
Rona wajah bahagia terpahat jelas pada wajah Zulfikar yang saat ini mengantri di Puskesmas. Dari sekian banyaknya Ibu-Ibu juga Bapak-Bapak, hanya Zul yang datang tanpa membawa istri. Dan lagi, semua Bapak-Bapak yang mengantar istri mereka, mereka hanya tahu mengantar, anak digendong Ibunya.
"Itu laki atau apa? Istri udah capek gendong kok nggak ambil alih" batin Zul menilai salah satu pasangan muda yang anaknya gembul seperti Zahira. Anak tersebut menangis dari gendongan Ibunya namun Bapaknya tidak mengambil alih sekedar membujuk anaknya.
"Mas, tolong gendong Qila dong. Tangan aku pegal" keluh seorang Ibu. Namun bukan Ibu yang anaknya gembul yang menarik perhatian Zul, tapi Ibu yang lain.
"Tahan aja napa, nggak lama lagi giliran kamu masuk" jawab sang suami ketus.
Dalam hati Zulfikar menyayangkan sikap sang pria tersebut. "Pas mencetaknya, berkeringat berdua. Giliran udah jadi, nggak mau berkeringat lagi" batin Zul.
"Zahira Fatima ..." nama Zahira dipanggil.
"Bu, Ibu dulu yang masuk" Zul mempersilahkan Ibu yang mengeluh pegal.
"Anak Mas yang dipanggil, silahkan masuk" tolak sang Ibu.
"Nggak Papa kok, Buk. Kebetulan anak saya nggak rewel" kata Zul.
Sang Ibu muda tersenyum lalu masuk. Sementara suaminya menunggu diluar. Tak berapa lama, terdengar suara tangis bayi. Zul mengajak putrinya berbicara agar sang putri tidak jenuh.
"Papa" panggil Zahira. Panggilan itu terdengar seperti orang yang sudah pandai berbicara, ia mengalir begitu saja.
"Ya, Sayang. Kenapa?" sahut Zul bertanya.
Baby Zahira terkekeh. Tak berapa lama, nama Zahira kembali dipanggil. Zul segera masuk ke dalam. Sesuai intruksi dari Bidan, Zul membaringkan Baby Zahira diatas timbangan bayi.
"Masya Allah ... 11 kg ya BB Baby Zahira. Mam banyak ya Sayang ya" Ibu Bidan mengajak Baby Zahira berbicara.
Kembali Baby Zahira tertawa seraya memainkan tangan.
__ADS_1
"Nggak disuntik, Bu?" tany Zul.
Bu Bidan menarik senyum. "Nanti di usia 18 bulan baru suntik lagi" jelas Bu Bidan.
Zul mengangguk paham. Lalu menggendong putrinya yang gemuk. Pipi Zahira yang cuby kerap menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Zul pamit, lalu pulang. Setibanya di Toko, dia mendapati Mama Aira seorang.
"Berapa BB nya?" tanya Mama Aira.
"11 kg, Ma" jawab Zul menurunkan Baby Zahira dari gendongannya.
"Alhamdulilah, naik 1kg lebih" timpal Azahra.
Sesuai kata Mama Aira, siang hari Azahra akan ikut berperan dalam menjaga Zahira. Malam barulah Zulfikar seorang. Saat ini, Baby Zahira main sendiri namun dalam pantauan kedua orang tuanya. Mama Aira yang hanya datang untuk mengambil jilbab, wanita itu telah kembali ke Maros seorang diri. Di Toko, menyisakkan Azahra suami dan anaknya.
"Sayang, nanti malam ya" Zul menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Iya, nanti malam. Kalau Zahira udah tidur" jelas Zul.
Azahra paham, wanita itu hanya mengangguk. Munafik namanya jika dia dia tidak merindukan belaian suaminya. Namun wanita seperti dirinya, yang pemalu dalam hal intim, hanya bisa memendam rasa ingin.
Dua jam sebelum matahari tak lama lagi akan terbenam, Zulfikar yang sudah sangat lama menahan diri, akhirnya tak kuasa. Hingga pria itu menghampiri istrinya yang sehabis mandi.
"Sayang, kita mau ke mana?" tanya Azahra heran.
"Ssssstttt. Jangan ribut, nanti Zahra bangun" kata Zul pelan.
Kini Azahra mengerti, Zulfikar minta dilayani. Dirinya yang juga menginginkan hal yang sama, dengan pasrah pakaiannya dilepas oleh sang suami. Bibir tipis yang sudah sangat lama tak dijamah, seketika seakan tersengat aliran listrik. Hingga ciuman sang suami dibalas olehnya.
Saat cairan itu berhasil keluar, di saat itu juga Baby Zahira menangis di lantai satu. Dan di saat bersamaan, Azahra mengingat satu hal, dia belum suntik KB.
__ADS_1
"Sayang, Papa datang ..." teriak Zul setelah dari kamar mandi. Zul belum mandi bersih, melainkan hanya mencuci pedang pusakanya. Takutnya Baby Zahira baik tangga.
Sepeninggal Zulfikar, Azahra bergegas kembali ke kamar mandi. Tak berapa lama, dia sudah siap dengan pakaian rumahan. Kedatangan Azahra bertepatan dengan datangnya pembeli yang mau membeli totebab seharga 45 ribu 1 item.
"Sayang, sama Papa dulu ya. Mama layani pembeli dulu" jelas Azahra pada sang putri yang minta digendong.
Baby Zahira cemberut. Kemudian menangis. Terpaksa, Zulfikar yang menggantikan istrinya. Menjelang sore, beberapa mahasiswa datang melihat lihat totebag. Dan tak ada yang pulang dengan tangan kosong, pasti ada yang dibeli.
Angka jarum jam terus berputar, tak terasa sudah larut malam. Azahra maupun Zulfikar belum tidur, sementara Baby Zahira sudah terlelap. Dua pasangan muda itu mengapit anak meraka.
"Sayang, setelah masa hukumanku berakhir, aku mau ke kampus, mau menghadap Kaprodi. Jika kamu mengizinkan, aku mau mengajar jadi dosen" ungkap Zulfikar.
"Hmm ... Oh ya, boleh nggak aku kuliah lagi?" Azahra bertanya dan berharap diiyakan.
"Boleh, toh Zahira udah satu tahun. Tapi kamu kuliah di Alumniku ya. Biar kita bisa pergi bareng. Bagaimana?" Azahra mengangguk.
Sebulan telah berlalu, masa hukuman Zulfikar sisa lima bulan lagi. Dua hari yang lalu harusnya Azahra sudah kedatangan tamu, namun sampai saat ini tamu itu tak kunjung datang. Menunggu, Azahra menunggu 3 hari lagi, jika 3 hari ke depan Azahra tidak haid, maka wanita itu akan ke Apotek alat tes kehamilan.
Hari yang ditunggu pun tiba, Azahra meminta izin pada Zul untuk keluar sebentar. Dan tanpa tanya kemana, Zul langsung mengiyakan. Sesampainya di Apotek 24 jam, Azahra bergegas membeli tespek kemudian kembali ke rumah.
"Cepat bangat" Zul menatap heran istrinya.
"Iya, kan aku hanya ke Ekskalapius" jelas Azahra berbohong. Ekskalapius adalah Toko yang menjual alat-alat kesehatan.
Zulfikar mengangguk.
Segera Azahra ke kamar mandi, tak berapa lama, ia keluar dengan ekspresi sedih.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Zul heran. Belum lama istrinya pamit keluar sebentar, dan sekarang dia tampak seperti orang frustasi.
__ADS_1