
Kebiasaan di indekos membuat Kulsum membawanya hingga di rumah orang lain. Dia yang malas memasak di indekos, juga malas memasak di tempat tinggal barunya. Baru sehari tinggal di kontrakan bersama Zul dan Azahra namun wanita itu mulai berlagak seperti tuan rumah.
"Kak Kul ..." panggil Zahra.
"Kul, kamu dimana?" panggil Zul. Pasalnya pintu utama tidak terkunci namun tertutup.
"Aku di kamar ..." sahut Kulsum.
Azahra menggeleng kepala. Sementara Zul menemui Kulsum di kamar. Melihat kekasihnya masih meringkuk dengan balutan selimut, Zul hanya bis menghela napas panjang.
"Jangan lupa memasak" terang Zul berlalu keluar dari kamar Kulsum.
"Sudah aku katakan, aku nggak pandai memasak" keluh Kulsum.
"Ya sudah, bersiaplah untuk kehilangan aku" Zul mengancam.
"Sia!!" Kulsum mengumpat. Mau tidak mau dia harus bangun dan memasak. Perihal perjodohan dengan anak SMA, Kulsum sudah tahu itu dari Zul saat dia dan Azahra belum menikah. Namun dia mengira, anak SMA itu bukanlah Azahra.
Mengikat rambut asal, Kulsum ke dapur mengeluarkan sayur dari dalam kulkas. Berbekal resep dari YouTube, Kulsum berhasil memasak sayur kol campur wortel yang dipotong kecil memanjang.
"Semoga saja enak" gumam Kulsum menatap sayur yang dia sajikan di atas meja.
....
Usai makan malam, ketiganya nongkrong bersama di ruang keluarga. Mereka sempat bercanda gurau walau belum terlalu akrab. Melihat Kulsum mulai lengket pada Zul, Azahra memilih mengambil kesibukan lain. Membuka aplikasi Facebook, Zahra mulai mengetik sesuatu.
"Open PO. Totebag cantik bisa digunakan kemana saja. Pesta, ke kampus, apalagi kerja. Yuk diorder Totebag nya. Soal kualitas, jangan diragukan lagi. Zahra Olshop menjual barang berkualitas dengan harga dijamin tak menguras kantong para Mbak-Mbak sekalian"
Setelah mengetik deskripsi postingannya, Azahra mulai menekan bacaan atau tulisan kirim. Saat berhasil di unggah, Azahra kembali ke aplikasi lain berupa aplikasi Shopee. Menekan kata saya, mengklik bacaan kirim kemudian mengklik bacaan selesai. Manik mata indahnya terfokus penuh pada pesanan selesai. Ia menekan nama Toko favoritnya yang menjual totebag cantik berkualitas dengan harga ramah dikantong.
Sementara mengklik salah satu warna yang akan dimasukkan ke dalam keranjang, Azahra mendapati Kulsum yang hendak mencium Zul.
__ADS_1
"Astaghfirullah ... Apa Kakak berdua menganggap ku hantu!" pekik Zahra kesal.
Cis!! Kulsum berdecih. Sementara Zulfikar terlihat salah tingkah.
Kesal, Zahra masuk ke dalam kamar dan tak lupa menguncinya dari dalam. Di dalam, ia menangis dalam selimut. Tak cinta, bukan berarti tak menghargai.
"Kenapa Ayah mempercayakan aku pada Kak Zul ... Dia bukan pria baik-baik" ucap Azahra terisak.
Di larut malam, saat Kulsum sudah tidur, Zul berniat menyelinap ke kamar Azahra. Dengan tangan memegang amplop coklat, Zul melangkah keluar dari kamar. Mencoba memasukkan kunci, namun pintu tak bisa dibuka.
"Sepertinya ada kunci di dalam" batin Zul. Mau tidak mau, Zul kembali ke kamarnya. Meletakkan amplop coklat dia atas nakas, pria itu naik di atas tempat tidur.
....
Seperti hari kemarin, Azahra membuat sarapan untuk mereka bertiga. Selain itu, ia juga menyapu rumah dan mencuci piring. Setelah mengenakan seragam sekolah, memasukan buku dan peralatan lainnnya ke dalam tas, Azahra menarik langkah ke dapur untuk sarapan lebih dulu. Sementara Zulfikar masih tidur begitu juga dengan Kulsum. Usai sarapan, Zahra masuk ke kamar suaminya.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Zul tiba-tiba membuka mata.
Zul menarik diri sedikit duduk. Mengambil amplop coklat berisi uang lalu menyodorkannya pada Azahra. "Kemarin aku gajian, dan itu gaji aku. Kamu bisa gunakan untuk keperluan kita. Dan kalau kamu mau beli sesuatu untuk kamu, kamu bisa beli tanpa harus meminta izin" jelasnya.
"Zul ..." panggil Kulsum.
Azahra tak sempat menanggapi. Segera wanita itu mencium tangan suaminya lalu kabur dari kamar Zul sebelum Kulsum keluar dari kamarnya.
Melihat Azahra, Zul terkekeh. "Maafkan aku yang tak bisa mencintaimu" gumamnya pelan.
Membelah jalanan kota, Azahra menjemput Asna terlebih dahulu sebelum ke Sekolah. Dan kini, dia telah sampai di depan rumah sahabatnya. Membunyikan klakson berulang kali, Asna lari terbirit-birit dari dalam.
"Kau ... berisik tahu!!" ketus Asna.
"Kamu sih, lama bangat" celetuk Azahra. "Ayo cepat, nanti kita terlambat" sambungnya melotot.
__ADS_1
Tak lupa mengenakan helem, Asna naik di atas motor. Kembali membelah jalanan kota, keduanya tertawa di atas motor. Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun tiba di sekolah.
Seperti biasa, keduanya akan bergabung dengan teman sekelas walau hanya sebentar saja. Belajar harus, menjalin silaturahmi dengan teman sekelas juga harus. Duduk di emperan kelas seperti biasanya, mereka sempat bercanda hingga bel apel pagi terdengar.
Di lain tempat, Kulsum menunggu Zulfikar yang sementara mencari kunci motor. Entah pria itu meletakkannya dimana. Seingat Zul, kunci motor miliknya diletakkan di atas meja ruang tamu.
"Zul ... ayo cepat ..." panggil Kulsum cemberut.
"Tunggu sebentar ..." sahut Zul dari dalam. Pria itu mengulas senyum saat melihat kunci motornya ada di dalam kamar. Zul berlari keluar menghampiri Kulsum yang wajahnya tak lagi bersahabat.
"Lama bangat sih!!" ketus Kulsum.
"Ck Ck Ck ... Apa kamu nggak bisa bersabar? Kalau aku tahu dimana ini kunci berada, nggak mungkin aku berlama lama di dalam sana" ucap Zul mulai kesal. Walau sering tak sependapat, hubungan keduanya tetap langgeng hingga kini.
Ting...!! Satu pesan masuk di ponsel Kulsum. Segera Kulsum membukanya.
"Kalian dimana? Kelompok kita yang pertama presentasi" gumam Kulsum membaca pesan dari Qonita.
"Ayo cepat naik!" titah Zul. Segera Kulsum naik di atas motor. Dalam perjalanan, Zul terus diam, sementara Kulsum berbalas pesan dengan salah satu mahasiswa jurusan Keperawatan bernama Ardi Ardiansyah.
Setibanya di kampus, Zul dan Kulsum berlari kecil menuju ruangan C103. Tak lupa mengucap salam, Zul dan kekasihnya segera mengambil tempat di kursi kosong penghuni. Belum semenit, Pak Niko masuk ke dalam kelas untuk membuka diskusi.
...
Diskusi berjalan lancar, semua pertanyaan dapat dijawab oleh peserta kelompok satu. Berhubung Pak Niko harus ke Auditorium untuk rapat, maka kelompok yang maju presentasi hanya satu kelompok saja.
Duduk diantara Zul dan Qonita, Kulsum menyenggol Zulfikar. "Pinjam uang 150 ribu dong, aku mau beli sesuatu untuk teman aku yang ulang tahun hari ini" bisik Kulsum namun masih bisa didengar oleh Qonita.
"Aku nggak punya balas" balas Zul dengan jujur.
"Aku tahu kamu gajian kemarin" kata Kulsum lagi. Nyatanya, wanita itu tahu tanggal berapa Zulfikar gajian.
__ADS_1