofa, belum melihat Azahra keluar. Rasa bersalah, juga rasa cemas menyelimutinya. Mengesampingkan ego, pria itu mengetuk pintu kamar Azahra.


"Dek, buka pintunya ..."


"Zahra ... buka pintunya ..."


"Mau aku bawakan makanan di kamar?"


Masih belum ada sahutan dari dalam. Segera Zulfikar mengambil kunci cadangan namun pintu tidak bisa dibuka.


"Zahra ... kamu baik-baik saja kan? Jangan bikin kesal deh, cepat buka pintunya!"

__ADS_1


Lagi dan lagi, belum ada tanda-tanda pergerakan orang di dalam kamar. Zulfikar mulai tak tenang, dia mencoba untuk mendobrak pintu.


__ADS_2