
Zahira diizinkan oleh Papa Zul juga Mama Azahra asal Taufik juga ikut ke kondangan Ibu Guru Fisika. Tapi Taufik tetaplah Taufik yang masih dengan niatnya yang tadi saat di sekolah. Dia menolak pergi ke kondangan. Zul menghargai niat baik Kansa tapi Kansa adalah teman baru Zahira, Zul belum sepenuhnya percaya pada teman putrinya itu. Ya ... sekalipun Zul melihat ketulusan Kansa tapi yang namanya orang tua pasti mencemaskan anak gadisnya.
"Ayolah, Kak. Masa sih kita nggak ke kondangan Ibu Yeni" bujuk Zahira pada pria di seberang telepon. Membujuk semakin dibilang genit, tak dibujuk, maka takkan ke kondangan Ibu Yeni.
"Kalau aku bilang nggak mau ikut ya nggak"
Zahira menghela napas panjang. Walau besar harapannya untuk bisa ikut tapi dia harus menerima kenyataan. Dimana Taufik adalah Taufik, yang apabila berkata tidak ya tidak.
Oweeeek ... Oweeeek ... Oweeeek ...
"Furqan" gumam Zahira setelah mendengar adiknya menangis. Segera berlari ke lantai satu tanpa memutuskan panggilan.
"Mama, boleh aku masuk ..?"
"Silahkan Sayang ..." sahut Azahra dari dalam.
"Papa kamu mana?" tanya Azahra sambil menggendong putranya.
"Papa lagi ke pasar, belanja sayuran" balas Zahira.
Tangis baby Furqan semakin menjadi, sementara bayi mungil itu baru saja selesai ASI. Zahira membujuk adiknya namun tangis baby Furqan tak kunjung berhenti.
"Mama, biar aku yang gendong" Zahira mengulurkan tangan. Lalu mengambil baby Furqan dari gendongan sang Mama. Tanpa membujuk, baby Furqan langsung berhenti menangis dalam gendongan sang Kakak.
__ADS_1
Zahira terus menatap wajah mungil adiknya. Wajah ganteng itu yang dulunya dia tolak kehadirannya. Dan sekarang, setelah dia melihatnya, dia begitu menyayangi adiknya. Tanpa sadar, air matanya menetes. Ada rasa penyesalan yang menghantam dirinya. Bagaimana mungkin dia menolak hadirnya malaikat kecil dalam rumah mereka. Sementara malaikat kecil itu yang akan manggilnya Kakak.
"Adek Furqan tahu, Kakak Zahira baik dan sayang sama dia. Jadi Furqan diam saat digendong Kakak Zahira" dengan lembut Azahra memberitahu sang putri.
Zahira menarik senyum. "Mama, Furqon tampan ya, Ma. Apa aku juga cantik saat masih kecil?" tanya Zahira.
"Tentu saja kamu cantik" balas Azahra.
Zahira meletakkan adiknya di box bayi. Lalu dia duduk di samping ranjang bersama sang Mama. Zahira melirik mamanya sekilas, ada sesuatu yang mau dia bahas tapi perihal laki-laki. Dia memang seperti itu, dia menjadikan orang tuanya sebagai sahabat. Apa yang dia rasakan, apa yang terjadi di Sekolah, dia akan menceritakannya pada sang Mama atau sang Papa. Begitu juga dengan Zul dan Azahra, mereka menjadikan diri mereka sebagai sahabat sang putri. Tujuannya, agar mereka tahu sudah sejauh mana perkembangan anak mereka.
Selain itu, curhat pada teman dan orang tua itu hasilnya beda. Pada teman, mereka bisa menjerumuskan kita ke hal-hal yang tidak baik. Seperti 'kejar terus, jangan pantang menyerah' Bahkan ada yang bilang, 'kalau aku, aku kasih kehormatanku agar dia tidak bisa kabur dariku'. Sementara orang tua, orang tua tidak akan mengatakan hal itu pada anak mereka.
Jadi, penting para orang tua menempatkan diri sebagai sahabat anak-anak mereka. Penting para orang tua meluangkan waktu untuk bercanda gurau dengan anak-anak mereka.
"Ma" panggil Zahira pelan.
Zahira terdiam sesaat. "Ma, cinta bertepuk sebelah tangan itu sakit ya" lirihnya tersenyum kecut.
Azahra menarik senyum. Dia tak ingin menghardik putrinya. Mengatakan masih kecil namun sudah main cinta-cintaan. Azahra ingin memberi pengertian secara perlahan, tentunya dengan penyampaian yang lembut.
"Kak Taufik ilfil bangat sama aku, Ma. Katanya aku genit, aku bibit bibit pelakor" sambungnya kemudian. Lalu menunduk.
"Jangan dimasukkin ke hati. Kak Taufik kek gitu karena ada sebabnya. Itulah mengapa Kak Taufik nggak suka cewek genit" beritahu Azahra.
__ADS_1
"Apa dulu Mama menyukai seseorang sebelum menikah dengan Papa?" tanya Zahira serius.
Azahra mengangguk. "Bahkan cinta Mama nggak bertolak sebelah tangan. Tapi ... Mama memang nggak mau pacaran. Zahira kan tahu sendiri, pacaran itu dosa" jelasnya.
"Aku juga nggak mau pacaran, Ma. Bahkan aku mau menikah saat sudah lulus S2 nanti. Mama, jika kelak aku sudah lulus S2, Mama carikan aku pria yang baik dan penyayang seperti Papa ya" ucap Zahira serius.
"Iya, nanti Mama carikan pria yang baik yang seperti Papa. Sekarang kamu fokus sekolah dulu. Belajar yang giat dan mari buktikan pada Taufik kalau anak Mama dan Papa bukan bibit pelakor"
Di lain tempat, Asna dan Haikal menatap putranya yang dengan serius mengetik sesuatu di leptop. Kedua pasangan itu menatap heran putranya yang enggan menghadiri acara resepsi Ibu Guru nya di Hotel Nyaman. Alasan Taufik pun membuat Asna geleng kepala.
"Masya Allah ... cantiknya Zahira. Coba kamu lihat" Asna memberikan ponselnya pada Haikal.
Kedua kening Haikal bertekuk naik. Pasalnya tidak ada foto Zahira di layar ponsel. Asna memberi kode untuk ikut beracting.
"Iya, Sayang. Saat kecil dia mirip Bapaknya. Setelah besar dia mirip Mamaknya" ucap Haikal pura pura menatap layar ponsel istrinya.
"Jadi dia tetap ke kondangan!" batin Taufik kesal.
"Taufik, Mama dan Papa tidur duluan ya. Jangan lupa matikan lampunya" ucap Asna seraya beranjak dari sofa. Asna yakin, putranya itu jatuh cinta pada Zahira. Bukannya dia mengajari putranya untuk cinta-cintaan di usia muda, tapi dia hanya ingin memastikannya saja. Jika benar adanya, dia akan membicarakan hal itu dengan Azahra. Lalu masing-masing dari mereka akan menjaga anak-anak mereka.
Sepeninggal Mama dan Papa nya, Taufik menutup leptop kemudian mengambil ponselnya. Lalu dengan rasa penasaran dia membuka aplikasi WA. Di status dia tak melihat nama Zahira sedang memasang status.
"Apa jangan-jangan dia mengecualikan aku?" batin Taufik.
__ADS_1
"Ngapain juga aku perduli!" gumam Taufik kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Hanya bebarapa detik saja, dia kembali mengambil ponselnya. Dia membuka aplikasi Instagram, lalu Facebook dan terakhir dia buka Whatsaap.
"Nggak ada, apa dia sudah menghapusnya?" gumam Taufik pelan. Kalimat pujian Mama nya tadi masih menari nari di kepalanya.