SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 74


__ADS_3

Waktu terus bergulir, Zahira sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Dalam perjalanan menuju rumah, Zahira dan Taufik memilih diam daripada bersuara. Sementara Berlin terus menghafal rumus Fisika.


"Taufik, kapan ke Luar Negri?" tanya Zul memecah keheningan.


"Insya Allah pekan depan, Om" jawab Taufik.


Zulfikar mengangguk. "Mama dan Papa juga ikut?" tanya Zulfikar lagi.


"Sepertinya begitu, Om. Dengar dengar sih mereka di sana sekitar satu atau dua bulan" ungkap Taufik.


"Jadi pekan depan Kak Taufik sudah mau pergi. Baguslah, aku nggak akan bertemu es balok itu lagi" batin Zahira.


Huh!! Zahira menghembuskan napas kasar. Dia merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Harusnya dia bahagia Taufik ke Luar Negri, tapi yang dirasakannya justru sebaliknya. "Apa aku masih mencintai kulkas itu?" batin Zahira.


Mobil yang dikendarai Papa Zul berhenti di depan rumah dengan warna chat abu-abu. Di depan rumah ada Mama Azahra yang sedari tadi menunggu mereka. Bahkan para tetangga pun menunggu di depan rumah masing-masing.


"Papa, tolong bantu aku ke dalam" pinta Zahira. Dia bisa jalan sendiri tapi lututnya masih sakit.


"Iya, Sayang" sahut Zul keluar dari mobil. Zulfikar membantu putrinya sementara Taufik mengeluarkan koper Zulfikar dari bagasi. Berlin? Hmmm, pria itu langsung masuk ke dalam rumah.


"Mbak Zahra, obat kampung yang Mas Budi maksud semalam ada di pekarangan rumahnya Mbak Dita. Kata Mbak Dita nanti sore baru dia bawakan" beritahu Ijah, tetangga Azahra.

__ADS_1


"Alhamdulilah. Makasih ya Mbak Bela" balas Azahra.


"Sama-sama Mbak Zahra" sahut Mbak Bela.


Para tetangga masuk ke dalam rumah masing-masing. Tak berapa lama terlihat Asna dan Haikal sampai di rumah Azahra, disusul Oma dan Opa juga Kakek dan Nenek. Mereka semua masuk ke dalam rumah.


"Tante, dimana wajan besar? Biar aku yang masak airnya" ucap Taufik saat Azahra hendak menyalakan kompor gas.


"Ada di gudang. Ya sudah, nanti panggil Tante ya kalau airnya sudah mendidih" sahut Azahra.


Beberapa saat kemudian, airnya sudah mendidih. Taufik menurunkan nyala kompor gas kemudian menghampiri Tante Azahra di ruang keluarga. Melihat Taufik, Azahra paham.


"Sudah, Nak?" tanya Azahra.


Azahra mengikuti Taufik ke dapur. Ia meminta Taufik untuk membawa panci berisi air panas ke dalam kamar. Dimana di sana sudah ada baskom besar yang berisi air dingin. Taufik mengindahkan, ia menuangkan sedikit demi sedikit air panas sampai Tante Azahra berkata sudah. Setelah air sudah disiapkan, Taufik keluar dari kamar menyisakkan Zahira, Furqan dan Mama Azahra.


"Mama, kalau aku curhat soal perasaan Mama jangan marah ya" lirih Zahira.


Azahra mengangguk. "Silahkan cerita, Sayang" ucap Azahra.


"Kan aku pernah bilang ke Mama dan Papa kalau aku nggak mau nikah sama Kak Taufik. Aku ngomong kek gitu karena memang aku nggak mau. Tapi kok tadi aku sedih ya, Mah. Pas Kak Taufik bilang pekan depan mereka mau Ke Luar Negeri" ungkap Zahira menunduk, menikmati pijatan sang Mama.

__ADS_1


"Ya kan kamu suka sama dia. Jadi pastilah kamu sedih. Kamu sih, sok-sokan mau balas dendam" Azahra terkekeh.


Zahira tertawa. "Mama ini" lirihnya tersenyum. "Mama, Maaf ya. Aku masih kecil-kecil udah bahas nikah nikahan. Aku nggak janji sama Mama dan Papa, tapi aku akan berusaha menjaga diriku untuk jodoh yang sudah tertulis di lauhul mahfudh" ucap Zahira serius.


"Nggak Papa. Selama kamu nyaman cerita sama Mama dan Papa, kamu cerita saja. Mama lebih senang kalau kamu nganggap Mama sahabat. Jadi Mama bisa tahu apa yang sedang kamu hadapi. Dengan begitu, Mama bisa memberimu solusi" ucap Azahra.


"Apa kamu ingin tahu? Mama tuh salut sama kamu. Kamu berani cerita sama Mama dan Papa. Mama dulu nggak berani cerita di Kakek, itu sebabnya Mama kadang stres. Saat Mama dinikahkan sama Papa kamu, Mama nggak protes, Mama hanya diam dan akhirnya jadi bom waktu buat Mama. Berkat kesabaran Mama, Alhamdulilah, Papa masih bersama Mama sekarang. Terima kasih ya, kamu sudah hadir dan mau berbagi dengan Mama dan Papa" sambung Azahra.


"Kembali kasih, Mama. Terima kasih untuk cinta dan kasih sayang Mama selama ini" ucap Zahira menarik senyum.


....


Waktunya tiba, nanti malam Taufik dan keluarga akan berangkat ke Bandara tujuan Luar Ngeri. Pagi ini, Taufik dan keluarga sedang berkemas. Terutama pasword sudah disimpan dalam tas bersama dompet. Taufik menatap gelang emas yang dia beli untuk Zahira. Dia memberikan gelang itu kemarin sore tapi Zahira menolaknya.


"Lebih baik aku kirim lewat JNE saja" batin Taufik.


Usai berkemas, Taufik mengeluarkan sebuah baju gamis dari lemari pakaiannya, juga satu jilbab yang warnanya senada dengan warna baju. Lalu gelang emas ia simpan diantara lipatan pakaian juga jilbab, kemudian ia memasukannya ke dalam gardus kecil yang ukurannya pas. Tak lupa dia memasukkan selembar surat di dalamnya.


Setelah membungkusnya dengan rapih, Taufik mengambil kunci motor bergegas ke JNE terdekat. Tak berapa lama dia kembali dengan senyum mengembang.


Malam menyapa, Taufik dan keluarga telah dalam perjalanan ke Bandara. Mereka pergi diantar oleh Zulfikar dan Berlin. Zahira tidak ikut mengantar karena dia masih harus istirahat full di rumah.

__ADS_1


Di rumah, tepatnya di dalam kamar, Zahira menggeser gorden. Lalu menatap jauh pemandangan malam.


"Sampai jumpa Kak Taufik" batin Zahira.


__ADS_2