SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 25


__ADS_3

Pukul 19:02 PM. Tepatnya dikediaman Azahra. Haikal diintrogasi Asna di garasi kontrakan–perihal wanita yang pagi tadi dibonceng oleh Haikal. Haikal menyunggingkan senyum mendengar pertanyaan dari Asna. Wanita cantik berkulit eksotis itu begitu suka blak blakan. Jika dia marah, tak segan baginya untuk langsung bertanya.


"Awas kalau bohong!" Asna memelototi Haikal, sang kekasih yang justru terkekeh.


"Aku nggak bohong, Asna ..."Haikal mengacungkan dua jarinya diudara. Dan tak lupa senyum manis yang kerap menghiasi wajah tampannya.


"Ya sudah, ayo kita ke dalam" Asna menarik tangan sang kekasih.


Di dalam kontrakan, sudah ada Irwan, Gea, Geovani dan penyewa kontrakan, Azahra yang cantik jelita. Mereka tinggal menunggu Faisal, Assagaf dan juga Qonita yang belum ada kabar sama sekali. Sambil menunggu ketiganya, mereka menghabiskan waktu untuk bercanda gurau. Hingga percakapan mereka terhenti saat menyaksikan kepergian Zulfikar yang tanpa kata. Entah pria itu mau kemana, namun terlihat terburu buru.


"Zah, kok Kak Zul pergi sih? Apa dia marah ya kita party di sini!" ucap Gea setelah Zul pergi


"Ya nggak lah, paling pergi malam mingguan. Udah, jangan mikirin itu" balas Azahra acuh tak acuh.


Drt ... Drt ... Drt ... Ponsel Haikal bergetar. Segera Haikal merogoh ponselnya dari saku celana yang dia kenakan saat ini. Melihat nama kontak si penelpon, Haikal segera menjawabnya.


"Katakan pada Zahra, Kakak dan Kak Qonita sedang ada urusan diluar jadi nggak bisa datang" ungkap Assagaf.


"Oh iya, Kak. Ini aku speaker jadi Zahra udah tahu" ucap Haikal.


"Baiklah. Selamat bermalam minggu" ujar Assagaf.


"Iya, Kak" balas Haikal. Mengucap salam, lalu memutuskan panggilan.


Haikal menatap Azahra. "Sudah dengar sendiri kan, Kak Asgaf dan Kak Qof nggak bisa datang" jelasnya pada wanita yang kini menatap tanya padanya.


"Kamu kenal mereka?" tanya Azahra. Pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Azahra mengundang gelak tawa Haikal.

__ADS_1


"Kalau aku nggak kenal, ya nggak mungkin aku punya kontak mereka atau mereka mau menghubungiku, Azahra ..." jelas Haikal gemas.


"Haikal dan Kak Asgaf itu adik Kakak" timpal Asna menjelaskan. "Tapi kok kamu bisa kenal Kak Asgaf sih. Gimana ceritanya?" sambung Asna heran. .


Kembali Azahra yang menghela napas panjang. "Kak Asgaf dan Kak Qonita sering ngerjain tugas kampus di sini. Mereka teman baik Kak Zul" jelasnya.


Mereka semua mengangguk paham. Berhubung Gea sudah lapar, mereka pun berniat memulai makan malam bersama. Tapi, bagaimana dengan Faisal? Dialah pria yang ditunggu oleh Azahra. Bahkan makanan favorit nya pun telah tersaji di atas meja.


Ting!! Satu pesan masuk di ponsel Azahra. Segera wanita itu mengecek ponselnya lalu membaca pesan masuk dari pria yang sedari tadi dinantikan kehadirannya.


"Guys, Kak Faisal juga nggak bisa datang. Katanya sih dia lagi mau ke Palu, ada urusan keluarga yang nggak bisa ditinggal" ungkap Azahra. Jujur, dia sedih membacanya tapi dia tak boleh menampakkan kesedihan itu.


"Ya sudah, ayo kita makan. Aku udah lapar" timpal Irwan beranjak dari sofa.


Setelah makan malam dan membersihkan piring kotor, mereka kembali ke ruang keluarga. Kembali merajut kisah yang akan menjadi kenangan terindah dihari esok. Lagu berjudul sahabat sejati, anugrah terindah yang kumiliki, dan masih ada beberapa lagu yang mereka nyanyikan bersama–menjadi saksi bisu malam itu.


Di lain tempat, para penghuni Pondok Mega keluar dari kamar masing-masing. Tak sedikit dari mereka menatap ngeri sikap Hadi yang tanpa ampun memukul Zulfikar. Mereka yang juga baru tahu siapa Kulsum sebenarnya, menatap benci wanita itu. Karenanya, karena kebohongannya, Zulfikar yang dikenal baik dan penyayang harus menima akibat dari kebohongan itu. Andai Kulsum tak berbohong, Zukfikar juga tidak akan menjadikannya kekasih. Bahkan membiayai hidup wanita itu selama dua tahun lebih.


Bugh!!


Bugh!!


Bugh!!


"Dasar pebinor! Apa nggak ada wanita lain di dunia ini sampai-sampai kau pacari istri orang? Hah! Jawab aku sialan!!"


Tak pernah terbayangkan dirinya akan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain. Sungguh! Dia begitu menyesalinya. Menyesal telah berjuang untuk wanita yang memanfaatkan cintanya yang tulus. Dua tahun lebih dia bersama Kulsum, melewati hari yang indah bersama. Dan semua itu, hanyalah kisah yang dirajut rapih menjadi kenangan pahit dalam hidup.

__ADS_1


Sakitnya dipukuli hingga berdarah tak sebanding dengan sakitnya dipukuli oleh kenyataan. Dibohongi dan dimanfaatkan, sungguh! Dua perbuatan yang paling menyakitkan dan sulit dilupakan.


Merasa dirinya salah, Zul tak melawan sekalipun sudah berulang kali dia dipukuli oleh suami dari kekasihnya itu. Hadi, tanpa bertanya terlebih dahulu, pria itu berulang kali menghujani tinju pada wajah Zulfikar.


"Sayang hentikan! Kau bisa membunuhnya sayang. Aku mohon, hentikan sayang ...!" Teriakan Kulsum, menyadarkan Hadi akan tindakannya yang membabi buta.


Zulfikar memegangi wajahnya yang babak belur, sedikit perih hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Cepat pergi dari sini!!" Hadi mengarahkan tangan pada pintu.


....


Semua orang telah pulang, menyisakan Azahra seorang di rumah. Melirik jam pada pergelangan tangannya, waktu telah menunjukan pukul satu malam. Walau sudah larut, Azahra tak langsung tidur. Wanita itu bergegas ke kamar mengambil paket yang tadi siang dia ambil di J&T Puri Kencana Sari depan MTOS. Lalu kembali membawa paket ke ruang tamu bersama gunting, lakban coklat dan bening, serta pulpen dan buku nota.


Dengan teliti dan cekatan, dia memisahkan setiap pesanan dari alamat yang berbeda. Hingga pukul dua malam, dia masih bergelut dengan paket.


"Zahra, semangat!! Setelah packing baru kamu tidur. Semangat Zahra!!" ucapnya pada diri sendiri.


Uwwuuaaaaahhh ... "Ya Allah, aku mengantuk" gumamnya seraya membuka mata lebar-lebar.


Beberapa belas menit kemudian, Zulfikar datang dengan wajah yang terlihat babak belur. Memasuki rumah, pria itu mendapati Azahra tertidur pulas di lantai.


Perlahan, Zul mendekat. Ditatapnya wajah cantik itu cukup lama. Walau saat tidur pun, Azahra tetap terlihat cantik. Bila dibandingkan dengan Kulsum, Azahra masih berada di urutan pertama.


"Dia dan Faisal sangat cocok" batin Zulfikar.


Walau tubuhnya sakit dipukuli, begitu juga dengan wajah tampannya yang lebam. Tak menghentikan niat Zulfikar. Dengan menahan sakit, Zulfikar mengangkat Azahra membawanya ke kamar.

__ADS_1


"Dasar Zul sialan! Dia pergi saat teman-temanku datang!" Azahra mengumpat dalam tidurnya. Menghentakkan kaki, wanita itu mulai meringkuk.


"Itu tidur atau apa?" gumam Zul bertanya-tanya sembari menutup tubuh Azahra dengan selimut.


__ADS_2