
Haikal mengantar Dea pulang, kemudian ia kembali ke rumah. Setibanya di rumah, dia mendapati Asna yang sedang menemani Taufik belajar. Taufik tergolong anak pintar diusianya yang masih kecil. Bahkan anak diatas usinya pun ada yang tak sepandai dia. Tak ada suara, apalagi sapaan, Haikal melenggang ke kamar begitu saja.
"Taufik, Taufik masuk ke kamar dulu ya, Nak" titah Asna.
Taufik mengangguk. Segera ia mengambil bukunya lalu ke kamar. Saat bayangan Taufik sepenuhnya menghilang, Asna menemui suaminya di kamar.
"Aku obatin dulu ya lukanya" ucap Asna. Mama muda itu mengeluarkan kotak P3K dari dalam laci kecil samping tempat tidur.
Haikal hanya menurut tanpa bersuara. Tatapannya tak lepas dari wajah istrinya yang cantik. Namun kecantikan itu tak membuat hati Haikal terfokus pada satu cinta.
"Sudah" Asna beranjak dari sisi tempat tidur. "Aku sudah siapkan makanan di atas meja" tambahnya kemudian berlalu.
Kedua siku Haikal bertumpuh pada paha, sementara kedua tangannya memijit pelipisnya. Dia mengira, hubungan terlarangnya tidak akan terbongkar, nyatanya dia salah. Kebohongan yang dia tutupi dua bulan belakangan ini terbongkar jua.
Hubungan terlarang itu telah sampai pada telinga Assagaf. Hal yang Assagaf takutkan pun telah terjadi. Marah, bujang lapuk itu sangat marah saat mendengar kabar pengkhianatan adiknya. Alasan dia belum menikah juga karena itu, dia takut tak kuasa menahan nafsu.
Di rumah orang tua Assagaf, Haikal dan Asna juga Taufik berada sekarang. Panggilan Assagaf tak bisa ditolak oleh Haikal. Kini, di ruang keluar Assagaf menatap marah adiknya.
"Kakak kira, kematian Mama akan menjadi alasan untuk kau tak berkhianat. Nyatanya kamu mengikuti jejak Papa. Kau akan membunuh istrimu secara perlahan, seperti Papa yang perlahan membuat Mama jatuh sakit hingga meninggal. Bagaimana perasaanmu bila kelak adik kita diperlakukan sama oleh suaminya? Apa kamu akan tinggal diam? Tidak kan? Tidak akan"
"Dan istrimu, dia hanya punya kamu. Dia nggak punya adik ataupun Kakak. Kau pasti tahu, bagaimana sakitnya saat hati terluka namun tak ada tempat berbagi selain pada yang Kuasa. Kau pasti tahu itu namun kamu acuh tak acuh"
Assagaf menyeka air matanya. Dia masih ingat saat-saat Ayah nya berkhianat. Sama seperti yang Haikal lakukan sekarang. Sangat memalukan!!
"Apa yang kamu cari, Dek?" tanya Assagaf masih menahan marah hingga nadanya pun merendah.
__ADS_1
"Apa yang kamu cari, Haikal!!" bentak Assagaf. Nada pelan tadi menjadi suara yang memekik. Amarahnya telah sampai pada ubun-ubun.
"Apa yang kurang dari istrimu? Dia memiliki segalanya yang kamu cari. Apa lagi?!!" sambungnya kemudian.
"Aku juga nggak niat untuk jatuh cinta pada Dea, tapi saat berada di dekatnya aku nyaman!" ungkap Haikal menunduk.
Mata Asna mulai berkaca kaca. Dia gagal menjadi istri yang selalu membuat nyaman suaminya. dia gagal menjadikan rumahnya sebagai tempat berpulang. Bulir bening yang sedari tadi menumpuk kini mengalir jua. Bukan Haikal yang dia salahkan, melainkan dirinya sendiri.
"Jadi kamu nggak nyaman berada di dekat Asna?" tanya Assagaf mengintrogasi.
Haikal menggeleng. "Bukan itu maksudku" imbuhnya segera.
"Asna, angkat kepala mu, Dek. Jangan kamu salahkan dirimu. Apapun keputusanmu, Kakak dibelakangmu" ujar Assagaf menatap sayu adik iparnya. Dia yakin betul, hati wanita yang bergelar surga ditelapak kaki itu sedang hancur, sehancur hancurnya. Dia anak broken home, tentu mengambil keputusan sangat sulit baginya. Bertahan, namun dia akan terluka. Pergi, maka anaknya akan kehilangan sosok Ayah.
Setibanya di rumah, Asna menggiring anaknya masuk ke dalam. "Mama, bacakan puisi untuk Taufik ya" pinta Taufik yang dibalas senyum oleh wanita yang dia panggil Mama.
"Haikal, aku sudah mengambil keputusan. Pagi baru aku beritahu kamu. Malam ini, aku tidur dengan Taufik" ungkap Asna sebelum Haikal masuk ke kamar.
"Hmmm" sahut Haikal berlalu ke kamar.
Taufik menarik tangan Mamanya. Segera anak kecil itu mengambil buku puisinya. Lalu naik di atas tempat tidur.
Asna pun naik di atas tempat tidur Taufik. Lalu merebahkan diri menyamping menghadap sang putra. "Mana buku puisinya?" tanyanya.
Taufik terdiam. Matanya mulai berkaca kaca. "Mama, apa kita akan pergi?" tanyanya. Kini ia menyamping menghadap sang Mama.
__ADS_1
Degh!! Asna terdiam, tak tahu harus jawab apa. Dan lagi, siapa yang memberitahunya? Dia masih kecil, lantas, bagaimana bisa dia bertanya seperti anak diatas usianya.
"Mama, apa kita akan pergi dari sini? Apa Papa membenci kita?"
Lagi dan lagi pertanyaan itu membuat Asna bertanya, berapa IQ anaknya. "Kata siapa Papa membenci kita? Papa itu sayang ... bangat sama kita" Asna menarik senyum.
"Nggak, Papa nggak sayang Mama apalagi Taufik" ucap Taufik serius.
"Hahahahahaha" tawa Asna pecah. "Kata siapa? Taufik harus tahu, Papa itu sayang Taufik, sayang Mama juga. Sekarang Taufik tidur ya" bujuk Asna
Taufik mengangguk, sebelum menutup mata, ia menatap lekat mata mamanya. "Besok kita pergi ya, Ma. Jangan lupa bangunin Taufik. Mama jangan pergi sendirian. Taufik ikut Mama"
Lagi, Asna dibuat diam oleh kalimat putranya. Apa ini salah satu rezeki untuknya? Dimana dia yang tak memiliki Kakak juga adik, diberi keturunan yang begitu cerdas.
Tanpa Asna dan Taufik sadari, Haikal mendengar percakapan putra dan istrinya. Dia pun kembali mengingat saat-saat dimana Papa nya berkhianat. Mama nya selalu sabar, hingga lahirnya adik bungsu Haikal. Sebulan usia adiknya, Mamanya pun menghembuskan napas terakhrinya.
Di lain tempat, Azahra menangis mendengar kabar pengkhianatan Haikal. Dia masih ingat saat Asna curhat tentang keluarganya. Asna sempat berkata, dia ingin menikah dengan pria yang membawanya ke jalan yang diridhoi Allah. Dan Haikal lah pria itu menurut Asna. Nyatanya mereka berjodoh, Haikal tetap menikahi Asna sesaat setelah Asna keluar dari rumah sakit. Bukankah itu bukti nyata betapa sayangnya Haikal pada Asna? Lantas, kenapa ada orang ketiga.
"Sayang, ujian rumah tangga yang kini menimpah kedua sahabat kamu, akan kita jadikan pelajaran. Terutama aku, aku akan berusaha menjaga pandanganku" ucap Zul.
Azahra mengangguk. Tanpa izin, dia memeluk erat suaminya. "Jangan ada dusta di antara kita" lirihnya.
"Aku nggak janji, tapi aku akan berusaha untuk menjadi suami yang patut kamu banggakan" ucap Zulfikar.
Tangan Zulfikar berulah, membuat Azahra tertawa geli. Semakin tangan itu berulah, semakin besar pula tawa Azahra. Seketika tawa itu terhenti. Zul, pria itu membungkam mulut istrinya dengan ciuman yang pada ujungnya berakhir olahraga.
__ADS_1