
"belum yah, bunda belum selesai, " ucap Ika yang merasa takut karena membohongi suaminya.
Fadly hanya terdiam memikirkan sesuatu. " kok lama bun,? " tanyanya heran.
"ya nggak tau yah. kan setiap wanita itu siklusnya berbeda-beda, " jawab Ika senormal mungkin agar sang suami tidak curiga.
"maaf ya yah, bunda bohong. ampunya hamba ya Allah, " ucap Ika dalam hati.
Fadly melepaskan pelukanya dan berjalan kearah box bayi dan menggendong baby Nisa karena sepertinya bayi mungil tersebut merasa haus.
Ika memperhatikan sang suami, hatinya merasa meringis melihat itu. kemudian, ia berjalan menghampiri sepasang ayah dan anak tersebut. dan duduk di sampingnya.
"ayah marah,? " tanya Ika takut.
Fadly yang sedang bermain bersama baby Nisapun, menoleh. alisnya bertaut mendengar pertanyaan sang suami.
"kenapa harus marah bun, kan bunda belum selesai" jawab Fadly yang masih fokus bermain dengan baby Nisa.
"huh, kirain ayah marah. " ucapnya lirih.
Fadly meletakan baby Nisa di kasur. lalu beralih pada sang isteri yang masih setia menatap bayi mungil tersebut.
"enggak kok bun, kan itu memang penghalang alami. beda cerita jika bunda udah selesai tapi bohongi ayah, ayah pasti marah besar, " ucap Fadly yang sebenarnya hanya bercanda.
Gluk
dengan susah payah, Ika menelan ludahnya mendengar jawaban sang suami.
melihat reaksi isterinya, Fadly malah tertawa, " bun, ayah cuma bercanda lho, gak usah tegang begitu, " jawab Fadly yang masih tertawa kecil.
malam itu, di lalui Ika dengan gelisah. sampai jam dua dini hari, ia masih belum bisa terlelap.
Ika memiringkan badan menghadap sang suami. memandangi laki-laki itu secara dalam dan tanganya terulur mengelus wajah suaminya.
"maaf yah jika nanti bunda mengecewakan ayah, " ucap Ika mengecup pipi Fadly. lama ia menatap, akhirnya matanya terasa berat. dan tak lama, ia tertidur.
pagi harinya, Ika terlambat bangun. Fadly yang sudah mandi dan baby Nisa juga sudah wangi, menghampiri wanita itu.
"bun, bangun yuk sarapan, " ucap Fadly lembut seraya menepuk pipi Ika lembut
Ika mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya matahari yang masuk kekamar.
Kini, pandangan matanya menatap pemandangan indah di depanya. Ika tersenyum kearah dua penyemangatnya itu.
"sayang, kok tumben bangunya kesiangan,? " tanya Fadly. Ika hanya tersenyum karena ia tak tau mau mengatakan apa,
__ADS_1
"aku udah menyiapkan air hangat untuk kamu, mandi gih nanti kita sarapan, " ucap Fadly. membuat Ika tertegun sesaat. hingga senyuman manis terukir di wajahnya.
hatinya menghangat mengetahui semua perlakuan manis sang suami.
Ika beranjak dari kasur, dan langsung menuju kamar mandi.
sementara Ika mandi, Fadly menyerahkan sang putri pada bi Sumi untuk memberinya susu. setelah itu ia kembali kekamar.
setelah lima belas menit, Ika keluar kamar mandi dan mendapati sang suami sudah berada di sofa sebelah ranjang.
sesekali, ia melieik sang isteri yang keluar hanya menggunakan handuk.
Ika yang menyadari itu, merasa bersalah ia tau apa yang di maksud sang suami walaupun hanya menggunakan kode mata.
setelah selesai berpakaian, Ika duduk di samping suaminya. dengan tiba-tiba, Fadly melingkarkan lengan kekarnya pada tubuh mungil isterinya.
jarak yang tanpa penghalang, membuat Ika dapat merasakan nafas suaminya dan detak jantungnya yang brrdegup kencang.
"yah, Nisa mana,? " tanya Ika mengalihkan tatapan suaminya.
"bentar bun, ayah mau gini dulu, " ucap Fadly seraya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ika.
Ika hanya bisa pasrah dan membiarkan sang suami berbuat semaunya.
"pagi nyonya tuan, mau makan sekarang,? " tanya bi Sumi yang menyerahkan baby Nisa kepada ibunya.
"pagi bi, isteri saya katanya mau makan ikan mujaer, " jawab Fadly.
yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang isteri. sejak kapan ia minta makanan tersebut.
"oh, kalau begitu saya masakin dulu ya nyonya, " ucap bi Sumi yang hendak pergi. namun dengan cepat di cegah oleh Ika.
"eh bi, gak usah tadi mas Fadly hanya salah bicara, " ucapnya seraya mendelik tajam kearah sang suami.
bi Sumi hanya mengangguk dan berlalu pergi karena masih banyak yang akan ia kerjakan.
"mas ih, kasian tau bi Sumi, " ucapnya di sela-sela makanya.
"hehehw iya maaf sayang, " ucap Fadly cengir kuda.
mereka akhinya makan dengan nikmat dan dalam kebahagiaan. sesekali pasangan keluarga kecil itu tertawa renyah.
setelah selesai makan, Ika dan Fadly membawa baby Nisa jalan-jalan di taman belakang. menikmati pepohonan yang sengaja tidak ia tebang saat membangun rumah ini.
di sana juga banyak sekali bunga. diantaranya, bu mawar, melati dan sedap malam.
__ADS_1
mereka kini duduk di bangku di tengah bunga. dengan baby Nisa berada di stroler.
"bagus ya yah, oh iya yah bunda boleh nanam kelengkeng gak di sini,? " tanya Ika menunjuk tanah yang masih kosong.
"hmm boleh sayang. nanti ayah carikan tanaman yang bagus kualitasnya.
mereka kembali mengobrol hangat dan tanpa mereka sadari, ada seorang wanita paruh baya yang sedang memperhatikanya di balik tembok.
tepukan halus mendarat di pundaknya. membuat wanita itu nenoleh.
"kenapa nggak di samperin langsung,? " tanya orang yang menepuk bahunya.
wanita itu menggelengkan kepala. " apa mamah masih pantas pah, setelah apa yang mama lakukan, ?" tanya wanita itu.
yap, wanita itu adalah mama Erika dan papa Yasinu. setelah kejadian di restaurant malam itu, mama Ika terbuka fikiranya. jika jebahagiaan sang putri terletak pada keluarga kecilnya.
terbukti kini, Ika sangat terlihat kebahagiaanya
"mama gak boleh ngomong gitu, biar bagaimanapun, mama adalah ibu kandung Ika. " ucap Papa Yasinu.
setelah itu, pria paruh baya itu, menarik tangan sang isteri untuk menemui anak, menantu, serta cucunya.
"Ika, " ucapan seseorang yang ada -di belakangnya. sontwk saja, Ika dan Fadly menoleh secara bersamaan
Ika menegang untuk beberapa saat, saat melihat siapa yang ada di hadapanya.
dengan perlahan, Ika berdiri dari duduknya. Mama Erika melangkahkan kaki mendekat. semakin dekat hingga kini wanita paruh baya itu sudah benar-benar ada di hadapanya.
sesaat, suasana menjadi hening. baik Ika ataupun Mama Erika, sama-sama diam.
dan tanpa di duga, Mama Erika merosot ke tanah seraya mengatupkan tanganya di dada.
"maafkan mamah nak, " ucap Mama Erika.
sontak saja, ketiga orang itu terkejut. segera Ika meraih sang mama untuk membantunya berdiri.
"mah apa yang mamah lakukan, ?" tanya Ika.
"mamah hanya mau meminta maaf nak, maafkan mamah jika selama ini, mamah sudah menyakitimu, " ucap Mama Erika menangis.
"mah, apapun itu, Ika sudah maafin mamah kok, "ucap Ika yang juga ikut menangis.
BERSAMBUNG.....
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK GAES
__ADS_1