SMA, Tapi Menikah

SMA, Tapi Menikah
Episode 23


__ADS_3

Bukannya cemburu, Azahra hanya kesal akan Zulfikar yang selalu melibatkan dia dalam keputusan yang akan Zulfikar ambil dan ujung-ujungnya, dia pula yang disalahkan saat ada masalah yang terjadi.


Bukan hanya pria itu yang memiliki kekasih, Azahra pun ada. Ya ... Walaupun hanya kekasih idola. Akan tetapi keduanya saling mencintai namun terhalang prinsip dan bakti pada orang tua juga mengingat larangan berpacaran. Andai bukan karena ketiganya, mungkin Azahra akan memiliki kekasih. Kenapa? Karena selain Faisal, Haikal juga sempat menembak Azahra sebelum mereka jadi bestie. Tapi, cinta pria itu ditolak secara halus.


Diantara Haikal dan Faisal Abbas, Faisal lah yang berhasil membuat Azahra jatuh cinta untuk pertama kalinya pada lawan jenis. Walau cinta pada pria itu begitu dalam, Azahra perlahan melupakan karena dia telah menikah. Dan di saat Zulfikar berkata dia tak bahagia atas pernikahannya, bahkan tersiksa dengan pernikahan perjodohan yang diatur oleh keluarga, Azahra mengurungkan niat untuk belajar mencintai pria itu.


Dan setiap kata hingga kalimat yang terlontar dari mulut Zulfikar beberapa hari yang lalu, mengenai jodoh, membangunkan kembali harapan Azahra untuk bisa bersama Faisal dikemudian hari.


Duduk di kursi–depan foto copy 24 jam samping Kampus UIM, Azahra ragu untuk pulang ke kontrakan. Bukannya apa, tapi dia masih marah pada Zulfikar yang kembali membawa Kulsum tinggal seatap dengan mereka. Cemburu? Jelas saja tidak. Tapi, kehadiran Kulsum akan menambah pekerjaan Azahra.


"Dek, ngapain di sini?" tanya Qonita yang entah dari mana datangnya. Wanita itu langsung saja duduk di samping Zahra. Jika dilihat dari penampilannya, sepertinya Qonita dari kampus.


"Nggak, aku hanya mampir sebentar, mau beli buku tapi bentar lagi" jawab Zahra. "Kakak sendiri ngapain di sini? Kakak cowok mana?" sambung Azahra bertanya. Kakak cowok yang dia maksud adalah Assagaf–pria yang mirip Haikal.


"Sana" Qonita menunjuk Assagaf yang baru keluar dari kantor JNE samping kompleks Hartaco Jaya.


Azahra mengikuti arah jari telunjuk Qonita. Mengangguk pelan, wanita itu kembali menatap lurus ke jalanan. "Kak, sabtu sore nanti datang di kontrakan ya" ujarnya tersenyum menatap Qonita.


"Hanya Qonita ni yang diajak, Kakak nggak?" Assagaf mengambil tempat di samping Qonita.


Azahra terkekeh, begitu juga dengan Qonita. "Berhubung Kakak mirip bestie nya aku, jadi aku undang Kakak juga" kata Zahra menarik senyum dikedua bibirnya.


Assagaf terkekeh. Dia yakin, bestie yang dimaksud Azahra adalah Haikal, adik kandung Assagaf yang memang mirip dengannya. "Insya Allah, kami pasti datang" balas Assagaf.

__ADS_1


Rasa lapar menghampiri, membuat Azahra harus segera mencari tempat makan. Rumah Makan Mas Eqi, mungkin. Dan ya, dia akan mejadikan Rumah Makan itu sebagai pilihan pertama. "Kak Nita, Kakak ganteng, apa kalian lapar? Jika iya ayo kita pergi makan bersama. Jika tidak, aku pergi makan dulu ya, Kak. Udah lapar akunya"


"Aku masih kenyang" balas Qonita.


"Aku juga masih kenyang" balas Assagaf.


"Ya sudah, aku duluan ya, Kak. Assalamualaikum" Azahra beranjak dari kursi panjang. Menarik langka pada motornya, wanita itu mulai mengendarai motornya ke Rumah Makan Mas Eki.


Sesudah makan, Azahra memutuskan pulang ke kontrakan. Tak perduli ada Zulfikar atau tidak, Azahra tetap akan pulang. Dia mengantuk, dan ingin segera beristirahat. Setibanya di rumah, Azahra mengucap syukur, Zulfikar belum pulang. Segera ia menarik langkah ke dalam rumah menuju kamar.


...


Wakti bergulir begitu cepat, Zulfikar baru saja akan memasuki rumah setelah hampir sehari berada di tempat kerja. Lelah, pria itu memilih duduk di ruang tamu sebelum masuk ke kamar. Belum cukup dua menit mendudukkan bokongnya, Azahra tiba-tiba membuka pagar, entah dia dari mana, Zulfikar pun tak tahu. Dilihat dari penampilannya, sepertinya Azahra dari depan.


Azahra mengucap salam sebelum menapakkan kakinya ke dalam rumah. Tanpa menyapa, wanita itu melenggang pergi begitu saja. Bahkan dia tak menatap Zulfikar walau hanya sekilas.


Di kamar, Kulsum sedang memainkan ponselnya. Tertawa girang saat melihat Ardi mengunggah foto mereka berdua. Sementara di kamar sebelah, Azahra mengecek status pengiriman barang yang dia pesan lewat aplikasi Shopee.


"Alhamdulilah ... paketnya sudah di gudang. Besok tinggal aku pergi ambil" gumam Azahra. Menggulir unggahan unggahan di Facebook, Azahra dibuat gembira oleh postingan Faisal. Dimana di sana, di unggahan itu, Faisal memposting foto mereka berdua.


Senyum yang tadinya terbit, meredup tatkala pria yang berstatus suaminya berdebat dengan wanita pujaan hatinya. Samar-samar terdengar Zulfikar mengungkit soal makanan. Azahra yakin, Kulsum tidak memasak.


"Tadinya aku mau memasak tapi kepalaku masih sakit. Kamu kan yang bilang, kalau masih sakit jangan memasak" jelas Kulsum terisak.

__ADS_1


Mengusap wajahnya dengan kasar, Zulfikar masuk ke kamar sebelum amarah pria itu membuncah. Sakit kepala Kulsum bilang? Lalu kenapa dia keluar jalan-jalan dengan temannya di Mall Nipah. Pikir Zul.


Azahra di kamar, hanya diam tanpa berniat keluar memasak. Anggap saja Kulsum dan Zulfikar adalah pemilik kontrakan sementara dia hanya menyewa kamar. So, sebagai penyewa kamar, tidak diwajibkan baginya untuk memasak buat pemilik kontrakan.


Ponsel Azahra berdering, nyatanya Asna yang memangil. Gembira, Azahra segera menerimanya. "Assalamualaikum, Sayang. Kok baru nelepon sih?" tanya Azahra cemberut.


Asna tertawa kecil di seberang telepon sebelum menjawab salam dari Azahra. "Waalaikumsalam. Beb, aku mau pastiin sesuatu nih. Kekasih Kak Zul kan tinggal di situ. Nah, kira-kira Kak Zul masih ngizinin kita party di situ apa nggak ya? Kata Kak Faisal, jika memang nggak diizinin lagi, kita party di kontrakan dia saja"


"Diizinin dengan tidaknya tetap di sini. Oh iya, ada tambahan personil dua orang" terang Azahra.


"Ya udah, besok pagi kita belanja. Tapi kamu jemput aku di sini" ucap Asna.


"Iya, Sayang ... Nanti jam sepuluh baru aku kesitu. Ingat! Jangan nunggu aku datang baru kamu mau siap-siap. Aku tinggal jika itu terjadi lagi" Azahra mengancam.


Asna tertawa. "Iya, Beb. Jangan marah-marah. Kali ini aku nggak akan kek gitu lagi"


....


Pagi hari sekitar jam delapan. Azahra masih tidur sementara Zulfikar sudah bangun dan kini berada di dapur. Melihat tak ada apa-apa di atas meja, Zul hanya bisa menghela napas panjang.


"Ternyata Azahra serius dengan ucapannya" batin Zul.


Memegangi perutnya yang keroncongan, Zulfikar menemui Kulsum di kamar. Di sana, Kulsum masih tidur sepertia biasanya.

__ADS_1


"Kul, jangan lupa memasak ya. Nanti siang aku mau pulang makan di rumah" kata Zul mengingatkan.


"Hmm" jawab Kulsum tanpa membuka mata, melainkan kembali mempererat pelukannya pada guling.


__ADS_2