SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 32


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat, siang berganti malam, malam berganti minggu bahkan bulan. Kini, usia pernikahan keduanya akan memasuki bulan ke enam.


Zulfikar sibuk dengan tugas kampus. Selain sibuk, dia juga stres tingkat Kota. Setelah menikah, Papa Kurniawan dan Mama Aira tidak mengirimkannya uang. Sementara dua minggu ke depan masa kontrak rumah telah habis. Tidak mungkin dia mengajak Azahra tinggal di indekos.


"Masa iya aku ngajak Azahra tinggal di Maros. Jarak dari rumah ke Sekolah kan jauh. Dari rumah ke Kampus juga jauh"


"Azahra udah jadi tanggung jawabku, tinggal di Maros pun aku tetap harus menafkahi dia"


"Tapi aku mau ambil uang dimana? Sewa kontrakan lima belas juta setengah tahun. Aku nggak punya uang sebanyak itu"


Terlentang di atas karpet bulu yang terbentang di ruang keluarga, Zulfikar menatap langit-langit sambil memikirkan kontrakan yang masa kontraknya akan berakhir. Zulfikar mengira, Mama nya menyewa kontrakan yang kini dia dan Azahra tempati, selama satu tahun lamanya, nyatanya hanya setengah tahun.


"Assalamualaikum" Azahra mengucap salam sebelum ia masuk ke dalam rumah. Dia baru saja pulang dari sekolah.


Zulfikar yang stres tingkat Kota, tak mendengar salam yang terucap. Pria itu masih berpikir keras tentang masa kontrak.


"Setaaaaan!!" teriak Zulfikar segera menarik diri hingga berganti posisi. "Astaghfirulah ... Jadi itu kau? Kukira setan. Kenapa nggak ucap salah sih!" ketus Zulfikar memegangi dadanya. Denyut jantungnya terdengar berdetak cepat.


"Maaf, Kak. Tadi aku udah ngucapin salam tapi Kakak nggak dengar" jawab Azahra menjelaskan.


"Jadi begitu rupanya. Aku yang nggak dengar. Ya sudah, cepat ganti pakaian, makan lalu temui aku. Aku tunggu di sini" kata Zulfikar.


Azahra mengangguk lalu ke kamar mengganti pakaian. Kemudian ke dapur untuk makan. Setelah makan, Azahra menemui Zulfikar yang sedari tadi menunggunya di karpet bulu.


"Kak, ada apa?" tanya Azahra memilih duduk di karpet bersama Zulfikar. Zulfikar mengubah posisi, dia yang tadinya menatap televisi, beralih menatap Azahra.


"Dek, jadi gini. Rumah ini kan rumah kontrak. Dan Mama yang ngontrak rumah ini untuk kita. Kukira, Mama mengontraknya selama setahun lamanya, nyatanya hanya sampai setengah tahun" jelas Zulfikar.


"Nah, uangku kan nggak cukup untuk menyewa kontrakan ini lagi. Jadi___" Zul tampak ragu melanjutkan.

__ADS_1


"Jadi apa, Kak?" tanya Azahra.


"Menurut kamu kita tinggal di rumah Papa atau kita cari indekos?" sambung Zul bertanya.


"Kakak mau kita tinggal di mana?" tanya Azahra balik.


Zulfikar menghela napas kasar. Bukan jawaban itu yang dia mau dengar. Dia yang tadinya duduk kembali berbaring di karpet dengan berbantal paha Azahra. "Aku maunya sih di indekos. Kalau kamu mau, kita bisa cari indekos yang luas dan ber-AC" jelasnya.


"Ya sudah, kita cari indekos aja. Oh iya, di bagian depan ada indekos loh Kak. Yang tiga lantai itu. Aku tahu karena salah satu teman sekelasku dia tinggal di sana. Gimana? Kita pergi cek kamar kostnya?" Azahra menatap Zulfikar yang terus mengendus ngendus pahanya.


"Geli tahu!" ketus Azahra.


Zulfikar terkekeh. Ia menghentikan aktivitas nakalnya dan kembali fokus mengenai indekos. "Ya sudah, nanti malam kita pergi lihat"


Malam pun tiba, Azahra dan Zulfikar tengah berada di Pondok AQILA, pondokon putra dan putri. Berbincang dengan pemilik pondok, kemudian pergi mengecek kamar yang di lantai satu. Pemilik pondok AQILA membuka satu unit kamar. Di dalamnya terdiri dari kamar mandi, dapur, satu ruangan tidak terlalu luas dan satunya lagi cukup luas. Selain itu, di dalam juga disediakan springbed dua badan, kipas angin dan lemari dua pintu serta rak sepatu.


"Bagus ya, Kak" ucap Azahra berdecak kagum.


"Iya, di sini saja" balas Azahra setuju.


.


.


.


Waktu masa kontrak pun akan berakhir besok. Membuat Azahra dan Zulfikar memindahkan barang ke Pondok AQILA. Dimana mereka dibantu oleh Haikal, Asna juga Assagaf dan Qonita. Dan kini, semua barang yang diperlukan telah tertata rapi pada tempat masing-masing.


"Zul, Azahra, kami pulang dulu" pamit Assagaf yang harus pulang karena Ibu yang menjaga adik kecilnya ada urusan mendadak.

__ADS_1


"Iya, Gaf. Makasih banyak ya udah bantuin kami" ucap Zulfikar.


"Kami juga mau pamit pulang, Kak" Haikal menimpali. "Aku dan Asna harus ke rumah Gea" tambahnya.


"Ya sudah, ayo kita pulang sama-sama" Qonita menimpali.


Azahra maupun Zulfikar menarik senyum. "Terima kasih udah mau bantuin kami ngangkat barang. Kapan-kapan ke sini lagi, kita makan bareng" ucap Zulfikar.


"InsyaAllah" balas Qonita.


Assagaf, Asna, Haikal dan Qonita keluar kamar kost bersamaan. Diikuti oleh Azahra dan Zulfikar yang mengantar hanya sampai tempat parkir.


"Hati-hati ya" Azahra melambaikan tangannya.


Sepeninggal mereka, Azahra dan Zulfikar kembali ke dalam kamar. Mengistrahatkan tubuh sambil menatap langit-langit kamar, tanpa diminta bulir bening menetes dari kedua sudut mata Zulfikar.


"Zahra, maafin aku ya. Nggak seharusnya aku ngajak kamu tinggal di tempat yang sempit seperti ini" lirih Zul tanpa menatap Azahra. Dalan hatinya dia menyesali kebodohannya dulu. Usaha dan kerja kerasnya, juga cintanya yang tulus nyatanya dimanfaatkan.


Azahra menoleh, mendapati Zul menyeka tetesan bening yang sempat bertamu. "Kenapa Kakak menangis?" tanya Azahra mengerutkan kening.


"Nggak, aku nggak nangis" Zulfikar berkilah.


"Kak Zul, seperti kata Kakak sebelumnya. Kita teman, kita sahabat, kita saudara, kita kakak beradik. Apapun yang terjadi, kita akan melewatinya bersama. Tempat ini nggak sempit. Lihat, kamar mandinya besar, mesin cuci bisa muat di dalam. Ada dapurnya, ada ruangan yang bisa digunakan sebagai ruang tamu. Coba lihat, karpet yang dibentang di sana, bisa menampung beberapa orang"


Zulfikar memiringkan tubuhnya, ia memeluk Azahra yang terlentang. "Apa Faisal sering menghubungimu?" tanya Zulfikar.


Azahra terdiam, kenapa harus Faisal yang dibahas. Haruskah Azahra memberitahu Zulfikar tentang pernikahan Faisal yang digelar kemarin di Palu? Nyatanya, ketidakhadiran Faisal saat diadakannya acara makan malam bersama di Kontrakan, Faisal ke Palu untuk memenuhi undangan keluarga yang dimana membahas tentang perjodohan Faisal dan Ayu Sifitri, anak dari kolega Ayah Faisal.


Sekalipun Faisal setuju, tapi hatinya masih untuk Azahra. Hingga pada saat Azahra sakit kepala beberapa bulan lalu, dia menitipkan obat pada Haikal yang tak lain adalah karyawannya. Hingga kini, cinta pria itu masih untuk Azahra walau dia sudah menggelar pernikahan kemarin.

__ADS_1


"Dia sering memberiku kabar. Bahkan semalam dia mengirim pesan padaku. Tapi aku nggak balas. Nggak baik berbalas pesan dengan suami orang. Aku nggak mau dibilang pelakor. Mending aku menjanda seumur hidup daripada harus merebut suami orang" ungkap Azahra.


Saat mengetahui Faisal akan menikah dengan pilihan orang tuanya, Azahra sedih sampai menangis tanpa sepengetahuan Zulfikar. Setelah seminggu merenungi cinta yang tak seharusnya ada, Azahra mulai ceria lagi. Dan kini, dia hanya akan fokus pada Zulfikar. Menciptakan kenangan indah bersamanya, karena tak lama lagi, dia akan menjanda.


__ADS_2