SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 59


__ADS_3

Setibanya di Toko, Zulfikar menceritakan kejadian yang terjadi di Kampus pada Azahra dan juga Mama Aira. Ya, Mama Aira. Wanita itu sejak tadi datang di Toko. Dan Mama Aira pula yang meminta Azahra menghubungi Zul, memintanya segera pulang jika tidak ada lagi jam mengajar. Selain itu, Mama Aira melihat apa yang Zul lakukan saat di ruangannya, tentunya lewat ponsel Azahra. Ya, di ruangan Zul ada closet circuit television. Dimana Azahra bisa melihat suaminya saat pria itu berada di ruangannya.


"Bisa bisanya dia menjebak anak ku!" Mama Aira mengepal tangannya.


"Biarkan mereka mengambil jalur hukum, toh kita punya bukti kuat" ucap Azahra yang juga marah.


Nama Zulfikar mulai terkenal lewat kasus yang sama sekali dia tidak lakukan. Sekalipun banyak orang yang mencaci maki di kolom komentar, keluarga Zulfikar tak sedikit pun takut. Pasalnya mereka memiliki bukti nyata. Bukan bukti kaleng-kaleng.


Zulfikar bersama istri dan anaknya tengah bermain di ruang keluarga lantai dua. Sementara bermain, ponsel Azahra berdering, segera pemilik ponsel meraih gawai nya yang terletak di atas sofa.


"Nomor baru?" gumam Azahra ragu untuk menjawab.


"Coba kamu angkat Sayang, siapa tahu Asna" ucap Zul. Azahra segera menekan icon hijau lalu menekan speaker. Terdengar seseorang di seberang telepon mengucap salam. Azahra pun menjawab salamnya.


"Kamu dimana? Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Azahra terisak.


"Beb, kok nangis sih ... Cepat hapus air matamu, aku baik-baik saja di sini. Aku di rumah. Kenapa? Kangen aku ya?"


Azahra masih terisak. "Iya, aku kangen kamu. Kamu dimana?" tanyanya menyeka air matanya.


"Aku di rumah. Ini lagi temani Taufik tidur"


Di lain tempat, Haikal baru saja pulang dari mencari Asna dan putranya. Ia mendatangi warung yang Asna kelola namun tak mendapati Asna di sana. Bahkan Haikal menghubungi orang tua Asna namun tak ada respon.


Sebelum membuka pintu rumah, ponsel Haikal berdering, nyatanya Dea yang menghubunginya. Haikal pun menjawab panggilan dari kekasihnya itu. Belum juga memberi salam, wanita yang menghubunginya itu langsung saja berkata kasar. Bahkan mengatai Haikal bodoh dan segala macamnya.


"Cobalah untuk mengerti aku, Dea. Anak dan istriku pergi, aku nggak tahu mereka dimana. Tolong, jangan buat aku semakin stres. Kamu bisa naik ojek dulu, sekarang baru jam 8 malam"


"Masa bodoh! Aku maunya kamu yang jemput. Titik!

__ADS_1


"Kamu bisa ngertiin aku nggak sih?" Haikal masih bersabar. "Aku masih mau nyari istri dan anak aku" tambahnya.


"Ngapain harus dicari sih?! Bagus dong mereka pergi. Aku nggak perlu repot-repot jagain anak kamu dari wanita bodoh itu"


"Jaga bicaramu, Dea! Sekali lagi kamu mengatai Asna bodoh aku putusin kamu" Haikal mengancam.


"Siapa takut? Ayo kita putus! Ingat! Mulai saat ini juga kita berdua nggak ada hubungan apa-apa lagi!!"


Wanita diseberang telepon memutuskan panggilan. Haikal hanya bisa menatap nanar layar ponselnya. Dia baru sadar, Dea tak setulus Asna. Haikal mengingat satu tempat, rumah Nenek. Segera pria itu bergegas ke rumah Nenek Asna. Hanya beberapa belas menit saja, Haikal sampai di rumah Nenek Asna. Di depan rumah terlihat gelap, ruang tamu juga gelap. Bahkan di bagian dapur pun gelap.


"Kalian dimana Sayang? Aku kangen kalian berdua" gumam Haikal menatap langit yang menampilkan bintang-bintang.


Di dalam kamar, Asna mengintip lewat jendela. Dia sengaja mematikan lampu, takutnya Haikal datang mengambil Taufik darinya. Netra mata Asna mulai berembun, ada rindu yang dia pendam. Antara rindu dan rasa kecewa, rasa kecewa lebih dominan. Awalnya dia menyalahkan dirinya, karena gagal membuat suaminya nyaman. Tapi setelah dipikir pikir, dia tak patut menyalahkan dirinya sendiri.


"Maafkan aku, mungkin perpisahan adalah jalan terbaik untuk kita" batin Asna.


"Sayang, dimana pun kalian berada, aku berharap kalian baik-baik saja" batin Haikal.


Asna di dalam kamar masih belum tidur. Wanita itu terjaga selama Haikal di luar rumah. Dia berharap Taufik tidak menangis.


Di lain tempat, Zulfikar membalas pesan di group Dosen. Isi pesan dalam group mendesaknya menikahi Siti. Namun Zul mencoba mengendalikan emosinya. Dia sudah menghubungi Kaprodi secara pribadi tanpa harus masuk dalam group namun Ibu Kaprodi tidak merespon pesan dari Zul, justru wanita tua itu berkoar koar di dalam group.


"Sayang, apa masalahnya belum selesai?" Azahra bertanya. Dia tidur ber bantal paha suaminya di ranjang.


"Belum Sayang. Ibu Nonik tetap kekeh minta aku nikahin putrinya" ungkap Zul.


Azahra berdecih. Wanita itu menarik diri hingga posisi duduk. "Sini biar aku yang balas" Azahra mengambil ponsel dari tangan suaminya.


"Sayang ... tolong aku ..." rengek Zul memeluk sang istri. Azahra tertawa. Jari jemarinya mulai mengetik sesuatu.

__ADS_1


"Saya Azahra, istri Pak Zul. Saya punya bukti atas tindakan putri Ibu yang tidak sopan. Jika Ibu ingin lihat, saya bisa kirim buktinya sekarang. Bagaimana? Apa Ibu mau saya kirim di group ini?"


Pesan Azahra hanya dibaca oleh rekan Dosen, tak ada tanda seseorang sedang mengetik. Tak lama, Nama Ibu Nonik terlihat sedang mengetik.


"Besok jam 10 saya tunggu kamu dan suami kamu di ruangan saya"


"Baik, Buk. Bawa putri Ibu juga, saya ingin memberinya pelajaran"


Setelah mengirim pesan terakhirnya, Azahra mematikan data. Kemudian dia mengajak suaminya tidur.


Azahra dan Zul telah berada di Kampus depan pintu ruangan Kaprodi. Kedua pasangan itu datang satu jam lebih awal dari waktu pertemuan. Ada beberapa Dosen yang juga datang lebih awal, mereka menatap Azahra yang tak sedikitpun tersenyum. Azahra sengaja memasang ekspresi judes agar tidak ada yang mendekat.


Samar sama terdengar mereka membicarakan sikap Azahra yang konon nya tidak sopan. Azahra tidak perduli. Di dalam group mereka mengatai Zul, dan satu jam lagi, Azahra akan membungkam mulut mereka.


"Sayang, itu kaprodi dan anaknya" bisik Zul menatap dua wanita yang baru keluar dari mobil.


"Oh, jadi itu wanita murahan yang menjebak mu" gumam Azahra tak sedikitpun mengagumi kecantikan Primadona Kampus itu.


Azahra dipersilahkan masuk begitu juga dengan Zulfikar. Kedatangan Zulfikar dan istrinya membuat Fakultas heboh. Banyak mahasiswa juga mahasiswi yang memasang telinga di luar.


"Sekarang juga aku minta kamu akui kesalahanmu" tegas Azahra pada Siti.


Siti menunduk, seakan dia masih trauma. Melihat sikap siti yang semakin mendalami perannya, Azahra tak tahan lagi ingin melabrak anak Ibu Nonik itu.


"Kuberi kamu kesempatan sekali lagi, silahkan kamu akui perbuatan mu" kembali Azahra berucap.


"Hentikan Ibu Azahra!" Ibu Nonik memukul meja. "Anda sudah sangat keterlaluan!!" serunya.


Azahra mulai tersulut emosi. Wanita itu mengeluarkan ponselnya lalu memutar video dimana Zul memeriksa skripsi milik Siti hingga dengan tidak sopan nya Siti mendesah di saat Zul menerima panggilan.

__ADS_1


__ADS_2