SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 27


__ADS_3

"Huuu ... Huuu ... Cepat ambilkan aku handuk. Huuu ..." titah Zulfikar meringkuk memeluk kedua lututnya.


"Tunggu di situ!" tegas Azahra segera mengambil handuk di gantungan. Lalu memberikannya pada Zulfikar yang meringkuk bak anak kecil.


"Kak Zul, panggil aku jika sudah selesai. Aku tunggu di ruang tamu" ucap Azahra sebelum melenggang keluar dari kamar Zulfikar.


Menatap punggung Azahra, Zulfikar menarik senyum dikedua sudut bibirnya. "Patuh, berani bentak, suka ngambek, nggak mau dibantah. Azahra ... Azahra" gumam Zul menggelengkan kepala.


Beberapa menit kemudian, Zulfikar selesai mengenakan pakaian. Memar di wajahnya pun tak separah semalam. Badannya pun terasa ringan dan jauh lebih segar.


Bip Bip Bip ...!! "Zahra ... Zahra ..." Asna yang dibonceng Haikal memanggil.


Si pemilik nama keluar menghampiri. Membuka gembok pagar, Azahra membawa keluar kresek merah berisi paket. Diserahkannya pada Haikal yang hari ini akan menjadi kurir sementara. Tanpa mereka sadari, Zulfikar memperhatikan mereka lewat jendela kamar yang tertutup tirai.


"Pantas penampilannya berbeda, nyatanya dia mau ke MTC“ gumam Zul menatap Azahra yang berbincang dengan Haikal dan Asna.


"Kok dia nggak pergi?" sambungnya bertanya tanya. Pasalnya, wanita yang tadi memperlakukannya bak anak kecil, dia masuk ke dalam rumah. Sementara kedua temannya telah pergi.


"Kak Zul ... udah apa belum?" tanya Azahra berdiri di balik pintu.


"Sudah ..." sahut Zulfikar yang kini tak lagi berdiri, melainkan berbaring di tempat tidur.


Mendengar jawaban dari pria di dalam kamar, Azahra segera masuk menghampirinya. Dilihatnya wajah memar Zulfikar yang dia akui, wajah itu sangat tampan. Bila dibandingkan dengan Faisal, Faisal yang berada di urutan pertama dan Zulfikar diurutan kedua.

__ADS_1


"Kok bisa kek gini sih, Kak! Ini ceritanya gimana?" membuang napas kasar, Azahra mengambil tempat di sisi tempat tidur.


"Panjang ceritanya. Dek, bisa minta tolong nggak? Tolong belikan aku rokok dan minuman keras" pinta Zul.


Azahra menggeleng cepat. "Nggak mau, aku nggak mau beli minuman keras. Kalau rokok aku mau" jelas Azahra.


"Ya sudah, nggak usah. Oh ya, ada bonus telepon mu nggak?" tanya Zul lagi.


Azahra mengangguk. "Iya, ada" sahutnya.


"Bisa aku pinjam sebentar? Mau hubungi Assagaf" ungkap Zul lagi.


Azahra mengambil benda yang tak lain adalah ponsel dari dalam sling bag nya. Diberikannya pada Zulfikar yang langsung menerimanya. Dengan cepat, Zul memasukkan nomor kartu ponsel Assagaf kemudian melakukan panggilan telepon. Tak lama, panggilan terhubung.


"Ini aku, Zul. Kamu dimana?" tanya Zul setelah panggilan dijawab oleh Assagaf. Bahkan Assagaf pun belum sempat mengucap salam atau menyapa dengan kata Halo.


"Sial!!" Zul mengumpat. Tak menyangka dirinya akan menjadi topik pembicaraan di kolom komentar group Makassar Info. "Mau taruh dimana mukaku!" sambungnya mengacak acak rambutnya.


"Kamu sih, mau aja dimanfaatkan. Kau tahu, bukan hanya kamu yang dihajar oleh suaminya, Ardi dan Bagas pun babak belur. Bahkan mereka lebih parah daripada kamu" ungkap Assagaf.


"Bagas? Yang anak Farmasi itu?" tanya Zul memastikan. Masalahnya dia dan Bagas bisa dibilang dekat. Keduanya satu kelompok saat LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) yang diadakan pihak Kampus.


"Iya, aku juga baru tahu subuh tadi jam empat pas buka Facebook" ungkap Assagaf.

__ADS_1


Zulfikar menggertak kan giginya. Rahangnya mengeras. Jadi selama ini kesibukannya dimanfaatkan oleh Kulsum.


"Dan Ardi, giginya patah di bagian depan. Suaminya Kulsum marah besar karena Ardi sering ngajak Kulsum begituan" sambung Assagaf sesuai fakta yang dia baca di group.


"Apa?! Ardi? Kukira dia sepupu nya Kulsum" Zul kembali disakiti oleh kenyataan. Andai kemarin dulu dia tidak balikan dengan Kulsum, maka kejadian semalam tidak akan terjadi padanya.


"Sepupu dari hongkong!! Kamu ya ... benar-benar bodoh! Dia itu pacarnya Kulsum, bukan sepupunya! Coba kamu buka group Makassar Info, ada wajahmu, Bagas dan Ardi di sana" terang Assagaf.


"Zul ... buka pintu ..."


Terdengar suara Mama Aira di luar. Azahra yang sedari tadi menjadi pendengar setia, segera menemui Mama mertuanya. Sementara Zulfikar segera mengakhiri panggilan setelah diiyakan oleh Assagaf


Azahra yang sudah berada di luar, mencium tangan Mama dan Papa mertuanya. "Mama, Papa, ayo masuk" ajaknya tersenyum.


"Naudira, ayo sama Kakak" Azahra meraih tangan adik iparnya.


Mama Aira dan Papa Kurniawan yang sudah tak sabar bertemu Zulfikar, menarik langkah cepat ke dalam rumah. Disusul oleh Azahra dan Naudira.


"Papa, Mama" Zul mencium tangan Papa lalu Mamanya.


"Azahra, bawa masuk adikmu ke kamar" titah Papa Kurniawan. Segera Azahra membawa Naudira ke kamar. Di dalam kamar, Azahra mendengar Mama Aira.


"Ini kan yang kamu mau? Mempermalukan nama baik keluarga kita. Papa berjuang untuk memenuhi kebutuhanmu dan kamu berjuang untuk memenuhi kebutuhan istri orang lain" mata Papa Kurniawan memerah namun mencoba untuk tidak menangis seperti istrinya. Dia menyayangi putranya, tapi perbuatan putranya sudah sangat keterlaluan.

__ADS_1


"Pa ... maafkan aku .." Zul terisak. Mendekati sang Papa, memohon ampun padanya. Bergilir meraih tangan Mamanya. "Mama, aku mohon. Maafkan aku Mah. Aku tahu aku salah, tolong maafkan aku. Mama ingin aku hidup menua bersama Zahra kan? Aku akan melakukannya"


"Maafkan aku, Kak Zul. Aku nggak mau munafik. Tapi aku juga ingin bahagia, seperti wanita bersuami pada umumnya. Disayangi, dimanja, dinafkahi lahir dan batin" batin Azahra.


__ADS_2