
Zulfikar duduk di sisi tempat tidur sambil memperhatikan Azahra yang hampir sepuluh menit berdiri di depan lemari. Manik mata wanita itu menelisik setiap lipatan pakaian yang tertata rapih.
"Zahra, Adiku Sayang. Kamu cari apa sih dari tadi? Heran deh, nyari baju dan celana aja bermenit menit. Ini bukan kamu deh! Setahu aku Azahra orangnya bukan tipe wanita yang suka berlama-lama memandangi lipatan pakaian"
Azahra terkekeh pelan sebelum menjawab. "Aku tuh nyari pakaian yang bagus. Biar nanti Kakak nggak malu jalan sama aku. Kan Kakak bilang bakalan datang sama istri Kakak, iya kan? Maka dari itu, aku harus tampil cantik. Biar sahabat Kakak itu mengira selera Kakak tinggi" jelas Azahra.
"Kamu udah cantik Zahra ... Nggak dandan pun kamu udah cantik. Sudah, cepat ganti pakaian seragam mu" ucap Zulfikar sesuai kenyataan.
"Ya udah, aku pakai gamis ini aja" Azahra mengeluarkan gamis hitam berbahan wolfis.
Beberapa belas menit kemudian, Zahra sudah siap berangkat. Walau hanya mengenakan gamis hitam polos dan jilbab pasmina maron yang dimodel sedemikian rupa, tanpa poles poles, Azahra tetap cantik dengan lip cream warna nude.
"Masya Allah ... semakin hari aku semakin sadar akan kenyataan, Azahra yang paling cantik dari semua mantanku" ucap Zulfikar memuji.
Azahra hanya bisa tersenyum seraya menggeleng gelengkan kepala. Sejak keduanya akur seperti Kakak beradik, sifat Zulfikar yang Azahra tak tahu, terlihat jua. Pria itu pandai merayu.
Setibanya di beskem, Azahra ragu untuk melangkah. Pasalnya, banyak teman-teman Zulfikar di dalam bahkan di depan beskem pun ada yang sementara menikmati kopi sambil main kartu domino.
"Ayo" ajak Zulfikar.
"Kak" Azahra menahan lengan Zulfikar. "Aku malu" sambunya menatap sayu Zulfikar.
"Kenapa? Kan ada aku. Ayo kita masuk" Zul menyakinkan Azahra.
Walau merasa tak nyaman, Azahra tetap menurut. Di genggamnya erat-erat tangan Zulfikar sambil melangkahkan kaki.
"Assalamualaikum" Zul mengucap salam setelah berada di depan beskem.
"Waalaikumsalam" mereka yang di luar pun menjawab.
__ADS_1
Micel yang di dalam segera menemui Zulfikar. Tanpa malu atau memikirkan perasaan Azahra, wanita itu memeluk Zulfikar. "Zul, aku kangen kamu. Kenapa baru datang?" tanya bergelayut di lengan kiri Zulfikar.
"Kamu kali yang baru datang" celetuk Zulfikar.
Azahra menjauhkan tangannya dari tangan Zul. Bukan cemburu, tapi dia harus memberi ruang untuk Zulfikar.
"Dia istrimu?" tanya Micel.
Tanpa menjawab pertanyaan Micel, Zul lebih dulu mencarikan tempat duduk untuk Azahra. "Zahra, mari duduk Sayang" panggilnya saat salah satu temannya yang di dalam rumah beranjak dari kursi.
Walau malu, Azahra masuk ke dalam beskem. Duduk di kursi bersama teman-teman Zulfikar, wanita itu tak nyaman.
Sejam berlalu, Zulfikar pamit pulang. Selain dia harus kerja, dia juga tahu, Azahra tidak nyaman duduk diantara teman-temannya.
Tiba di Pondok AQILA, Azahra turun dari motor. "Kakak nggak masuk?" tanya Azahra.
"Nggak, aku langsung ke tempat kerja. Aku pergi dulu ya, Assalamualaikum"
Malam menyapa, Zulfikar masih stay di tempat kerja. Tanggung jawab yang ia pikul membuatnya harus lebih giat lagi dalam mengais rezeki. Selain membayar tagihan listrik, dia juga punya tanggung jawab lain, yaitu memenuhi kebutuhan Azahra juga kebutuhannya. Bersyukur Azahra juga jualabn online.
Sementara di Pondok AQILA, Azahra mempacking paket yang jam enam tadi diantar kurir.
"Semangat Zahra ... kamu harus membantu Kak Zul. Kasihan dia nggak punya waktu untuk bersantai seperti orang lain" ucap Azahra sekedar menyemangati dirinya sendiri.
"Di Antang ada tiga, Abdesir ada dua, Pettarani ada dua, di bagian Tol ada dua, Maros tiga, Daya dua, BTP satu, bagian Top Mode ada dua" Azahra membaca list pesanan yang harus diantar besok sepulang sekolah.
"Seperti besok nggak bisa antar semua. Jarak alamat dari satu ke alamat satu cukup jauh. Kalau seperti ini, lebih baik aku cari orang yang mau jadi kurir" gumam Azahra berpikir.
"Assalamualaikum ... Zahra, buka pintunya, Dek"
__ADS_1
Azahra segera membuka pintu setelah mendengar suara Zulfikar di depan pintu kamar. Menjawab salam, wanita itu membuka pintu. "Kakak mau makan dulu atau mandi dulu? Atau mau istirahat dulu?" tanya Azhra.
Zulfikar terkekeh. "Ternyata kamu lebih cerewet daripada Mama. Tapi tunggu" Zul berbalik menatap Azahra. "Bukannya saat kita tinggal di kontrakan kamu nggak kek gini" Zul mencoba mengingat lagi. Siapa tahu dia salah ingat.
"ASTAGHFIRULLAH ... Zahra, aku lupa ambil terang bulan di motor. Tunggu di sini, aku ambil dulu" ucap Zul kembali melupakan perihal kata cerewet. Menarik langkah cepat, Zulfikar kembali ke parkiran. Kembali dengan membawa sesuatu, Zulfikar senyam senyum menatap Azahra.
"Aku suka nonton video yang di Facebook. Kebanyakan wanita yang sudah menikah, mereka suka jika suaminya membawa sesuatu saat pulang kerja. Entah itu berlaku di kamu, aku nggak tahu, aku hanya mencobanya saja" jelas Zulfikar.
"Dan itu berhasil" ucap Azahra menarik kresek dari tangan Zulfikar.
Zulfikar menarik senyum dikedua sudut bibirnya. "Ternyata benar" gumamnya.
Setelah mandi air hangat yang sudah disiapkan oleh Azahra, Zulfikar keluar dengan pakaian yang sudah melekat di tubuhnya. Mengajak Azahra makan, mereka pun makan malam seadanya.
Setelah makan dan mencuci piring kotor, keduanya ke bilik bagian depan. Azahra sibuk memisahkan paket yang bisa diantar besok. Dan paket yang jaraknya jauh sekali, akan diantar dihari berikutnya.
"Kenapa dipisahkan?" tanya Zulfikar.
"Ini mau diantar besok" Azahra memegangi paket di dalam kresek merah. "Dan ini mau diantar dihari berikutnya. Soalnya, alamatnya jauh" tambahnya memegang beberapa paket yang disusun rapi di pinggir dinding.
"Besok biar aku yang mengantar. Kebetulan, besok itu aku hanya punya dua jadwal kuliah namun dosennya lagi di Luar Negeri" jelas Zulfikar.
"Tapi Kakak mau pergi sama siapa?" tanya Azahra duduk bersila.
"Sendiri" balas Zulfikar. Pria itu merebahkan diri di atas karpet yang membentang dengan berbantal paha Azahra. "Gimana tadi di sekolah?" tambahnya bertanya.
"Tadi?" Azahra berpikir, mengingat kegiatan pagi tadi saat di sekolah. "Tadi Gea nanya, aku mau lanjut dimana. Jadi aku jawab di Jerman" jelas Azahra.
"Apa kamu rindu Mama dan Papa?" tanya Zulfikar.
__ADS_1
"Iya, aku rindu mereka berdua. Lagian, aku mau ngapain di sini? Setelah lulus nanti, Kakak akan menceraikan aku. Dan otomatis aku janda dong. Daripada aku kek orang bodoh di sini lebih baik aku ikut Mama dan Papa di Jerman. Di sana, aku akan akan memulai hidup baru" jelas Azahra.
"Kamu nggak akan menjadi janda Azahra. Kamu akan tetap menjadi istriku. So, buang jauh-jauh angan-anganmu itu" ucap Zulfikar menjelaskan.