SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 22


__ADS_3

Berhubung hari ini Zulfikar masuk kerja, maka mau tidak mau Qonita, Assagaf dan Lion menunda waktu mengerjakan tugas kelompok. Dan hari ini, pukul sepuluh malam, Zulfikar pulang dari tempat kerja. Memarkirkan motor di garasi, pria itu menautkan kedua keningnya saat melihat Mas grab berhenti di depan kontrakan.


"Mas cari siapa ya?" tanya Zul penasaran.


Belum sempat Mas grab menjawab, Azahra keluar menghampiri mengenakan mukena putih bermotif bunga. "Maaf ya, Mas. Tadi aku nggak buka Aplikasi jadi nggak tahu Mas nya udah sampai" jelas Azahra menarik senyum dikedua sudut bibirnya.


"Iya, Mbak. Nggak Papa kok. Ini pesanannya. Jangan lupa bintang limanya ya, Mbak" kata Mas Grabfood mengingatkan.


"Siap, Mas" balas Azahra. Lalu undur diri ke dalam rumah.


Zulfikar yang sedari tadi berada di luar, menatap tanya Azahra yang tak biasanya memesan makanan lewat aplikasi. Tak ingin bertanya mengapa atau kenapa, pria itu menyusul Azahra masuk. Membuka pintu kamar dan mengganti pakaian dengan baju santai, Zulfikar berniat makan malam. Perutnya yang sejak tadi siang tidak diberi jatah, membuat perut pria itu keroncongan.


Menarik langkah ke dapur, dia mendapati Azahra makan terang bulan dan teh. "Kenapa nggak makan nasi, sayur dan ikan?" tanya Zul seraya membuka tudung saji.


"Nggak mau aja" balas Azahra sekenanya saja.


Zulfikar terdiam menatap piring kosong di meja. Ingin berkomentar tapi dia masih ingat apa yang pagi tadi Azahra tekankan. Mau tidak mau, Zulfikar kembali ke kamar tanpa bersuara. Tak kuasa menahan lapar, Zulfikar mengambil ponselnya di atas tempat tidur. Berniat memesan makanan lewat aplikasi namun pria itu harus menelan pahitnya akan kenyataan. Di ponselnya, tidak ada aplikasi grab.


Beranjak keluar kamar, Zulfikar bersitatap dengan Kulsum yang keluar dari kamar. "Kenapa kamu nggak masak?" tanya Zul pada Kulsum.


"Karena nggak ada yang bisa dimasak" jawab Kulsum dengan santai.


"Pantas saja Azahra nggak memasak" batin Zul.


"Ada aplikasi grab mu?" tanya Zul mengikuti langkah kaki Kulsum.

__ADS_1


Kulsum mendudukan bokongnya di sofa ruang tamu, disusul oleh Zulfikar yang kelaparan. "Kenapa? Kamu lapar ya? Kenapa kamu nggak bilang Zahra belanja sayur di pasar. Perasaan dia seharian di rumah terus"


Zulfikar tak menjawab. Menarik napas panjang, pria itu kembali ke kamarnya. Di kamar, dia merebahkan tubuh di pembaringan. Mengingat sikap Azahra yang tak seperti hari-hari sebelumnya, Zul tak habis fikir Azahra akan mengabaikannya.


.


.


Keesokan harinya ...


Aviola Azahra berangkat ke sekolah lebih awal dari hari biasanya. Sengaja wanita itu pergi lebih awal guna menghindari tatap muka dengan Zulfikar. Dan kini, dia telah berada di depan gerbang sekolah.


"Maafkan aku Kak Zul. Aku begini juga karena Kakak" batin Azahra merenung di atas motor sambil menunggu satpam membuka pagar sekolah.


"Kulsum ... ikut aku ke pasar yuk ..."


Zul mengetuk pintu kamar yang ditempati Kulsum. Berulang kali memanggil tapi wanita di dalam sana tak kunjung membuka pintu.


"Kulsum ..." Zul kembali mengetuk pintu kamar. Lagi dan lagi, tak ada tanda-tanda Kulsum membuka pintu.


Menghela napas panjang, Zulfikar memilih pergi ke pasar daripada stres di rumah. Belum lagi dia harus pergi kerja di jam sepuluh pagi nanti hingga malam pukul sebelas. Pasar yang akan dia datangi adalah pasar Daya samping lampu merah atau depan Rumah Sakit Umum Daya.


Dalam perjalanan ke pasar, tepatnya di lampu merah BTP, langit biru menjadi hitam kelabu. Gerimis mulai menerpa hingga volume hujan juga frekuensinya semakin bertambah. Tak memungkin bagi Zulfikar untuk menepi, hingga ia pun tetap menerobos diderasnya hujan.


Setibanya di pasar, Zul mulai mencari beberapa jenis sayur yang dia sukai. "Buk, buncis nya sepuluh ribu. Kol satu, yang itu ..." Jari telunjuk Zul terarah pada sayur kol yang berukuran besar. "Wortel juga sepuluh ribu dan kentang sepuluh ribu"

__ADS_1


"Daun bawang 3 ribu dan seledri 3 ribu ya, Buk"


"Tomat lima ribu, cabai lima ribu"


"Pelan-pelan, Nak. Ibu nggak ingat semuanya" kata sang Ibu penjual yang memang sudah tua.


Zulfikar terkekeh. "Maaf, Buk" ucap Zul segera menyebut ulang apa yang dia mau beli.


Setelah membeli bahan makanan berupa sayur, ikan, tahu, tempe, dan beberapa bahan lainnya, Zulfikar segera pulang walau hujan belum redah. Setibanya di rumah, Zulfikar memangil Kulsum namun wanita itu masih belum beranjak dari ranjang. Menghela napas panjang, Zulfikar memasukkan belanjaannya ke dalam kulkas. Kemudian ia ke kamar membersihkan diri sebelun ke tempat kerja.


Usai mandi dan bersiap-siap, Zul kembali mengetuk pintu. Namun lagi-lagi Kulsum tak membukanya. Kesal, Zul mengetuk pintu dengan kuat.


Cek--lek ... Pintu dibuka oleh Kulsum dari dalam.


"Umm ..." Berdiri di ambang pintu, Kulsum memegangi kepalanya bersamaan dengan mata yang tertutup.


"Sayang, kepalaku tuh sakit ... Jadi aku nggak bangun. Bisa kamu belikan aku obat?" ungkap Kulsum berbohong.


Zulfikar yang tadinya kesal, kembali merasa bersalah akan sikapnya yang tadi. "Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Tunggu aku belikan makanan dan obat di depan" kata Zul mengantar Kulsum ke ranjang.


Melihat Kulsum yang terus mengeluh kesakitan, zulfikar segera ke warung depan membeli makanan dan juga obat. Tak membutuhkan waktu lama, pria itu datang dengan kresek di tangan.


Mengambil piring, sendok dan segelas air. Lalu membawanya ke kamar Kulsum. "Kul, kamu makan dulu kemudian minum obat. Ini obatnya, Sayang. Maaf, aku nggak bisa temanin kamu karena aku harus kerja sekarang. Ini uang lima puluh ribu, kamu beli makanan buat makan siang nanti. Jika sore nanti kamu udah baikan, kamu memasak ya buat kita makan malam"


Kulsum tersenyum mengangguk. Dengan tanpa malunya, ia mendekat memeluk Zulfikar. "Aku mencintaimu, Zul" ungkapnya.

__ADS_1


__ADS_2