Story Of Yulianika

Story Of Yulianika
BAB 59


__ADS_3

Ika melangkah keluar dari ruangan sang Suami dan berbalik menatap ruangan itu.


Ika mendadak lemas karena menyadari sesuatu, " huh pantas saja, tadi karyawan itu memasang ekspresi tegang saat masuk kedalam ruangan, " ucapnya seraya menupul kencingnya.


dengan ceoat, ia berjwlan menuju toilet yang mwmqng berada di dapur belakang.


saat dirinya masuk, Ika sempat mendengar karyawan sedang berbicara. dan tak sengaja, Uka mendengarnya.


"gila ya, di dalam sana, tadi aku lihat pak Fadly dan Isterinya sedang beginian, " ucap si karyawan seraya memperagakan kedua tangannya seperti orang yang sedang bercumbu.


"eh, masak sih kamu tau dari mana,? " tanya temanya penasaran.


"his tau lah kan ruangan pak Fadly transparan, " ucap si karyawan tadi.


"oh, ya sudah sih biarin aja, lagian itu bukan urusan kita, " ucapnya memilih tqk merespon. apalagi, jika nanti ada yang mendengarnya, bisa bisa dirinya kehilangan pwkerjaan ini.


"ya tapi Chik, gue masih heran aja kenapa mereka bisa melakukan hal seperti ini padahal ini kqn tempat kerja, bukanya dirumah saja, " ucap karyawan itu masih dengan tawa cerianya.


"Lidya, sudahlah aku tidak mau hanya karna ini, kehilangan pekerjaan ku ini, " ucap gadis yang bernama Chika itu.


"halah Chik Chik takut banget sih loe sama pak Fadly, dia juga pengusaha baru di sini, gajinya aja hanya satu juta lebih, " ucap gadis yang bernama Lidya itu.


membuat Ika menjadi tak tqhan dan langsung mendatangi dua gadis itu seraya berdehem keras.


"ekhem, " suara deheman Ika, membuat kedua gadis yang tadi bergosip, menjadi terdiam dan seketikq menoleh kearah sumber suara.


"eh Bu " ucap keduanya menjadi gugup dan salah tingkah. terutama gadis yang bernama Chika yang tampak gemetaran karena takut.


sementara gadis yang satunya, merasa takut namun juga sedikit berani karena menatap balik isteri bosnya itu.


"kalian kalo mau bekerja di sini, tidak usah bergosiip. kalo mau bergosip, tidak usah kerja di sini," ucap Ika tegas. dan langsung berlalu pergi ke toilet untuk mencuci wajahnya.


niat hati ingin buang air, mendadak tidak jadi karena omongan dua gadis itu.


setelah selesai membersihkan wajahnya, Ika kembali keluar dari kamar mandi. Ika menoleh saat mendengar jika gadis yang bernama Lidya itu malah mengatainya kere.


"biarin aja di pecat, lagian gue masuk ke sini karena terpaksa, " ucap Lidya.


membuat temannya yang bernama Chika, menegurnya.


"sstt kalau ngomong di jaga, " ucap Chika berusaha menegur. tapi, bukanya membuat Lidya takut, justru malah semakin menjadi.


"halah kau ini, takut sekali sih kalau kita di pecat, kita pasti bisa mendapatkan kerjaan yang lebih baik, " ucsp Lidya jumawa.

__ADS_1


membuat Ika semakin geram dengan kata kata gadis itu.


dia fikir, segampang itu dwn semenyenangkan itu apa mencari pekerjaan, jika memang mudah mencari kerja, tidak akan ada orang yang menganggur dan twk ada namanya Di CARI PEKERJA BLA BLA bla di kertae tamplate.


"jika kata katamu itu benar, silahkan kamu mengunduekan diri dan mencari pekerjaan di tempat lain, saya yakin sratus persen, tak akan ada yang mau menerima karyawan lemes seperti dirimu, " ucap Ika dan langsung berlalu pergi.


Ika benar benar tidak menyangka, jika karyawan suaminya ada yang memiliki sifat buruk seperti itu.


"aku kasih tau ayah nggak yah,? " tanya Ika seraya berjalan menuju ruangan sang suami.


sebenarnya, Ika adalah tipe orang yang sangat cuek pada wekitarnya dan tak pernah mengadu pada siapa pun. kecuali jika itu sudah keterlaluan, mwka akan berbeda cerita.


"tapi, kalo di pecat bagaimana,? mereka tak akan mudah mendapatkan pekerjaan. apalagi, dengan mendapat catatan hitam didalamnya, " gumanya seraya terus berjalan menuju ruangan bos.


Ika memang seperti itu orangnya, dia tak akan pernah tega dengan orang lain. apalagi jika menyangkut ekonomi.


apalagi, dirunya tau jika saat ini, semua serba sulit dan lapangan kerja menipis membuat sebagian orang menjadi pengangguran.


setelah sampai di ruangan suaminya, ternyata rungan itu sudah si beri gorden warna putih membuatnya tak terlihat dari luar.


"bun, bagaimana menurutmu,? " tanya Fadly saat melihat Ika membuka pintu.


Ika menghembuskan nafas kasar umtuk menetralkan emosinya. setelah tenang, Ika menghampiri sang suami dan anaknya yang tengah asyik bercanda.


"hmm nggak papa, " ucapnya yang langsung duduk bergabung dengan anak dan suaminya.


sementara itu, Fadly yang melihat istrinya berubah, memilih diam. karena ia tak ingin menambah masalah dengan bertanya.


karena semenjak dirinya menilahi Ika, Fadly menjadi faham jika isterinya sudah marah, maka tak bisa diganggu.


mereka berdua terdiam dalam lamunan masing masing.


hingga suara twngis baby Nisa mrmbuyarkan lamunan mereka.


oek oek oek.


tangisan itu, membuat kedua orang dewasa itu menoleh. dan dengan sigap, Ika segera menggendongnya dan memberinya asi.


"cup cup cup sayang, jangan nangis ya sayang, kan ada bunda sama ayah di sini, " ucap Ika menimang danmenggoyangkan tubuh mungil itu, agar segera diam.


twk lama, Nisapun terlelap dan membuat Ika tersenyum senang melihatnya.


"duh, pules banget sih anak Bunda, " ucapnya seraya mengecup pip8 gembul Nisa.

__ADS_1


Fadly yang melihat itu, segera bwngkit dan memeluk sang isteri dari belakang. dengan posisi baby Nisa di gendongan Ika.


"kamu memang hebat sayang, " ucapnya seraya melingkarkan tanganya pada perut istetinya. kemudian perlahan mengusap perut yang rata itu.


membuat seketika, tubuh Ika menegang karena rasa takut dan bersalah.


"Yah, jangan usil deh bunda mau nidurin Nisa dulu nih, " ucspnya seraya sedikit menjauh.


bukanya menurut, Fadly justru srmakin memeluk isterinya itu dari belakang. membuat Ika eemakin tegang di buatnya.


"emm Yah, jadi ayah akan memilih restaurant ini, dan berhenti bekerja di perusahaan Papa, " tanya aika untuk mengalihkan perhatian suaminya itu.


"hmm mungkin saja, tapi nanti saja Ayah juga belum memikirkan semua dengan matang. " ucapnya melongga4kan pelukanya.


membuat Ika menghela nafas lega melihat itu. dia tersenyum seraya membaringkan Nisa di sofa dan Ika duduk disampingnya dan menepuk tubuh bayi mungii itu pelan.


"kalau bisa, Ayah bicarakan baik baik dengan Papa. dan keluarga Ayah.


karena, bunda nggak mau ada salah faham lagi dengan keluarga Ayah. terutama dengan bude Nirmala, " ucap Ika seraya menghela nafas berat.


membuat Fadly menghentikan aktivitasnya dan memandang sejenak wajah sang istri. lalu tersenyum tipis.


"bunda tenang saja, semua akan baik baik saja, " ucap Fadly.


sore harinya....


Ika dan Fadly pulang kerumah karena hari memang sudah sore. dwn lagi, baby Nisa sudah rewel. karena memang badanya sudah lengket karena keringat.


Note : mampir di karya temen aku dong hehe bagus lho kak punya kak @Numa Azalia.



"Aku apa? ngomong yang jelas !" bentak Ali karena Ara justru diam.


"Aku mencintai Kamu.!" jawab Ara dengan lantang.


"Ha-ha-ha, lelucon macam apa itu? Jelas saja banyak wanita yang mencintai aku. Aku tampan, gagah dan juga berkarisma," Ali menjawab serta menertawakan gadis culun yang mengaku mencintai nya.


"sedangkan, Kau? Aku yakin, tidak ada yang sudi dengan gadis culun sepertimu. Seharusnya kau berkaca dulu, Nona Gunawan !" lanjut Ali semakin menghina Ara. ucapannya sangat menusuk hati Ara.


"Sial, kenapa rasanya sakit sekali. Ketika kau dihina, oleh orang yang kau cintai Ara ! Luka ini bahkan lebih menyakitkan, dari pada Lukamu yang biasa kau dapatkan," batin Ara menahan sakit yang Ali berikan di hati nya.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2