
"Kak, aku berangkat ke sekolah dulu ya" Zahra mengetuk pintu kamar Zulfikar.
Tak ada sahutan dari dalam. Azahra mencoba membuka pintu namun Zulfikar menguncinya dari dalam. Mengelus dada, ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Menggiring langkah hingga ke garasi, dia dikagetkan dengan kedatangan Zulfikar yang tiba-tiba. Tanpa mengeluarkan kata, pria itu meletakkan uang di dalam tas Azahra lalu kembali ke kamar.
Menatap punggung Zulfikar, hati Azahra terasa sakit. Menyeka bulir bening yang tanpa diminta menetes, Azahra segera mengeluarkan motornya dari garasi. Melaju dengan kecepatan sedang, Azahra menangis saat di jalan. Agar tak dilihat orang, ia menurunkan kaca helem.
"Ya Allah, apa ini ujian rumah tangga?" batin Azahra bertanya tanya.
Setibanya di sekolah, Azahra segera memakirkan motornya. Di depan kelas, teman-temannya tengah menunggu dirinya. Segera ia menggiring langkah menemui mereka. Canda dan tawa teman-temannya, mengundang rasa penasaran Azahra.
"Happy bangat, ada kabar bahagia ya?" tanya Zahra mengambil tempat di antara Asna dan Gea.
"Ada sayang ada, Ibu Nurdia nggak masuk hari ini" jawab Haikal, pria yang tidak menyukai matematika.
Azahra cemberut, ekspresinya kebalikan dari ekspresi Haikal. "Kok Ibu nggak masuk sih? Kan aku udah belajar tadi" ungkapnya memelas.
"Katanya sih lagi mau ke luar kota. Jadi dalam minggu ini Ibu nggak masuk" jelas Asna.
"Ya udah, kita gunakan waktu luang yuk. Mumpung aku lagi semangat!" ucap Irwan diangguki jempol oleh Haikal.
Di rumah, Zulfikar termenung di kamar. Dia malas keluar kamar apalagi ke kampus. Jangankan ke kampus, untuk mandi pun dia enggan. Memikirkan apa yang ungkapkan oleh Assagaf, hati Zulfikar kembali sakit. Sebodoh itu kah dirinya hingga dengan mudah Kulsum bermain api dibelakangnya.
Nyatanya, Kulsum berselingkuh jauh sebelum Zulfikar bercerita tentang dirinya yang dijodohkan. Itu berarti, Kulsum yang lebih dulu mengkhianati hubungan mereka.
"Apa yang kamu cari sih, Kul?" gumam Zul menatap langit langit kamar. "Kamu mau ini itu, aku memenuhinya" sambungnya kemudian memejamkan mata.
Drt ... Drt ... Drt ...
Ponsel Zulfikar bergetar. Si pemilik ponsel meraih gawainya di atas nakas, menatap nama kontak yang memanggil, pria itu segera menjawabnya.
"Aku nggak masuk, pikiranku kacau balau" jelas Zul sebelum Assagaf berucap.
__ADS_1
"Tapi kamu dicariin Ibu Cia, gimana dong?"
"Tinggal kamu bilang ke Ibu, Zulfikar Hasbullah nggak ke kampus Ibu ..."
Terdengar helaan napas panjang Assagaf. Pria itu sudah mengatakan demikian dan Ibu Cia tetap kekeh menyuruh Assagaf menghubungi Zulfikar.
"Udah, Makrona ... Udah aku bilangin tapi Ibu minta kamu ke kampus sekarang. Katanya sih penting!"
Kembali Zulfikar yang menghela napas panjang. Anehnya, perasaan pria itu tiba-tiba tak nyaman saat Assagaf mengatakan tiga kata terakhirnya.
"Ya sudah, nanti aku ke kampus. Assalamualaikum"
Meletakkan ponsel pada tempat awal, Zulfikar segera ke kamar mandi. Hanya butuh beberapa menit saja, dia selesai dengan aktivitasnya di dalam. Segera ia mengenakan pakaian dan tak lupa menyisir rambutnya agar terlihat rapi.
"Aku penasaran, seperti apa tampang pria yang membuat Kulsum berpaling dariku" gumam Zul menatap dirinya di cermin.
Selesai berdandan ala-ala cowok, Zulfikar meraih tasnya di ranjang. Jujur, dia malas ke kampus tapi karena untuk mengindahkan panggilan Ibu Cia, juga penasaran akan tampang Ardi Ardiansyah, Zulfikar harus melawan rasa malasnya.
"Sin, mau ke kampus?" tanya Zul menghentikan motornya.
"Iya" jawab Sindi yang kebetulan berjalan kaki ke kampus. Bukannya tidak punya uang, tetapi jarak dari indekos ke kampus sangat dekat. Hanya Zulfikar saja yang malas berjalan kaki.
"Bareng aku yuk. Kebentulan aku mau ke kampus dan ada yang mau tanyain ke kamu" ungkap Zulfikar.
Tanpa berpikir panjang, Sindi naik di atas motor. Setibanya di Fakultas Pertanian, Sindi segera turun.p
"Makasih ya" ucap Zul menarik senyum dikedua sudut bibirnya. Nyatanya, Kulsum mengecualikan Zulfikar sehingga pria itu tak dapat melihat story yang dia unggah.
Sindi mengangguk, segera menggiring langkah ke kelas. Menuju Fakulas Sospol, Zulfikar berpapasan dengan Qonita di parkiran. Menyapa Qonita, keduanya menemui Assagaf di lantai dua dekat tangga.
Dari lantai satu, suara Assagaf sudah terdengar. Bercerita konyol sesama teman pria, mereka seperti berada di pasar ikan. Ribut sekali.
__ADS_1
"Zul, langsung ke ruangan Ibu Cia gih. Ibu nunguin kamu di ruangannya" ungkap Assagaf agar Zulfikar langsung menemui Ibu Cia.
"Qo, aku ke ruangan Ibu Cia dulu" ucap Zul yang dibalas oke oleh Qonita.
...
Tanpa pamit pada Assagaf dan Qonita, Zulfikar yang baru keluar dari ruangan Ibu Cia, melenggang kelantai satu begitu saja. Disakiti oleh Kulsum, dibahagiakan oleh kabar baik dari Ibu Cia.
Stres memikirkan Kulsum, Zulfikar memilih pulang ke rumah untuk merenung. Saat dirinya keluar dari gerbang kampus, ia berpapasan dengan mobil merek Mercedes-Benz, yang dimana di dalamnya ada Kulsum bersama seorang pria.
"Pantas saja Kulsum berpaling nyatanya Ardi orang kaya" gumam Zulfikar sebelum memasuki gerbang kompleks.
Setibanya di rumah, pria itu berpapasan dengan Azahra yang hendak membuka pintu rumah. Tanpa mengajak berbicara, Zul memakirkan motornya di samping motor Zahra.
Azahra menunggu Zulfikar untuk mencium tangan pria itu. Zulfikar yang paham, segera mengulurkan tangannya. Zahra pun mulai menyalami tangan pria itu.
Tanpa bertanya kenapa pulang sebelum waktunya, Zulfikar membuka pintu rumah menggunakan kunci yang dipegang Azahra. Dan Azahra, dia hanya menatap punggung Zulfikar hingga terhalang pintu.
Dicuekin oleh Zulfikar, membuat Azahra ingin menangis saat itu juga. Jika bukan karena nasehat dari Papa Giman, mungkin Azahra sudah minggat dari rumah. Tapi, dia bukan lagi anak remaja yang belum terikat aturan pernikahan. Dia, dia sudah menikah.
Menggiring langkah hingga ke kamar, Azahra merebahkan diri di ranjang. Kepalanya yang kembali sakit, membuatnya sekali lagi meminta izin pada guru yang mengajar hari ini.
"Papa, Mama, aku sakit" gumam Azahra terisak.
Diluar pintu, Zulfikar yang kebetulan berada di ruang keluarga, mendengar Azahra terisak namun pria itu enggan bertanya kenapa dia menangis. Dia masih menyalahkan Azahra. Karena wanita itu, Zul dan Kulsum bertengkar. Andai Azahra dengan lapang menerima Kulsum, maka tidak akan ada yang namanya pertengkaran.
Walau terasa berdenyut hebat, Azahra tetap menarik langkah menuju pintu kamar. Dia lupa membeli obat saat dalam perjalanan pulang. Mau tidak mau, dia harus keluar membeli obat di apotek 24 jam samping JNE.
"Kak Zul, aku mau minta izin ke depan" pamit Azahra menyeka air matanya.
"Hmm" balas Zulfikar tanpa menatap Azahra.
__ADS_1