
Taufik menyandarkan bahu pada sofa. Memejamkan mata, pria itu menunggu Mama dan Papa nya yang entah dimana. Menunggu hampir dua menit di sofa namun Mama dan Papa nya tak kunjung datang. Dihubungi pun percuma, keduanya tak menjawab panggilan telepon darinya.
"Mungkin mereka di rumah Tante Zahra" gumam Taufik menarik langkah ke kamarnya.
Mengantuk, dia memilih tidur tanpa melepas pakaian seragamnya. Dia dibangunkan oleh suara adzan dari arah masjid dekat rumahnya. Taufik melirik jam pada pergelangan tangannya.
"Jam 4" gumamnya pelan lalu segera ke kamar mandi membersihkan diri.
Usai shalat, Taufik menunggu Mama dan Papa nya lagi, dan hasilnya pun sama. Pukul 8 malam, Mama dan Papa nya baru datang. Kesal? Tentu saja Taufik kesal. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga orang tua, kalau sudah ketemu bestie, jadi lupa pulang.
"Tolong kondisikan itu muka, Fik. Kamu kek orang nggak makan setahun" tegur Asna meletakkan tas di atas meja.
"Mama dari mana sih? Aku telepon nggak diangkat. Aku nanya ke Tante tapi kata Tante Zahra kalian nggak ada di sana" ucap Taufik kesal.
"Dari rumah Om Irwan. Besok Om Irwan nikah sama anak pejabat Bone" jawab Asna setelah duduk.
"Papa duduk dulu aku mau curhat" pinta Taufik saat Haikal hendak masuk kamar.
Kedua kening Haikal bertekuk naik. Curhat? Yang benar saja Taufik mau curhat. Penasaran, Haikal segera duduk di sofa yang berbeda dengan istrinya. "Katakan!" titah Haikal tak sabar mendengar.
Taufik mengambil napas panjang sebelum memulai cerita. Lalu menatap Mama dan Papa nya bergiliran. "Tapi Mama dan Papa harus janji, nggak akan ledekin aku" ucap Taufik menatap serius kedua orang tuanya.
"Janji" jawab Asna dan Haikal bersamaan.
"Jadi gini Pah, Mah. Kalian kan tahu sendiri aku paling nggak suka sama Zahira. Genit sih dia!" ekspresi tak suka pun nampak. "Nah, akhir-akhir ini aku jadi aneh" tambahnya. "Apa aku sakit ya, Mah?" tanyanya kemudian.
Ekspresi tanya begitu nampak pada wajah Haikal juga Asna. "Mama nggak ngerti apa maksud kamu. Aneh gimana? Apa hubungannya dengan sakit?" tanya Asna.
"Papa ngerti nggak?" Taufik bertanya. Haikal menggeleng.
Taufik mengambil napas panjang. "Jadi gini, akhir-akhir ini Zahira mulai jauhin aku. Harusnya aku bahagia kan Mah, Pah, secara sudah 4 tahun Zahira gangguin aku. Tapi kok aku nggak bahagia ya. Aku justru kesal lihat dia menjauh" lirih Taufik pada akhir kalimatnya.
__ADS_1
"Apa lagi? Ceritakan semua yang kamu rasakan agar Mama dan Papa mengambil kesimpulan!" desak Haikal.
"Jadi aku tuh bingung, aku sebenarnya kenapa? Kenapa bisa aku kesal lihat Zahira dekat sama laki-laki lain. Aku tuh kek orang cemburu gitu, padahal kan aku nggak suka sama dia" jelas Taufik menyandarkan bahu di sofa. Sedetik kemudian dia kembali menatap serius orang tuanya.
"Mah, Pah, apa aku harus ke dokter? Tadi, saat aku ngajak Zahira untuk pertama kalinya, jantung aku dag dig dug. Rasanya mau keluar gitu. Coba Mama dan Papa bayangkan"
Asna dan Haikal menarik senyum. Mereka sudah bisa mengambil kesimpulan. Melihat Mama dan Papa nya tersenyum, Taufik yakin, jawaban atas gunda gulananya telah ada.
"Apa kesimpulannya Mah, Pah?" tanya Taufik tak sabar.
"Kamu jatuh cinta pada Zahira. Hanya saja kamu menolak kenyataan, secara kamu membencinya. Ingat! KAMU SUDAH JATUH CINTA PADANYA!!" terang Papa Haikal menekan kalimat terakhirnya.
Degh!! Dugaan Taufik benar. Dia bukannya sakit jantung tapi dia jatuh cinta.
Di lain tempat, Zahira tidur lebih awal karena dia juga harus bangun lebih awal. Sementara Papa Zulfikar dan Mama Azahra sedang menatap wajah mungil Furqan yang semakin hari semakin sejahtera.
...
Pertandingan hari kedua akan berlangsung, tim Zahira melawan Tim senior tingkat satu atau anak kelas 2B. Zahira dan teman-temannya telah mengenakan kostum olahraga. Bersiap, lalu masuk ke dalam lapangan bola voli.
"Kamu bawa kan?" tanya Zahira pada Kansa yang berdiri di luar lapangan. Kansa mengangguk.
"Alhamdulilah. Maaf ya, aku udah repotin kamu" lirih Zahira.
"Nggak kok, nggak sama sekali" balas Kansa.
Sorak gembira mulai terdengar. Siswi dan siswa kelas 1A menyemangati rekan mereka. Begitu juga dengan kelas 2B. Pertandingan berlangsung cukup lama. Kedua tim selalu mendapatkan poin yang sama, tentu hal itu membuat penonton tegang.
"Semangat Zahira ... Fenda ... Tini ... Mizan ... Kia ... Umi ... Semangat ...!!" teriak Kansa sementara permainan berlangsung.
"Semangat kelas A ... Jangan kasi kesempatan ...!" teriak Widiya Astuti, sang Bendahara kelas.
__ADS_1
"Yeaaaaaaah ...!!" anak-anak kelas 1A bersorak girang. Kelas mereka menang, mereka menang. Suatu kebanggaan bagi mereka bisa mengalahkan senior.
Deri kejauhan, masih di tempat yang sama seperti kemarin, Taufik memperhatikan Zahira. Jatuh cinta? Ternyata dia jatuh cinta pada gadis genit yang 4 tahun lamanya mencari perhatian padanya. Setelah pertandingan usai, Taufik mencari Rio da Gery.
"Ikut aku bentar" kata Taufik melenggang pergi dari kelas. Rio dan Gery mengikut dari belakang.
Ketiga berkawan itu duduk di gazebo samping kantin. Rio dan Gery menatap tanya Taufik yang katanya dia butuh bantuan. Lantas, apa yang mereka bisa bantu? Sudahlah, Taufik memang suka bikin kesal.
"Bisa kalian panggilkan Zahira untukku?" Taufik menatap tanya kedua temannya.
Ria menggeleng, begitu juga dengan Gery. "Maaf, bro. Sekarang Zahira sudah jadi fens kami, jadi kami akan melindungi dia dari pria seperti kamu" Rio memegang bahu kanan Taufik.
Taufik terdiam. Lihatlah, teman saja bisa menjadi lawan. Boleh dikata mereka selalu bersama sejak kelas 1 SMA. Tanpa kata, Taufik pergi begitu saja. Dia harus mencari Zahira, mengatakan niatnya ingin bertemu lalu terserah Zahira mau beri tanggapan apa.
"Ikut aku sebentar" ucap Taufik pada Zahira yang sementara mengobrol dengan Kansa dan Fenda juga teman-teman yang lain.
Ketampanan Taufik selalu menjadi pusat perhatian di sekolah. Namun banyak para siswi yang tak berharap lebih. Bagaimana tidak, Zahira yang cantik jelita saja ditolak mentah-mentah oleh Taufik, apalagi mereka yang bermodal asalkan bisa bernapas dan hidup nyaman. Tentu saja mereka memilih mundur daripada mempermalukan diri sendiri.
Taufik membawa Zahira di belakang sekolah. Tentu hal itu membuat Zahira bisa menebak apa tujuan Taufik.
"Jangan bilang Kakak sudah jatuh cinta padaku" tebak Zahira lalu tertawa.
"Kalau iya, apa kamu mau menerima perasaanku?" tanya Taufik terlihat bersungguh sungguh namun sangat tidak romantis.
Zahira tersenyum miring. "Apa Kakak masih ingat kalimatku dulu? Atau sudah lupa! Sini biar aku bantu ingatkan!" Zahira mendekatkan bibir pada telingah Taufik. Tindakan beraninya itu membuat Taufik menahan napas, jantungnya berdetak cepat.
"Gila! Bisa masuk Rumah Sakit aku!" batin Taufik.
"Aku akan mendepak Kakak, saat aku berhasil sudah membuat Kakak jatuh cinta padaku!" ucap Zahira mengingatkan. Lalu menjauhkan tubuhnya ke posisi awal.
"Selamat, cinta anda di TOLAK!!" ucap Zahira berlalu meninggalkan Taufik yang mematung. Bukan soal cintanya yang di tolak, tapi soal jantungnya yang tak bisa berdetak seperti biasa.
__ADS_1