
"Kamu siapa ...?" seru Zahira kesal sambil membenarkan jilbabnya.
"Aku Kansa Herlambang, kamu bisa memanggilku Kansa. Maaf, tadi aku menarik mu karena aku kasihan padamu. Kenapa sih kamu harus mengemis duduk di sana" lirih pria bernama Kansa itu.
Zahira menatap lekat wajah Kansa yang rupawan Manik matanya seperti hazel. Hidungnya mancung, bibirnya tipis, indahnya lagi dia memiliki lesung pipi pada bagian kiri dan kanan.
"Masya Allah, glowingnya ciptaanmu ya Allah" gumam Zahira. Secepat kilat ia membungkam mulutnya sendiri.
Kansa tertawa pelan. "Santai saja. Bukan hanya kamu yang mengataiku glowing, hampir semua orang melihatku akan mengatakan hal yang sama" ungkap Kansa.
Kansa Herlambang, blesteran–Belanda Indonesia. Papa Kansa asli Makassar, sementara Mamanya asli Belanda ada Malang nya juga . Sejak kecil Kansa di Belanda hingga usianya 11 tahun. Sekalipun tinggal di Belanda, orang tua Kansa kerap mengajari Kansa bahasa Indonesia.
"Kamu anak pindahan? Kelas berapa?" tanya Zahira.
"Iya, aku pindahan dari Malang. Kelas 1 mau naik kelas 2" jawab Kansa.
Zahira mengangguk. Bel masuk belum terdengar, Zahira mengajak Kansa ke kantin sekalian akan memperkenalkan Kansa pada Fenda. Zahira memesan nasi kuning untuknya.
"Kamu juga mau?" tanya Zahira.
"Iya" sahut Kansa mengambil tempat duduk di meja kosong.
Zahira memesan nasi kuning untuk tiga orang, dan tak lupa memesan minuman dingin. Kemudian dia mengambil tempat di depan Kansa. Tak berapa lama Fenda datang setelah membaca pesan dari Zahira.
Di kursi paling sudut, ada Taufik dan kedua temannya. Taufik tetap bersikap santai walau dalam hati dia tidak suka melihat Zahira dekat dengan laki-laki. Bukannya dia cemburu, tapi dia takut Zahira terjerumus dalam kesenangan dunia.
"Semoga pria itu bisa membuatnya berpaling darimu, Fik" ucap Rio teman Taufik.
__ADS_1
"Aku juga berharap begitu. Aku kasihan padanya, dia selalu diabaikan. Dia seperti wanita yang ngemis cinta" timpal Gery yang juga teman Taufik.
"Aku nggak minta dia jatuh cinta padaku. Aku bersikap baik juga karena dia anak Tante Zahra" ucap Taufik lalu menyedot minuman dingin dengan sedotan.
Bel berbunyi, Zahira dan teman barunya juga Fenda masuk kelas.
Di lain tempat, tepatnya di rumah Azahra, Mama anak dua itu menggendong putranya yang menangis. Entah apa yang terjadi Pada Furqan, sekali pun tangisan Baby Furqan semakin kuat, Azahra mencoba untuk tetap tenang dan tidak mau panik. Pasalnya hanya dia dan Furqan di rumah.
Pukul 3 sore, Zulfikar datang bersama putrinya, Zahira. Zahira yang mendapatkan teman baru dengan semangat dia bercerita pada Papa nya. Bahkan dia tak segan berkata pada Papanya jika dirinya mengagumi sosok Kansa yang baik.
"Tapi kamu harus tetap waspada. Jangan mau apabila teman teman mu mengajak kamu pergi di jam sekolah!" tegas Zulfikar.
"Iya, Pa. Papa, boleh nggak sabtu malam nanti Fenda dan Kansa main ke rumah? Mau ngerjain tugas bareng" ucap Zahira sebelum menampakkan kaki ke tangga.
"Boleh" balas Zul mengambil tempat di sofa.
"Kamu yakin itu Mama Papa kamu?" bisik Fenda setelah Azahra dan suaminya kembali ke kamar.
Zahira terkekeh pelan. "Ya iyalah Fenda. Kan aku anak pertama, jadi pantas dong kalau Mama Bapa aku masih muda. Dan lagi, Mama Bapa aku nikah muda" jelas Zahira.
Setelah menyakinkan Kansa dan Fenda, Zahira mulai mengeluarkan buku catatannya. Juga buku tugas matematika. Tugas matematika ada 20 nomor, dan diantara mereka bertiga hanya Kansa yang paham akan penjelasan Ibu Anya di depan kelas pagi tadi.
"Sayang, kok kamu nggak bantuin teman kamu?" tanya Azahra yang kebetulan melewati ruang keluarga.
"Aku nggak ngerti, Ma. Ibu ngejelasinnya cepat" balas Zahira cemberut.
Azahra menghampiri, mengambil buku tugas putrinya. Menarik senyum, wanita itu meminta putrinya geser sedikit ke samping agar sang Mama bisa duduk.
__ADS_1
"Mana pulpenmu?" tanya Azahra. Zahira mengambilkan pulpen. Lalu memberikannya pada sang Mama.
"Soal nomor 4, 5,7, 9 dan 10 cara kerjanya sama. Jadi Mama kerjakan nomor 4 nanti kamu yang kerjakan nomor yang lain, bagaimana?" ucap Azahra.
Zahira mengangguk. Kansa dan Fenda menatap keakraban keduanya, ada rasa iri yang tiba-tiba menyelimuti. Pasalnya mereka tak sedekat itu dengan Mama Papa mereka.
Setelah menyelesaikan tugas nomor 4, Azahra meninggalkan putri dan kedua teman putrinya. Ia ke dapur mengambilkan cemilan di kulkas. Lalu membawanya ke ruang keluarga untuk dimakan oleh putri dan kedua teman putrinya.
"Dimakan ya, Tante ke kamar dulu" ucap Azahra tersenyum.
"Terima kasih, Tante" ucap Kansa dan Fenda bersamaan.
Dua hari setelahnya di sekolah, Zahira tak lagi dekat dekat Taufik. Bukan tak lagi cinta melainkan itu trik yang dia ikuti dari hasil menonton drama korea kisah anak remaja. Besar harapan agar trik itu berhasil.
Taufik baru saja keluar dari kelas menuju kantin. Tak lama lagi dia lulus dan akan terbang ke Luar Negeri. Di sana dia akan menghirup udara segar tanpa diganggu oleh si Genit Zahira. Tapi .. kedekatan Zahira dan Kansa membuat Taufik merasa risih.
"Kenapa juga sih dia harus dekat dengan anak baru itu!" batin Taufik kesal. "Heh! Ada apa dengan aku? Kenapa aku harus kesal? Bukankah itu bagus, Zahira nggak akan dekat-dekat aku lagi" sambungnya membatin.
"Beb, nanti malam kamu mau ke kondangan nggak sih?" tanya Fenda mengaduk aduk minumannya.
Zahira berpikir. "Mau sih, tapi Papa nggak akan ngizinin aku. Jika pun aku ikut, itu berarti aku pasangan sama Papa aku. Dan untuk nanti malam itu nggak mungkin, kamu tahu sendiri kan, aku punya adek mungil. Mana mau Papa aku ninggalin anak dan istrinya di rumah" jelas Zahira.
"Nanti aku ke rumah kamu. Minta izin langsung sama Papa Mama kamu. Biasanya orang tua akan ngizinin anaknya jika teman prianya datang langsung meminta izin. Tapi kamu juga harus ingat, jika kita diizinin, kamu jangan kemana mana. Kamu sama aku dan Fenda terus. Gimana?" ucap Kansa.
Zahira mengangguk. "Kamu datangnya sore, jadi, jika memang aku diizinin, kita bisa langsung ke salon untuk meka up" ucap Zahira berbinar.
"Jangan harap kamu ke kondangan" batin Taufik.
__ADS_1