SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 71


__ADS_3

Zahira terus bersiul di rumah. Jujur saja, dia bahagia hari ini. Akhirnya, setelah sekian tahun, Taufik jatuh cinta juga padanya. Kembali ke niat juga nasehat Mama Azahra, Zahira takkan mengecewakan Mama dan Papa nya. Apa nasehat Mama dan Papa nya? Tentu saja menolak pacaran.


"Anak Mama sepertinya lagi bahagia. Cerita dong"


Zahira segera duduk di samping Mama nya. Lalu dengan semangat 45 dia merebahkan diri di sofa dengan berbantal paha sang Mama. "Mama tahu nggak sih, ternyata Kak Taufik suka sama aku" ungkap Zahira tersenyum.


"Oh ya?" Azahra tersenyum. Zahira mengangguk.


"Tapi kamu nggak pacaran sama dia kan, Nak?" tanya Azahra serius. Zahira lagi-lagi menggeleng dengan binar bahagia yang tak luput dari wajahnya.


"Mama, kelak saat Kak Taufik melamar aku, Mama dan Papa jangan terima lamaran mereka ya. Aku memang menyukainya tapi dia sering nyakitin aku. Lidanya sangat tajam kalau berucap. Dia sering mengataiku genit. Hatiku sakit tapi aku selalu tersenyum" ucap Zahira mengingat kalimat pedas yang selalu Taufik lontarkan.


"Pede bangat sih kamu" Azahra menyentil hidung putrinya. "Suka belum tentu mau melamar kali ..." ledeknya lalu tertawa.


"Hahahahahaha. Secara Mama kan bestie sama Mama dan Papa Kak Taufik. Kali aja Mama mau besan sama mereka" lirih Zahira.


Zulfikar baru saja pulang dari kampus. Lelahnya seakan menghilang saat melihat senyum anak dan istriya. Senyum seperti itu yang dia ingin lihat setiap harinya. Maka bekerja keras adalah tujuannya.


Melihat sang Papa, Zahira segera menghampiri, lalu mencium tangan Papanya. "Papa tahu nggak sih, Kak Taufik ngungkapin perasaannya ke aku, tapi aku tolak. Aku hebat kan, Pah" ungkap Zahira dengan binar bahagia.


Kedekatan Zahira dan Mama Papa nya membuat gadis cantik itu tak segan berbagi cerita. Dia punya Fenda, tapi dia sangat jarang berbagi cerita dengan Fenda. Fenda temannya, tapi bukan sahabatnya. Sahabat Zahira itu Mama dan Papa nya. Kenapa? Karena mereka selalu ada disaat Zahira bahagia maupun sedih.

__ADS_1


"Ya sudah, Papa jodohin kalian berdua. Mau nggak?" tanya Zul setelah duduk.


"Nanti baru aku jawab, Pah. Sekarang Papa mau minum kopi atau teh? Atau Papa mau makan dulu?' jelas Zahira bertanya.


"Tidak tiga-tiganya" balas Zulfikar.


"Ya sudah, sekarang aku jawab. Papa jangan jodohin aku. Aku mau menikah setelah lulus S2 nanti. Kalau ada yang lamar, mau itu Kak Taufik atau siapapun itu Papa dan Mama tolak saja" ucap Zahira terdengar serius.


Waktu bergulir begitu cepat, pekan depan Taufik mendengar hasil kelulusan. Itu artinya tak lama lagi Taufik akan ke Luar Negeri. Taufik bisa saja kuliah di Indonesia tapi dulu saat Mama Asna masih sekolah, wanita itu ingin kuliah di Luar Negeri tapi keungan juga otaknya yang tak sejernih Azahra membuatnya harus menyerah. Terlebih Mama dan Papa nya yang sudah bekeluarga lagi tak mau menanggung biaya kuliahnya sekalipun dia berkata akan kuliah di Makassar. Karena alasan itu, Taufik akan ke Luar Negeri, dengan begitu, Mama nya akan bahagia.


Taufik keluar rumah di malam hari besama Rio dan Gery. Ketiga berkawan itu akan ke tempat futsal di depan MTOS atau belakang ATM bersama. Setibanya di sana, dia melihat Zahira bersama Fenda dan tentunya Kansa.


Ya, Zahira. Papa Zulfikar telah memberi kepercayaan pada putrinya. Dengan satu syarat, Zahira harus menjaga diri. Seperti kata orang yang kerap di dengar, sebaik baiknya penjagaan ya diri kita sendiri. Sekalipun kita dijaga ketat oleh keluarga, tapi kalau kita sendiri tidak menjaga diri makan akan sama saja. Karena itu, Papa Zul menegaskan pada putrinya untuk menolak ajakan pria ke tempat sunyi apalagi ke tempat-tempat gelap.


Mengetahui Taufik datang, Zahira segera menghampiri. Dia harus bersikap biasa saja, dia tidak boleh seperti Taufik yang mau mengajaknya berbicara karena mengingat kedekatan Mama Azahra dan orang tua Taufik.


"Kakak sama siapa ke sini?" tanya Zahira.


"Sama Rio dan Gery" jawab Taufik masih dengan sikapnya yang seperti kulkas. Terserah, asalkan Zahira sudah tahu, pria menyebalkan di depannya ini sedang jatuh cinta padanya.


Tapi jujur, Taufik ingin bersikap biasa saja seperti saat dia dan Mama Papa nya, yang terkadang suka menjahili. Tapi ... Taufik tidak mau orang lain tahu kalau dia juga bisa bercanda dan tersenyum, apalagi tertawa.

__ADS_1


Zahira mengangguk. "Ya sudah, selamat bersenang-senang" ucap Zahira berlalu menemui Fenda.


Dua puluh menit lagi waktu akan menunjukkan pukul sepuluh malam. Zahira, Fenda dan Kansa bersiap pulang. Sesampainya di parkiran, Taufik segera menyusul tanpa sepengetahuan Fenda, Kansa dan Zahira. Taufik menyalakan mesin motornya setelah Zahira dan kedua kawannya telah keluar dari area parkir.


Melaju dengan kecepatan sedang, Taufik terus mengikuti mereka hingga tiba di depan rumah Zahira. Setelah memastikan Zahira masuk ke dalam rumah, Taufik kembali ke tempat futsal.


Pagi keesokan harinya. Rumah Azahra kembali ramai. Mama Aira serta suami dan anak juga Kakek yang sudah tua pun datang. Begitu juga dengan Mama Allice dan suami serta anaknya, Berlin. Bahkan Asna dan suami serta Taufik pun datang.


Taufik, Mama Asna dan Zahira ke pasar membeli sayuran dan bahan lain untuk dimasak. Hari ini mereka akan makan bersama karena mereka sangat jarang ke tempat wisata.


"Tante, kira-kira uang yang Mama kasih ini cukup nggak ya?" tanya Zahira sambil melihat jalanan.


"Cukup. Kalaupun nggak, nanti Tante yang cukupkan" sahut Mama Asna.


Tak berapa lama, mereka sampai di Pasar Daya. Zahira mengikuti Tante Asna dari belakang sambil membawa tentengan belanjaan. Sementara Taufik ke penjual ayam warna warni.


Belum selesai belanja, Taufik tiba-tiba datang mengambil belanjaan dari tangan Zahira. Zahira hendak memarahi Taufik tapi apa yang baru saja dilihatnya membuat gadis itu mengucek matanya untuk memastikan penglihatannya. Apa benar Taufik tersenyum? Apa benar itu Taufik.


"Hei! Kamu Kak Taufik kan?" tanya Zahira memastikan.


"Kenapa? Aku tampan kan? Sudah, nggak usah di jawab. Kalau aku jelek, nggak mungkin kamu suka sama aku" ucap Taufik membanggakan diri lalu menghampiri Mama Asna.

__ADS_1


Zahira berdecih. Andai Mama Asna tidak ada, bisa dipastikan dia akan menghajar Taufik yang kepedean. "Tapi benar sih Kak Taufik ganteng" lirih Zahira tertawa pelan.


__ADS_2