
Sepulang dari menghadiri acara ijab kabul Asna dan Haikal, Azahra segera mengistirahatkan tubuh dan juga piikiran yang butuh istirahat. Begitu juga dengan Zulfikar.
Pagi keesokan harinya sekitar jam sembilan, Azahra maupun Zulfikar mengecek lokasi samping Kampus UIM (Universitas Islam Makassar). Dilihat dari lokasinya yang strategis, Azahra membulatkan keputusan yang akan dia dan suami ambil. Keputusan pun diambil beberapa hari setelah pengecekan lokasi. Har ini, mereka telah melakukan pembayaran untuk tahun pertama sewa. Setelah membayar, Azahra maupun Zulfikar membersihkan ruko yang di sewa.
"Sayang, nanti siang kurir mau ngantar paket. Apa aku minta mereka antar di sini saja ya. Atau?" ucap Azahra.
Zulfikar berpikir sejenak. "Minta mereka antar ke sini saja" ujar Zul.
Azahra mengangguk. Segera wanita itu menghubungi kurir J&T Cargo yang pagi tadi menghubunginya. Tak menunggu lama, sang kurir pun menjawab panggilan dari Azahra.
"Mas, nanti paketnya di antar ke alamat yang saya kirim lewat WA ya. Jadi Mas nggak perlu masuk dalam kompleks" jelas Azahra.
"Iya, Buk. Ini saya di perjalanan ke Perintis 9" jawab sang kurir.
Beberapa puluh menit setelahnya, kurir yang mengantar paket pun tiba bersama paket yang berisi jilbab juga totebag kekinian yang akan dipasarkan oleh Azahra dan suami.
.
.
Begitu cepat waktu bergulir, tak terasa, pekan depan Zulfikar Wisuda S1. Sambil menunggu hari bahagia itu, Azahra dan keluarga dari suaminya memesan kebaya seragam. Pilihan warna pun jatuh pada warna maron.
Saat ini di toko 'Rezeki' Azahra dan Zulfikar duduk sambil menyaksikan siaran televisi. Zulfikar yang semakin hari semakin manja, membuat Azahra banyak mengatakan sabar pada dirinya sendiri. Seperti saat ini, walau ada bantal kepala, Zulfikar enggan menggunakan bantal tersebut sebagai pengalas kepalanya. Pria kurang kerjaan itu menjadikan paha istrinya sebagai bantal. Naasnya lagi, dia meminta sang istri mengelus rambutnya.
"Sayang, apa kamu masih menstruasi?" tanya Zul secara tiba-tiba.
Gerakan tangan Azahra terhenti. Wanita cantik itu menatap suaminya yang juga menatapnya. "Masih. Kenapa? Apa kamu menginginkan anak?" tanya Azahra diakhir kalimatnya.
__ADS_1
"Aku hanya bertanya, jangan ngegas" ungkap Zulfikar.
Jujur, Azahra tersinggung dengan kalimat tanya yang tadi keluar dari mulut Zulfikar. Dia tahu apa maksud pertanyaan tadi. Sebagai pasangan lama, Azahra pun mempertanyakan dirinya yang tak kunjung hamil. Sementara Asna yang baru sebulan lebih menikah, wanita cantik itu tengah positif hamil.
"Kamu kenapa?" tanya Zul setelah melihat Azahra terdiam bahkan menyeka air mata yang sempat menetes.
"Nggak, aku nggak kenapa napa" jawab Azahra.
Tak ingin bersedih, Azahra beranjak dari lantai. Wanita cantik itu memilih duduk bersama para Ibu-Ibu yang juga menyewa ruko di samping kampus. Diantara empat Ibu-Ibu tersebut, ada satu Ibu yang belum diberi kepercayaan. Bahkan usia pernikahan mereka akan memasuki tahun ke sepuluh.
"Aku tuh sering bilang ke Mas Robi, aku ikhlas jika di madu. Tapi Mas Robi selalu bilang ke aku bahwa pernikahan itu bukan hanya tentang anak. Dia menikahiku untuk menjadikanku teman hidupnya. Menjalani hari bersamaku hingga menua bersama. Kata dia, pernikahan ini mengarjakan dia, bagaimana mengendalikan hawa nafsu" jelas istri Mas Robi.
"Masya Allah. Mbak beruntung bersuamikan pria yang nggak menuntut keturunan. Jujur saja, suamiku juga nggak permasalahkan anak. Tapi itu dulu, saat kami masih tinggal di Desa. Setelah balik kota, Ibu mertua menuntutku untuk hamil. Aku sempat down karena memang aku tak kunjung hamil. Berkat doaku juga doa suami, akhirnya aku hamil Rey setelah enam tahun penantian" timpal Gina, Ibu anak satu.
"Dek, kamu kenapa? Kok dari tadi Mbak perhatiin kamu kek ada beban pikiran gitu. Apa ini masalah anak lagi?" tanya Mbak Tiyas. Ibu muda anak dua yang belum menceritakan kisahnya.
"Kamu harus sabar, dan perbanyak doa. Cobaan pernikahan itu memang banyak, Dek. Mbak yakin, suami kamu nggak bermaksud untuk nyakitin hati kamu" ucap istri Mas Robi, namanya Erna.
"Sayang, sini bentar ..." panggil Zul berdiri di depan tokonya.
Azahra pamit undur diri pada rekan ceritanya. Lalu menghampiri Zulfikar yang menunggunya. Setibanya di depan toko, Azahra dibuat bahagia oleh pisang ijo yang entah sejak kapan ada di dalam toko.
"Ayo, aku tahu kamu lagi sedih" Zulfikar menuntun istrinya masuk. "Maaf ya, aku nggak bermaksud nyakitin kamu dengan omanganku" tambahnya.
Azahra mengangguk. "Sayang, kok belinya tiga. Satu buat siapa?" tanya Azahra.
Zulfikar terkekeh. Dia tahu maksud tersembunyi dari pertanyaan itu. "Itu untuk kamu. Aku tahu kamu doyan pisang ijo jadi aku lebihin satu" jelasnya.
__ADS_1
...
Malam semakin larut, namun Haikal belum juga pulang dari tempat kerja. Tak berapa lama menunggu, Asna melihat Haikal memakirkan motornya di depan rumah. Segera wanita muda itu membuka pintu rumah.
"Kok kamu belum tidur. Kenapa? Nggak nyaman ya?" tanya Haikal menghampiri sang istri.
Asna meraih tangan Haikal lalu menciumnya. "Mana aku tidur sementara kamu belum pulang" jelas Asna.
Haikal mengulas senyum. Dia dan Asna pun masuk ke dalam. Asna menyiapkan makanan sementara Haikal ke kamar membersihkan diri. Sesudah mandi, Haikal menemui Asna di dapur.
"Sayang, Nenek sudah tidur?" tanya Haikal menarik kursi lalu duduk.
"Iya" jawab Asna.
Haikal memulai makan malam ditemani sang istri. Awalnya Asna menolak makan namun paksaan dari Haikal membuat Asna harus menerima makanan yang disodorkan oleh Haikal.
Sesudah makan, kedunya memilih ke kamar. Di sana, Haikal merebahkan diri di samping sang istri. "Sayang, kamu nyesal nggak sih nikah sama aku?" tanya Haikal.
Asna mengerutkan kening. "Kok pertanyaannya begitu!" ketus Asna.
Haikal terkekeh. "Maaf ya, aku belum bisa bahagiain kamu dan Nenek" ungkapnya menenggelamkan wajah pada rambut lurus sang istri.
"Kata siapa? Aku jauh lebih bahagia sekarang. Kamu, kamu suami yang berpikiran dewasa. Bersamamu, hatiku damai. Aku, aku bahagia atas pernikahan ini juga karunia Allah yang kini ada dalam perutku" ungkap Asna.
"Sayang, jika hari ini maupun di hari esok atau kapanpun itu, jangan sungkan untuk menegurku bila menurutmu tindakanku salah. Aku, walaupun aku pemimpin dalam rumah tangga kita, tapi aku juga manusia yang tak luput dari salah dan dosa. Maka dari itu, jadilah wanita yang berani menegur kesalahan suami. Aku butuh teguran darimu" ujar Haikal.
"Aku lupa" tambah Haikal segera menarik diri. Pria itu mengambil tasnya lalu mengeluarkan uang dari dalam sana.
__ADS_1
"Gaji aku kali ini 4 juta" ucap Haikal. "Aku ambil 250 ribu ya buat bensin. Sisanya kamu yang pegang. Terserah kamu mau beli apa" sambunya seraya memisahkan uang merah sebanyak dua lembar dan uang biru satu lembar.