
Fadly merangkak naik ke tempat tidur dan segara merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
tanganya meraih pinggang sang istri seraya memiringkan tubuhnya. sehingga menghadap istrinya.
"maaf, " lirihnya tangan Fadly meraba perut yang rata dan sedikit turun ke bawah. dirinya segera bangkit dan menyingkap slimut tersebut.
sesaat, pandangannya menatap nanar melihat pemandangan di depannya itu.
dimana disana, terdapat luka robek dan mengeluarkan darah dan membuat sprei putih itu, tertetes oleh darah.
Fadly melihat itu, dengan mata berkaca kaca. bisa bisanya, dirinya lepas kendali seperti ini.
"maaf, " ucapnya seraya terisak dan tanganya terulul menyentuh bagian yang luka itu. membuat si empunya, mengerang karena rasa sakit.
Fadly segera menutup kembali tubuh istrinya dengan selimut dan kembali merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
nanun, kali ini Fadly memunggungi sang istri. tubuhnya bergetar menahan tangis yang selama ini dia pendam.
"maaf, " ucap Fadly di sela isak tangisnya dan setelah lelah menangis, akhirnya dirinya ikut terlelap dengan posisi yang masih sama. yaitu mwmunggungi sang istri.
pagi harinya, Ika terbangun dari tidurnya dan menegangkan otot tubuhnya. kemudian dirinya menoleh kearah samping, dan mendapati sang suami yang masih terlelap di sana.
tiba tiba, ingatannya teringat kejadian malam tadi dan Ika langsung membuka selimutnya. kemudian ia tersenyum miris, menyadari hal apa yang baru saja, Suaminya lakukan padanya.
"kamu jahat Yah," ucap Ika lirih dan segera mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
hatinya begitu sakit, mendapatkan perlakuan kasar dari sang suami.
dengan perlahan, Ika turun dari ranjang dan segera kekamar mandi. walaupun rasanya sangat sakit dan nyeri. lebih sakit daripada waktu awal mereka melakukannya.
ia tetap memaksakan diri, untuk berjalan walau harus tertatih si buatnya.
setelah sampai kamar mandi, Ika menutup pintu dengan perlahan.
setelah itu, Ika menyalakan Shower dan mengguyur tubuhnya, dengan air dingin.
Ika meringis kesakitan, saat bekas luka itu, terasa perih bak di sayat benda tajam, saat menyentuh air dari Shower.
"awh sakit baget sih, hiks hiks, kamu jahat Yah, hixs, " ucap Ija seraya terisak di bawah guyuran air dingin.
setelah lima belas menit kemudian, Ika keluar dari dalam kamar mandi, dan segera mengganti baju, tanpa menoleh swdikitpun kearah ranjang.
__ADS_1
dimana disana, terlihat Fadly yang sudah terbangun dari tidurnya dan tengah menatap Ika dengan mata memerah.
apalagi, saat melihat Ika berjalan tertatih menuju lemari pakaian, dengan jelas Fadly melihat istrinya berjalan seraya meringis karena kesakitan.
dengan cepat, Fadly menghampiri sang istri, hendak membantunya. namun denga cepat, Ika segera menghindar dan langsung berbalik arah menuju kamar mandi kembali.
ia memutuskan akan mengenakan pakaianya di sana saja. karena jujur, hatinya masih merasa sakit saat mengingat hal yang terjadi semalam.
setelah selesai mengganti pakaian, Ika keluar dari kamar mandi dan segera melangkahkan kaki, menuju bok bayi.
namun, langkahnya terhenti, saat mendapat sang suami berada di hadapannya sedang menatap dirinya.
Ika sama sekali tak menghiraukan keberadaan suaminya itu. ia memutuskan untuk tetap melangkahkan kakinya menuju box bayi.
namun, langkahnya terhenti, saat Fadly mencekal tangannya. membuat Ika menoleh dan menatap wajah sang suami.
namun, Fadly merasa ada yang lain, saat istrinya itu, menatapnya.
pandangannya, berubah menjadi dingin dan seperti misterius. membuat Fadly sedikit ketakutan.
"Bun, " ucap Fadly seraya menggenggam tangan istrinya yang terasa sangat dingin itu.
namun, Ika hanya menoleh sesaat dan kembali memandabg kearah depan dengan ekspresi yang sulit diartikan.
ia merasa takut akan sikap istrinya yang sepertinya sudah mulai berubah itu.
"maaf, maafkan Ayah, " ucap Fadly lirih seraya sesekali mengecup kening wanitanya itu. dan tak lama, terdengar suara isakan tangis di sana.
bukan dari Ika, wanita itu tak menangis sedikit pun. bahkan, airmata jatuhpun, tidak. seakan hatinya telah mati rasa karena kejadian semalam.
melainkan dari Fadly. laki laki itu justru yang menangis terisak. menyesali perbuatannya. dia tak henti hentinya, merutuki kebodohannya sendiri.
setelah puas menangis, Fadly melonggarkan pelukanya. dan menundukkan kepala, untuk melihat wajah istrinya.
dan dirinya di buat semakin ketakutan. bukan ketakutan karena melihat hsntu. melainkan, takut karena kediaman istrinya itu.
saat Fadly melonggarkan pelukanya, ika berjakan menuju kasur baby Nisa. karena Ika melihat sepertinya, baby Nisa sedang menangis.
dengan segera, Ika menghampiri tempat itu. dan segera menggendongnya.
"cup cup sayang jangan nangis lagi ya, Bunda di sini sayang, " ucap Ika seraya mengayun anyunkan tubuh mungil itu.
__ADS_1
tak lama, baby Nisapun tenang, membuat Ika tersenyum tipis dan segera meletakanya di karpet berbulu samping kasur.
sementara Fadly, Laki laki itu, merasa sangat gelisah saat menyadari perubahan istrinya itu.
ia segera keluar dari kamar mandi, dan menghampiri sang istri yang tampak sudah menyiapkan baju koko dan sarung di atas tempat tidur.
dengan segera, Fadly berjalan ke arah Ika hendak melingkarkan tanganya ke pinggang sang istri.
tapi, diluar dugaanya karena ternyata, Ika menghindar. membuat Fadly kembali terperanjat kaget karenanya.
Fadly segera mengenakan baju koko dan sarungnya dan kemudian, mengajak sang istri untuk melaksanakan ibadah sholat subuh.
Ika tak banyak bicara seperti biasanya. wanita itu, hanya terdiam di belakang suaminya.
Fadly menoleh ke belakang untuk melihat sang istri. dan hatinya, merasa sakit serta terpukul, saat melihat istrinya hanya diam saja seraya menatap lurus ke depan.
"ayo cepetan, nanti keburu habis waktunya, " ucap Ika tak melihat kearah Fadly sedikitpun.
Fadly terkesiap, saat menyadari sikap dan suara dingin sang istri.
namin, dengan cepat, Fadly segera melaksanakan sholat shubuh. karena memang, waktunya sudah mepet.
mereka sholat dengan khusuk walaupun fikiran Fadly tak tenang melihat perubahan istrinya itu..
setelah selesai sholat, Ika mencium tangan sang suami tanpa menatap laki laki itu.
Fadly menahan pundak istrinya, dan menatap mata istrinya itu.
"maaf, " ucap Fadly mengecup kening wanitanya itu. dan merengkuhnya kedalam pelukannya.
namun, Ika sama sekali tak bergeming di pelukan suaminya itu.
Fadly menangkup wajah istrinya itu dan menatap dalam mata wanita yang menjadi istrinya itu.
"maaf, jangan mendiamkan aku seperti ini, " ucap Fadly seraya menangkup wajah istrinya itu.
Ika lagi dan lagi hanya diam seraya menatap wajah suaminya yang telah berlinang airmata.
dan dengan perlahan, Ika melepaskan tangan besar suaminya yang berada di wajahnya itu.
dan tanpa mengucapkan kata apapun, Ika beranjak dari duduknya dan menghampiri sang anak yang sedang tengkurap di sana.
__ADS_1
Ika menghapus airmatanya yang jatuh, setelah dirinya menghadap kearah lain.
BERSAMBUNG.....