SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 69


__ADS_3

Hai, Kak. Kita jalan di tempat lagi ya. Karena novel ini akan tamat setelah Taufik ke Luar Negeri. Jadi tinggal beberapa episode lagi novelnya akan Tamat.


Zulfikar sengaja bangun lebih awal untuk membantu putrinya bekerja. Saat ia bangun, sang putri telah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk kedua orang tuanya. Hati siapa yang tak bahagia saat putri mereka bisa diandalkan. Tentu semua Mama di luaran sana mengimpikan keturunan yang rajin. Rajin menabung juga rajin bekerja, terutama membantu orang tua.


Berhubung semua pekerjaan sudah kelar, Zulfikar kembali ke kamar. Dia menatap jam dinding, di sana menunjukan jam 6 pagi. Zulfikar segera menyiapkan pakaian ganti juga perlengkapan lainnya untuk sang putra sebelum di mandikan.


"Zahira ... bisa bawakan Papa air hangat sedikit, Nak?"


"Bisa Papa ..." sahut Zahira. Zahira datang membawa termos kecil berisi air panas. Segera gadis cantik itu menuangkan air panas secukupnya di bak mandi adiknya.


"Sudah" Zahira memberitahu sang Papa yang sementara melepas pakaian baby Furqan.


Dengan telaten, Zulfikan memandikan putranya sementara Azahra masih tidur. Dia seperti orang yang balas dendam pada suaminya. Bagaimana tidak, saat dia melahirkan Zahira, dia menjadi Mama mandiri. Dia menjaga putrinya tanpa bantuan Mama ataupun Mama mertuanya. Bukannya mereka tidak mau membantunya tapi Azahra yang menolak dibantu. Lewat arahan dari sang Mama mertua juga dari para Dokter dan Bidan pada aplikasi YouTube, Azahra berhasil melewatinya.


"Masya Allah ... Furqan udah gemuk ya, Pa. Gemoy sekali dia" ucap Zahira menatap senyum adiknya. "


"Papa, kalau usia Furqan udah 3 bulan, aku yang mandiin adek ya" tambahnya kemudian.


"Boleh, tapi kamu harus hati-hati"


Zahira mengangguk cepat. "Pa, aku ke kamar dulu. Oh ya, Papa yang ngantar aku ke sekolah atau?" tanyanya sebelum pergi.


"Papa yang ngantar" jawab Zul seraya membawa putranya pada handuk halus yang sudah dibentang di atas ranjang.


Zahira menggiring langkah ke kamar setelah mendapat jawaban. Tak berapa lama, dia sudah selesai bersiap-siap dan sudah siap berangkat ke Sekolah.


Semakin dinasehati oleh orang tuanya, Zahira perlahan menguasai dirinya. Dia tidak lagi caper (cari perhatian). Bahkan dia tak lagi minta Taufik mengajarinya soal matematika. Ini bukan lagi trik yang dia gunakan untuk memikat Taufik tapi ini dia lakukan atas kemauannya sendiri tanpa adanya niat terselubung.

__ADS_1


Semakin dijauhi Zahira, Taufik semakin jengkel. Entahlah, dia pun bingung. Harusnya dia bahagia Zahira menjauhinya. Tapi kenapa bukan kata 'Bahagia' yang dia rasakan melainkan 'rindu berat' yang dirasa.


"Bro, aku yakin kamu pasti senang kan dijauhi Zahira. Secara momen seperti ini yang kamu tunggu hampir setahun ini" ucap Rio, tatapannya tak lepas dari gadis cantik yang sedang main voli di lapangan.


"Ya iyalah dia bahagia. Orang yang dia benci udah tahu diri" timpal Gery juga menatap Zahira.


"Zahira ...!" panggil Fenda agar Zahira bersiap melakukan smash. Peluh Fenda bercucuran, segera gadis cantik itu menyekanya. Zahira bersiap, lalu melompat tinggi melakukan smash.


"Yeaaaaaaaah ....!!" anak kelas 1A bersorak girang setelah Zahira berhasil mencetak satu poin.


Pertandingan bola voli semakin ramai juga semakin menegangkan. Terlebih ini membawa nama kelas, jelas-jelas tim Zahira harus menang. Rio dan Grey meninggalkan Taufik seorang di gazebo, sementara mereka masuk dalam kerumunan guna menyaksikan pertandingan yang berlangsung di pagi hari.


"Semangat Zahira ... Fenda ... Semangat kelas A ..." teriak Kansa.


Dalam sekejap, banyak siswa laki-laki yang mengagumi Zahira dan Fenda. Pukulan servis juga smash yang mereka lakukan tak dapat di blocks oleh lawan. Bahkan Rio dan Gery pun mulai mengagumi Zahira.


"Jangan ada dusta diantara kita" ucap Rio menyenggol lengan sahabatnya.


"Enak saja, kamu saja yang mengalah. Kamu dan aku lebih ganteng aku, jadi biarlah aku yang memikat hati Zahira" Rio tak mau kalah.


Dari kejauhan, Taufik juga menyaksikan pertandingan itu. Tapi bukan dari gazebo, melainkan dari lantai dua kelas.


Permainan berakhir, tim Zahira memenangkan pertandingan melawan kelas 1B. Besok, mereka akan melawan senior yang satu tingkat diatas mereka. Bila besok mereka menang, mereka akan melawan anak kelas 3.


"Pulang sekolah nanti kalian berdua langsung istirahat" ucap Kansa mengingatkan.


"Iya" Zahira tersenyum begitu juga dengan Fenda.

__ADS_1


"Beb, besok jam berapa kita mulai?" tanya Jasmin, pemain voli kelas 1A..


"Jam 10. Usahakan jam 9 kita semua sudah di sekolah. Bukan baru star dari rumah ke sekolah" ucap Zahira.


Ting!! satu pesan masuk di ponsel Zahira. Gadis cantik itu tak menggubrisnya walau dia tahu siapa yang mengirim pesan itu. Untuk mencega rasa tak nyaman, Zahira memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dan tak lupa menggunakan profil diam. Lalu dengan santai dia bercengkrama dengan teman-temannya.


Di belakang sekolah, Taufik mendengus kesal saat Zahira tak kunjung menjawab panggilan darinya. Membaca pesan yang dia kirim pun tidak. Tanpa Taufik tahu, Zahira sengaja mengabaikannya.


Kesal, Taufik mencari Zahira dan mendapati gadis itu sedang duduk bertiga di kantin. Tak mau tahu, dia menghampiri Zahira yang mencoba masa modoh seakan tak melihat Taufik berjalan ke arahnya.


"Ikut aku sebentar!" ucap Taufik berlalu keluar dari kantin.


Sebenarnya Zahira enggan, tapi ... dia tak ingin anak dari Tente Asna malu. Pasalnya, semua siswi dan siswa tahu, betapa bencinya Taufik pada Zahira. Dan sekarang, mereka melihat pria kulkas itu menghampiri Zahira. Tentu tindakan juga tontonan yang tak biasa itu mengundang tanya dalam benak mereka.


"Tunggu bentar ya" ucap Zahira pada Kansa dan Fenda. Keduanya temannya mengangguk.


Zahira menggiring langkah mengikuti Taufik dari belakang. Taufik berhenti di bawah pohon depan ruang guru.


"Bisa cepat nggak sih!" desis Taufik menatap tajam Zahira.


Zahira tak menggubris, dengan santai dia berjalan lalu berhenti di depan Taufik. "Ada apa? Tumben manggil aku. Udah sadar ya kalau aku cantik! Kakak sih, sok-sok an" Zahira tersenyum kecil setelah mengatakannya.


"Katakan, ada apa Kakak memanggilku?" tanya Zahira serius.


Taufik mulai salah tingkah. Dia tak tahu harus memulai dari mana. Dia pun tak mengerti dengan dirinya sendiri. Mengapa dan kenapa dia yang begitu tidak menyukai Zahira tiba-tiba kesal melihat Zahira dikagumi oleh banyak pria.


"Sepertinya aku harus bertanya pada Mama dan Papa" gumam Taufik pelan namun masih bisa di dengar oleh Zahira. Lalu dengan langkah cepat Taufik meninggalkan Zahira yang menatap aneh dirinya.

__ADS_1


"Dasar pria nyebelin!! Lihat saja nanti, berani dugaanku benar, akan ku tolak cintamu!!" umpat Zahira kesal.


Untuk Mbak Mamahe Vishnu, jangan mampir di semua karya saya, karna semua karya saya akan membuat Mbak Kecewa. Terima kasih ya untuk bintang 1 nya. Dan maaf, saya juga masih belajar. Jadi mohon sekiranya untuk memperjelas dimana letak kesalahan hingga membuat anda kecewa dan memberi novel ini bintang 1 ๐Ÿ™๐Ÿ™. Sekalian mau minfa maaf juga karena saya hapus komentar Mbak di 2 novel saya. Alasannya karena Mbak tidak memperjelas alasan penyebab mbak kecewa. Entah dari bahasa, alur, atau apanya, Saya tidak tahu. Jadi, untuk mencegah tanda tanya, saya hapus komentar Mbak Mamahe Vishnu ๐Ÿ™


__ADS_2