
mereka berdua bercanda dan tertawa bersama tanpa mereka sadari, ada tatapan tajam dan tangan terkepal kuat.
"sabar ya bro" ucap seseorang ywng menrpuk pundaknya dari belakang.
Adit menoleh kearah belakang dan mendapati dua sahabatnya sudah berada di belakangnya.
tanpa menjawab, Adit langsung berlalu begitu saja mendudukan dirinya di sebuah bangku dan tatapanya tak lepas dari dua orang yang sedang bercanda.
sementara itu, Ika dan Fadly sedang duduk bersama teman-teman Ika.
"rumahnya nyaman sekali" ucap Indah seraya menatap sekeliling.
"he, em adem banget nih jadi betah" ucap Dyah menimpali.
tak lama, Afifah dan Doni datang bergabung dengan mereka.
mereka semua saling tatap karena melihat canda tawa mereka berdua.
"kalian sudah saling kenql lama? " tanya Ika.
"hehehe baru aja kita kenal " ucap Afifah nyengir dan tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"lah bukanya loe lagi deket ya sama Adit" ucap Ilham spontan.
"iya kita memang dekat terus? " tanya Afifah.
"loe gak mikirin perasaan Adit? " tanya Indah.
"hah? lha kita kan cuma berteman " ucap Afifah santai tanpa ia sadari ada yang mendengar kata-katanya.
ya kita memang berteman senyum hambar Adit kearah Afifah.
"eh gaes gue cabut dulu ya ada janji sama Maria " ucqp Adit yang tiba tiba datang.
"oh loe balikan sama Maria? " tanya Indah.
"hmm yaudah gue cabut deh" ucap Adit berlalu pergi.
"hmm gue kirain tuh anak naksir loe Fah ternyata balikanama mantanya.
"haha loe semua ya, mana Ada sih kita itu hanya teman" ucap Afifah.
entah mengapa, ia merasa sesak saat Adit menyebutkan wanita lain di hadapanya.
segera Afifah menggelengkan kepalanya menepis rasa aneh di dadanya.
"eh gue pulang ya ydah malem nih" ucap Afifah beranjak dari duduknya.
"eh gue kawal ya pakai motor? " tawar Doni.
"eh gak usah takut ngerepotin loe " ucap Afifah tak enak.
"gak papa Fah daripada loe kenapa-napa " ucap Ika dan pada akhirnya Afifah mengangguk.
mereka pergi meninggalkan rumah baru Ika dan Fadly.
"gue kira si Afifah bakal sama Adit eh ternyata sama si Doni" ucap Ilham merasa kasihan pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"yakarena wanita itu butuh kepastian. makanya, ajari tuh temenya supaya berani mengungkapkan bukanya cinta dalam diam" ucap Indah.
"emang kalau aku gak pasti kamu bakal ninggalin aku beb? " tanya Ilham.
"ya mungkin kalau ada yang serius, kenapa tidak? " tanya Indah tertawa.
"dasar kalian ini udah ya gue capek mau istirahat" ucap Ika mengelus perut buncitnya.
"yaudah kalau gitu kita pulang yuk bye Ika semoga loe selalu bahagia" ucap Dyah memeluk sahabatnya di ikuti Indah.
setelah mereka semua pulang, Ika segera menuju kamar dan segera membersihkan diri dan merebahkan dirinya di atas ranjang.
tak lama, Fadly masuk kedalam kamar karena tadi ia mendapat telpon dari Papa Yasinu.
"bun" panggil Fadly saat sudah membersihkqn diri dan merangkak naik keatas kasur.
"hmm " ucap Ika seraya masih terpejam
"tadi papa menghubungiku beliau memberi selamat atas rumah baru kita dan meminta maaf karena tidak bisa hadir" ucap Fadly memeluk sang isteri.
"yah, seandainya aku udah gak cantik apa ayah akan tetap menerimaku?" tanya Ika.
"kamu itu bicara apa sih bun jangan ngadi-ngadi deh" ucap Fadly menwngkup wajah sang isteri.
"dengerin ya sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu " ucap Fadly lalu mendekatkan wajahnya pada wajah sang isteri.
Ika memejamkan matanya dan menikmati sentuhan suaminya.
"sekarang sudah malam ayo tidur" ucap Fadly mengecup kening dan bibir sang isteri.
Ika hanya mengangguk seraya terdenyum.
"ilove you too"
mereka berdua saling berpelukan.
pagi harinya, Ika terbangun lalu terperanjak kaget saat menyadari sesuatu.
"astaghfirullah yah kita kesiangan" ucap Ika beranjak turun dari tempat tidur.
lalu dengan cepat, Ika memasak nasi goreng dan setelah siap meletakanya di atas meja.
"ayah semua sudah siap ayo makan " ucap Ika memanggil suaminya.
"iya sayang" ucap Fadly memeluk isterinya dan duduk untuk sarapan nasi goreng.
"emm sayang nanti sepertinya aku lembur kamu gak papa kan sendirian? paling jam sembilan pulang" ucap Fadly beranjak dari kursi makan dan berjalan keluar rumah.
Oka mengikuti dari belakang mencoba mensejajarkan langkahnya dengan langkah suaminya.
"emm gak papa yah tapi nanti pesenin martabak manis ya soalnya aku kepengen sekali" ucap Ika memeluk sang suami.
"iya sayang nih aku pesenin seperti biasa kan? " tanya Fadly.
Ika hanya mengangguk
"ok kalau begitu ayah pamit yah jangan menyusahkan bunda yasayang anteng-anteng didalam perut bunda " ucap Fadly mengelus perut isterinya dan mengecupnya lembut.
__ADS_1
"kamu jaga diri baik-baik ya aku berangkat secepatnya aku akan mencarikanmu ART untuk menemani kamu" ucap Fadly mengecup kening sang isteri.
"iya ayah hati-hati ya semangat kerjanya" ucap Ika mencium punggung tangan suaminya.
"hmm iya assalamu'alaikum" ucap Fadly.
"wa'alaikum salam" ucap Ika dan bergegas masuk kedalam rumah.
🌸🌸🌸
sesampainya di perusahaan Tn. Yasinu, Fadly segera meemasuki ruangan kerjanya.
ia segera mendudukan dirinya di kursi kerjanya dan berkutat dengan layar monitor di depanya.
tak lama Doni datang menyerahkan laporan dari sekretaris Tn. Yasinu.
"nih bro laporan yang harus loe kerjain" ucap Doni tersenyum lebar pada sahabatnya itu
"makasih btw kok loe tumben senyum-senyum" ucap Fadly.
"gue lagi seneng soalnya Afifah ternyata punya satu Frekuensi yang sama sama gue" ucap Doni.
"oh ya? tapi loe harus inget kata isteri gue Afifah itu tipe orang yang tegas dia itu tipe cewek yang ingin kepastian" ucap Fadly.
"ya gue tau gue harus bisa kayak loe Dly loe aja bisa berubah masa gue nggak bisa" ucap Doni optimis.
"ya semoga saja berhasil" ucap Fadly.
kemudian Doni meninggalkan ruangan Fadly menuju ruanganya.
sementara itu di tempat lain seorang wanita dan laki-laki berbeda generasi sedang berbincang-bincang.
"bagaimana? " tanya si pria.
"sulit nak bahkan sekarang Ika sedang menyusul suaminya di kota S" ucap Wanita paruh baya.
"pokoknya saya tidak mau tau Ibu harus bisa memisahkan mereka apapun jalanya" ucap si pria yang tak lain adalah Samuel.
"baik lah nak Sam ibu akan mencoba memisahkan mereka" ucap Mama Erika berlalu pergi.
ya entah sejak kapan mama Erika dan Samuel bekerja sama dan sepeninngal mama Erika, Samuel terduduk lesu.
"apapun caranya kamu harus menjadi milikku Ika" ucap Samuel tersenyum licik.
lalu dirinya kembali memesan kopi hitam untuk menghilangkan rasa stresnya entah sudah berapa gelas kopi yang ia habiskan.
"arrgghh kenapa jadi seperti ini sih " ucap Samuel menjambak kasar rambutnya.
BERSAMBUNG............
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA
LIKE
COMENT
VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA
__ADS_1
MATUR SUWUN