SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 41


__ADS_3

Setelah melewati beberapa tahap pemeriksaan, dokter mendiagnosa penyakit yang di derita oleh Asna. Gadis cantik yang baru berusia 19 tahun itu mengalami komplikasi pada bagian paru-paru. Bahkan terdapat pembengkakan di bagian jantungnya.


"Sayang, maafkan Mama" ucap Mama Diana, Mama kandung Asna.


"Mama nggak salah, tapi akulah yang salah" jelas Asna bergetar menahan tangis juga rasa kecewa yang selama ini ia pendam. Hati gadis cantik itu teramat sakit di rasa. Ingin membenci tapi orang tuanya juga manusia biasa. Dimana mereka juga butuh kebahagiaan.


"Kami tahu, kamu membenci kami. Satu yang harus kamu tahu, Mama dan Papa menyayangimu" timpal sang Papa.


Asna hanya diam, ingin rasanya dia berteriak saat ini juga. Sayang? Apa benar mereka menyayangi nya? Apa benar begitu. Jika iya, kenapa keduanya tak mengikis ego masing-masing, kenapa? Bukankah mereka menikah karena cinta. Lantas, dimana perginya cinta itu?


Baru pagi tadi Mama Diana mengungkap permohonan maaf. Dan kini, ia datang berpamitan pada sang putri. Hati siapa yang tak teriris saat masih sakit namun harus ditinggal pergi oleh wanita yang telah melahirkannya?


"Pergilah, Ma" ucap Asna menahan tangis. Mulutnya berkata pergilah tapi hatinya berkata jangan pergi.


"Jaga kesehatanmu dengan baik. Jangan mencuci pakaian malam-malam. Nanti penyakit mu kambuh lagi" kata Mama Diana sebelum melenggang pergi.


Haikal dan Azahra yang baru saja tiba di depan ruang rawat Asna, hanya bisa menyaksikan kepergian Mama Diana. Melihat sikap Mama Diana, Haikal semakin teguh akan keputusannya. Haikal maupun Azahra menemui Asna yang sendirian di dalam.


"Assalamualaikum" ucap Azahra dan Haikal bersamaan. Keduanya menghampiri Asna yang duduk bersandar pada tempat tidur rumah sakit.


"Waalaikumsalam" jawab Asna segera menyeka air matanya yang sempat membasahi pipi.


Mengambil tempat di sisi kiri sang sahabat, Azahra menatap Asna yang kurus. Boleh dikata baru sehari gadis cantik itu di rawat di Rumah Sakit.


"Kita pulang, yuk. Aku bosan di sini" ungkap Asna mengayunkan bibir ke depan.


Haikal melotot. Pria itu menatap tajam calon istrinya. "Tetap di rumah sakit sampai dokter berkata kau sudah diperbolehkan pulang"

__ADS_1


Azahra terkekeh. Sementara Asna mendengus kesal. "Kau tahu, aku punya sesuatu untuk kamu" beritahu Azahra.


"Apa?" tanya Asna dengan binar bahagia.


Azahra mendekat lalu membisikan sesuatu pada sang sahabat. Sedetik kemudian Asna bersorak girang. "Benarkah?" tanyanya memastikan.


Azahra mengangguk cepat.


Seminggu berlalu, Asna telah diperbolehkan pulang. Kini, mereka dalam perjalanan pulang ke rumah. Di rumah, ada Nenek yang merindukannya. Sejak Asna masuk rumah sakit, Nenek tidak diperbolehkan ke rumah sakit. Bukannya apa, tapi mereka takut Nenek jadi drop melihat kondisi cucunya.


Beberapa puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Zulfikar telah sampai di depan kediaman Asna. Di depan rumah, ada kawan-kawan Asna yang menemani Nenek selama Asna di rumah sakit.


"Mau Papa gendong?" tanya Papa kandung Asna.


"Nggak perlu, Pak. Aku bisa sendiri kok" balas Asna


Di kamar, Asna telah di make up seadanya oleh Gea. Walau hanya seadanya, tapi terkesan cantik dan anggun.


"Kamu cantik bangat, Beb" ucap Geovani menatap takjub sang sahabat.


Asna terkekeh. "Bukan aku yang cantik, tapi Gea yang pandai dandanin aku" jelas Asna.


"Hei, calon suami kamu udah datang" ucap Azahra memberitahu.


"Iiiih ... aku juga pengen nikah" ucap Gea mengayunkan bibir.


Asna, Geovani dan Azahra tertawa pelan. Pasalnya, Gea tak punya pacar. Bukannya tak ada pria yang naksir padanya tapi peringatan dari sang Ayah membuat dirinya tak berani menjalin kasih bersama pria manapun.

__ADS_1


"Itu cowok yang dijodohin sama kamu, kenapa belum melamar juga?" tanya Geovani diakhir tawanya.


"Aku juga nggak tahu. Dan nggak mau tahu. Sebel aku di jodoh jodohin" jawab Gea dengan kesal.


"Beb, nggak selamanya nikah karena perjodohan itu berakhir cerai. Buktinya aku, aku dan Kak Zul baik-baik saja sekarang" jelas Azahra.


"Iya juga sih" Gea membenarkan.


Perbincangan diakhiri saat mempelai wanita diminta ke keluar dari kamar. Kehadiran Asna membuat mempelai pria senyam-senyum sendiri. Tentu hal itu mengundang gelak tawa orang-orang yang ada di sana.


"Saudara Haikal Fahad bin Sulaiman Fahad saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putriku Asna Ariana binti Sukri dengan mas kawin seperangkat alat shalat, perhiasan emas sepuluh gram dengan uang lima puluh juta rupiah dibayar tunai"


"Saya terima nikah dan kawinnya Asna Ariana binti Sukri dengan mas kawinnya tersebut dibayar tunai" jawab Haikal dalam satu helaan napas.


"Bagaimana saksi, sah?"


"SAAH..."


Saat kata 'Sah' terdengar memenuhi ruangan, saat itu pula Asna menitikkan air mata. Kini, dia telah menjadi istri dari Haikal Fahad, mantan kekasihnya yang tak disangka sangka akan menjadi suaminya.


"Terima kasih ya, Allah" batin Asna.


Setelah acara ijab kabul, sanak saudara dari pihak laki-laki pamit undur diri. Begitu juga dengan penghulu dan para tetua. Sementara Assagaf dan kawan-kawan adiknya masih di rumah Asna.


"Geovani, tunggu Abang sukses dulu ya baru Abang lamar" ucap Irwan mulai bertingkah.


"Iya, Abang. Adek pasti tunggu kok" balas Geovani mengikuti alur cerita yang dimainkan oleh Irwan.

__ADS_1


"Jangan percaya, Beb. Zaman sekarang ini yang udah ijab kabul saja masih nyari 02, apalagi yang masih bujangan. PHP, Beb" terang Gea.


__ADS_2