SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 46


__ADS_3

Setelah sekian lama menanti, akhirnya Azahra hamil juga. Kehamilan itu membuat Azahra menitikkan air mata bahagia. Bukan hanya Azahra, Asna pun turut bahagia atas kehamilan sang sahabat. Tak ingin merasakan kebahagiaan itu seorang diri, Azahra pamit ke kamar mengambil gawai nya di dalam tas. Lalu membuka aplikasi Instagram.


Dengan binar bahagia, Azahra menekan setiap huruf hingga menjadi sebuah kalimat berisi kabar bahagia. Lalu mengirimnya pada sang suami. Beberapa saat menunggu, masih belum ada balasan. Tak ingin berburuk sangka, Azahra mengirim pesan pada Papa Giman. Tak berlangsung lama, panggilan video terpampang jelas di benda pipi itu. Segera Azahra menjawab panggilan video dari orang tuanya.


"Papa ..." Azahra terisak. "Aku kangen Papa" sambungnya.


Papa Giman menarik senyum. "Sayang, Papa juga kangen kamu. Alhamdulilah, Papa senang membaca pesan darimu. Gimana, Zul udah tahu?"


Azahra menggeleng. "Belum tahu tapi aku sudah mengirim pesan padanya. Papa, kapan Papa dan Mama menetap di Indonesia?"


"Insya Allah, beberapa bulan ke depan Papa dan Mama akan menetap di Indonesia. Kamu yang sabar ya, nggak lama lagi kita akan berkumpul kembali. Ingat pesan Papa, tetap berpikir positif demi kedamaian hatimu"


"Hai, Sayang. Kok nangis?" Mama sambung Azahra hadir dalam video.


"Aku kangen kalian" ungkap Azahra terisak.


"Kami juga kangen kamu. Insya Allah, tahun ini Mama dan Papa akan menetap di Indonesia" ungkap Mama Azahra.


Pergantian waktu mengakhiri percakapan antara Azahra dan orang tuanya. Azahra segera menemui Asna di lantai satu. Melihat Asna melayani beberapa pelanggan, Azahra segera membantu.


Beberapa bulan berlalu, Zulfikar menghilang bagai ditelan bumi. Pria itu tak lagi menghubungi orang tuanya, apalagi istrinya. Bahkan semua akun media sosialnya tidak ada yang aktif.


Cemas, Azahra memutuskan untuk mendatangi suaminya langsung. Namun, Papa Kurniawan maupun Mama Aira mencegahnya. Mengatakan padanya untuk tetap di rumah menjaga kandungannya. Hilangnya komunikasi membuat Azahra tak fokus kuliah hingga ia memilih cuti hingga melahirkan nanti.


Tatapan kosong Azahra terarah pada jalanan malam. Kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat berlalu lalang mengingatkan Azahra akan janji manis Zulfikar saat keduanya dalam perjalanan menuju Bandara.


"Kak Zul, Kakak di mana sekarang? Aku berharap Kakak baik-baik saja" batin Azahra. Sedetik kemudian dia memejamkan mata, menghirup udara malam sebelum ia masuk ke dalam kamar.


Begitu sulit mata indah itu diajak bekerja sama, begitu juga dengan hati yang kerap menghadirkan tanya dalam setiap waktu. Sampai kapan pertanyaan pertanyaan ini terjawab? Pikir Azahra.


"Zahra, besok Papa akan menyusul Zulfikar" ungkap Papa Kurniawan saat mereka sedang sarapan pagi.


"Pa, kabari aku secepatnya ya, Pa" pinta Azahra.

__ADS_1


"Iya, Nak. Kamu jangan sedih lagi, kasihan cucu Papa" ujar Papa Kurniawan lagi.


Papa Kurniawan telah berada di Bandara. Hari ini dia akan melakukan penerbangan dari Makassar ke Luar Negeri. Menghilangnya Zulfikar membuat Mama Aira dan Azahra seperti orang gila yang tiada hari tanpa tangis.


Papa Kurniawan pergi cek in, lalu ke ruang tunggu. Setelah bayangan Papa Kurniawan menghilang, Azahra dan Mama Aira juga Naudira kembali ke parkiran. Dalam perjalanan pulang, Mama Aira melirik menantunya yang sejak tadi menatap keluar jendela. Mama Aira yakin, hati menantunya sedang tidak baik-baik saja.


"Sayang, besok jadwal kamu cek up kan?" tanya Mama Aira memecah keheningan.


"Emmm, iya, Mah. Besok aku cek up. Mama mau ikut?" Azahra balik bertanya.


"Tentu saja, Sayang. Mama mau lihat perkembangan cucu Mama" jawab Mama Aira.


Mobil yang dikendarai Pak Mo tiba di rumah. Azahra segera turun dari mobil, begitu juga dengan Mama Aira dan Naudira.


"Buk, Aira. Saya mau minta izin pulang sebentar, boleh?" Pak Mo meminta izin.


"Silahkan, Pak Mo" balas Mama Aira.


"Sayang, lebih baik sekarang kamu istirahat. Nanti Mama beritahu kamu bila sudah ada kabar dari Papa" ucap Mama Aira pelan.


Ingin berkata tidak mau, tapi Azahra tak mau egois. Dia harus sehat agar anak yang ia kandung juga sehat. Mengangguk, Azahra masuk ke kamarnya. Tangisnya pun pecah di dalam sana.


Pukul tiga malam, Papa Kurniawan melakukan panggilan via video cell. Raut wajah frustasi terpahat jelas di wajah pria paruh baya itu. Ekspresi itu mengundang gelak tanya Mama Aira yang tak sabar melihat wajah tampan putranya.


"Dimana putra kita?" tanya Mama Aira.


Sekuat apapun seorang pria, ada saatnya dia akan menitikkan air mata. Seperti saat ini, Papa Kurniawan menitikkan air mata.


"Pa, dimana Zul?" tanya Mama Aira mendesak.


"Aku nggak tahu, Aira. Aku nggak tahu dia dimana. Teman-temannya pun nggak tahu Zul di mana. Kata mereka, sudah tiga minggu Zul nggak masuk kampus" jelas Papa Kurniawan.


Degh!! Mama Aira syok mendengarnya. Tangis wanita itu pun pecah. "Pa, tolong lapor polisi agar mereka mencarinya. Perasaan Mama nggak enak, Pa" ungkap Mama Aira.

__ADS_1


Pagi hari di Luar Negeri, Papa Kurniawan mendatangi kantor polisi lalu menceritakan tujuan kedatangannya. Polisi pun segera bergerak mencari dimana Zulfikar berada. Seminggu pencarian, namun tak membuahkan hasil.


Papa Kurniawan kembali ke Indonesia setelah sebulan berada di Luar Negeri. Sejak hilangnya Zulfikar, Azahra seperti orang gila yang hampir setiap saat mengurung diri di kamar.


Rumah Sakit Bersalin


Asna yang sudah waktunya melahirkan, wanita muda itu dilarikan di Rumah Sakit Bersalin. Haikal yang begitu menyayangi sang istri, tak henti-hentinya memanjatkan doa agar anak dan istrinya selamat. Bukan hanya Haikal, Assagaf juga ikut ke rumah sakit. Sementara adiknya di titip ke tetangga.


"Maaf, suami dari Ibu Asna yang mana?" tanya Dokter Olivia.


"Saya, Dok" jawab Haikal segera.


"Silahkan masuk ke dalam ruang bersalin" kata Dokter Olivia yang langsung di angguki oleh Haikal.


Haikal mendekati Asna yang berusaha menarik senyum ditengah sakitnya proses pembukaan. Tangan hangat Haikal perlahan mengelus perut sang istri. Lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya, membisikan sesuatu pada janin di dalam sana.


"Sayang, tolong panggil Dokter Olivia. Sepertinya aku akan melahirkan" ungkap Asna.


Haikal segera memanggil Dokter Olivia. Tak berapa lama, Dokter Olivia menghampiri lalu memeriksa sudah pembukaan berapa.


"Segera kesini!" Dokter Olivia memanggil dua orang bidan. Bidan yang dipanggil pun menghampiri.


"Ibu Asna akan melahirkan" kata Dokter Olivia pada bidan yang akan membantu proses persalinan.


Dua bidan yang tadi di panggil sempat tercengang. Pasalnya, baru beberapa menit yang lalu pembukaan dua dan kini, belum cukup setengah jam dia berada di pembukaan sepuluh.


Proses persalinan pun berjalan, Asna mengejan namun minimnya pengetahuan, Asna tak seperti orang mengejan, melainkan seperti orang yang akan BAB. Pintu keluar terlihat sempit, hingga dokter pun melakukan tindakan Episiotomi. Sekalipun begitu, janin yang dikandung Asna kurang mendapat dorongan keluar dari sang Ibu hingga Dokter Olivia meminta Bidan Afika untuk membantu mendorong janin keluar.


Oeeeekk ... Ooeeek ...


Tangis bayi terdengar, diikuti oleh tangis haru Haikal. Melihat Haikal menangis, Asna tertawa begitu juga Dokter Olivia dan dua bidan lainnya.


Bayi berjenis kelamin laki-laki di tengkurap kan di atas dada Ibunya. Lalu Dokter Olivia pamit pergi meninggalkan Bidan Afika dan Bidan Siona menjahit kembali perineum yang tadi diguntin*.

__ADS_1


__ADS_2