
Setelah belanja, Asna mengajak Zahira dan Taufik pulang. Dan sekarang mereka baru saja tiba di rumah. Zahira dibantu oleh Taufik membawa belanjaan ke dapur. Sementara Mama Asni harus pulang ke rumah sebentar untuk mengambil wajan ukuran besar.
"Zahira, sebelum aku ke Luar Negeri kita jalan-jalan ya" lirih Taufik sambil meletakkan kresek besar berisi sayuran.
"Nggak mau. Aku nggak mau jalan sama kulkas. Lagian, aku kan cewe genit. Ngapain Kakak mau jalan sama aku" ucap Zahira dengan santai.
Taufik terdiam sesaat. "Tapi ada yang mau aku berikan padamu" lirih Taufik.
"Kirim saja lewat JNE. Antang dan PK 7 paling 6 ribu ongkir nya" ucap Zahira dengan entengnya. Dengan telaten, Zahira mencuci sayur sebelum di potong-potong.
Taufik menghela napas kasar. Zahira tetaplah Zahira yang suka bikin kesal. Jikalau dia sudah bertekad, maka dia tidak akan mundur lagi. Sama halnya dengan sekarang, tidak ya tidak.
Setelah mencuci sayur, Zahira mengambil baskom berukuran sedang. Tapi jujur, dia sedikit kesal pada Tantenya, Naudira. Sejak tadi Naudira tak kunjung ke dapur membantunya bekerja.
"Kakak beneran mau jalan-jalan sama aku?" tanya Zahira menurun sedikit egonya.
"Iya, tapi kamu nggak mau ya udah, mau bagaimana lagi" balas Taufik mengambil tempat di kursih.
"Ya sudah, tapi Kakak harus bantuin aku kerja. Bagaimana?" Zahira mengedipkan sebelah mata.
Taufik terkekeh. "Bantuin apa?" tanyanya kemudian.
"Tolong keluarkan beras 4 kilo dari karung, sekalian Kakak cuci bersih" pinta Zahira yang langsung dindahkan oleh Taufik.
Zahira memotong sayur yang sudah dia cuci bersih kemudian ia sisihkan (nanti Tante Asna yang masak). Selanjutnya ia mengeluarkan ikan merah dari dalam kulkas. Sementara di halaman belakang, Taufik menanak nasi menggunakan kompor gas. Bukan hanyaTaufik di halaman belakang, Berlin pun ada, pria itu bertugas membakar ikan untuk Papa Gun yang ingin sekali makan ikan bakar.
"Itu Tante Dira, setiap kali datang di rumah kerjaannya main hp mulu. Harusnya Tante Dira bantuin aku. Dan Tante Asna sama Mama, bukannya di dapur"
Zahira terus mengomel di dapur. Dia bisa memaklumi kedua Neneknya karena katanya sudah tua. Dia bisa memaklumi Mama nya karena ada Furqan yang selalu menempel pada Mama Azahra. Yang pasti, dia maunya itu Dira yang membantunya bukan Tante Asna karena mereka yang mengajak keluarga Taufik. "Masa tamu di suru masak" pikir Zahira.
"Sudah, jangan marah-marah. Kan ada Tante yang batuin kamu" ucap Asna menarik senyum.
__ADS_1
"Aku maunya Tante sama Mama, bukannya berkutak di dapur" jelas Zahira.
Beberapa jam kemudian, nasi, sayur sop, sayur acar, ikan bakar, ikan saos, ayam kecap dan sambal telah terjadi di ruang keluarga. Ya, mereka akan melantai bersama. Bagaimana tidak, meja makan di rumah Zahira tak seluas meja di rumah orang lain.
Sebelum makan, Zahira kembali ke kamar membersihkan diri terlebih dahulu. Lalu dia menemui keluarganya yang sejak tadi menunggunya.
"Lama bangat sih kamu!" ketus Naudira.
Zahira hanya tertawa pelan. Tidak bermaksud membuat mereka semua menunggu. Tapi baguslah jika mereka menunggunya. Anggap saja dia sedang memberi pelajaran pada Tantenya.
"Maaf, ku kira kalian nggak akan nungguin aku, jadi aku latihan vokal dulu di kamar mandi" ungkap Zahira dengan jujur.
Makan siang pun dimulai. Seperti biasa, mereka akan makan sambil bercerita. Topik cerita pun paling tentang bagaimana kedepannya. Setelah makan, Zahira dibantu oleh Taufik juga Berlin mengangkat piring kotor. Sementara Azahra dan Asna mengangkat makanan sisa meletakkannya di atas meja. Lagi dan lagi Naudira tidak membantu Zahira mencuci piring.
"Sudah, jangan perhitungan lagi. Jalanin saja napa" tegur Taufik.
"Siapa yang perhitungan? Aku nggak merasa" serga Zahira.
Hahahahaha. Tawa Zahira pecah. "Om? Ih ... gemes deh!" Zahira mencubit pipi Berlin. Dia merasa lucu, pasalnya, Zahira lebih Kakak dari Berlin. Sekalipun begitu, Berlin tetaplah Om nya Zahira.
"Ponaan Om jahil bangat sih!" ketus Berlin. Dia hanya mencoba membuat Zahira tertawa.
...
Seminggu telah berlalu. Taufik sudah tak sabar bertemu Mama dan Papa nya di rumah. Akhirnya, dia bisa menyusul Tante Arumi di Luar Negeri. Tak berapa lama mengendarai motornya, Taufik sampai di rumah.
"Mama ... Papa ..." Taufik berteriak setelah memarkirkan kenderaan roda duanya.
"Bagaimana, kamu lulus?" tanya Asna menatap serius putranya.
Taufik berhambur memeluk sang Mama. "Aku lulus Mama ... Aku juara 1 umum" ungkap Taufik lalu terisak.
__ADS_1
Haikal mengucap syukur. Pria itu memeluk anak dan istrinya. Hari ini, kebahagiaan itu bukan hanya datang dari lulusnya Taufik, tapi kebahagiaan juga datang dari hasil tespek. Ya, tidak lama lagi Taufik akan punya adik.
"Selamat ya, dan selamat juga karena nggak lama lagi kamu akan menjadi seorang Kakak" ucap Haikal memberitahu.
"Serius Papa? Papa nggak bohong kan?" tanya Taufik menangis haru. Haikal mengangguk, begitu juga dengan Asna.
Malam menyapa, Taufik mengirim pesan pada Zahira namun wanita itu tidak membalas. Taufik mencoba menghubungi namun Zahira tidak menjawab panggilan darinya. "Dia dimana?" gumam Taufik bertanya.
Pukul 8 malam, ponsel Zahira tidak aktif. Tentu hal itu semakin membuat Taufik frustasi. Dia mencoba menghubungi Om Zul tapi nomor Om Zul juga tidak aktif. "Semoga saja ini hanya perasaanku saja" batin Taufik.
Janji bertemu pun terpaksa ditunda. Taufik mengirim pesan pada Zahira lalu memilih tidur. Pukul sepuluh malam, Taufik dibangunkan oleh pesan masuk dari group kelas.
"Masih ceklis satu" gumam Taufik menatap pesan WA yang dia kirim pada Zahira.
"Taufik ... kamu sudah tidur?" tanya Mama Asna dibalik pintu.
"Belum Mama .." sahut Taufik segera membuka pintu.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang" Mama Asna menarik tangan putranya.
"Papa dimana?" tanya Taufik bingung.
"Papa di rumah sakit" balas Asna terburu buru mengunci pintu.
Taufik ingin bertanya, siapa yang sakit. Tapi, dia mencoba diam karena Mama nya terlihat cemas. Untuk mencegah kecelakaan, Taufik mengusulkan diri membawa motor. Dan Asna pun setuju.
"Ke rumah sakit mana, Mah?" tanya Taufik.
"Rumah Sakit Kasih Bunda" balas Asna cepat.
Tak berapa lama, mereka pun sampai di alamat tujuan. Dari kejauhan, Taufik melihat Tante Azahra menangis, jantung Taufik seketika terpukul hebat. Di antara banyaknya keluarga, dia tak melihat Om Zul dan Zahira juga Baby Furqan. Disitulah hadir tanda tanya dalam benaknya. Dimana mereka berdua? Siapa yang sakit? Furqan, Zahira, atau Om Zul?"
__ADS_1
Semakin Taufik mendekat, jantungnya semakin berdetak cepat. Bahkan air matanya mendesak untuk keluar saat itu juga.