Story Of Yulianika

Story Of Yulianika
BAB 80


__ADS_3

setelah itu, Ika menggendong putrinya itu dan dirinya segera duduk di sofa depan ranjang. setelah sebelumnya, Ika mwngganti pakaiannya.


dia melirik jam yang berada di dinding dan di sana, sudah pukul setengah enam pagi.


"oh, baru jam setengah enam rupanya, " gumamnya seraya sesekali, mencium vau badan anaknya yang terasa wangi walaupun belum mandi.


"hmm wangi banget sih anak Bunda," ucap Ika seraya tersenyum tipis dan bernyanyi bersama bayi mungil itu.


Ika sama sekali tak menghiraukan keberadaan sang suami yang sedari tadi, memandangi dirinya. suakan laki laki itu, tak ada dalam kamar itu.


Fadly yang mulai merasa geram dan bersalahpun, dengan cepat menghampiri sang istri dan langsung duduk disampingnya.


"Bun, tolong jangan seperti ini, " ucap Fadly tegas membuat Ika menoleh dan menatap dingin laki laki itu.


"trus harus bagaimana cara aku menyikapi orang yang sudah menyiksaku, apakah aku harus bermanja dan bersendau gurau? " tanya Ika terseyum sinis.


Fadly terdiam saat mendengar ucapan istrinya itu. memang, yang di ucapkan oleh Ika semuanya benar. dan Fadly hanya bisa menundukkan kepala karena rasa bersalahnya.


Ika kembali menatap lurus ke depan, membuat aura wwnita satu anak itu semakin menakutkan.


"perlu Ayah ketahui, jika aku, nggak akan pernah suka dengan pria yang menyiksa perempuan, " Ika menjeda omongannya untuk mengambil udara." dan aku sudah memutuskan kita berpisah, " lanjutnya.


membuat Fadly yang sedari tadi hanya diam dan menundukkan kepala, langsung menoleh kearah istrinya.


Duar.


perkataan Ika, membuat Fadly seperti tersambar petir di siang hari.


secepat kilat, laki laki itu, menggelengkan kepala kuat. seakan menegaskan jika dirinya tak ingin berpisah dengan wanitanya itu.


"enggak, sampai kapanpun, Ayah tidak akan pernah mengatakan hal itu pada Bunda, " ucap Fadly seraya menggelengkan kepalanya.


membuat Ika, tersenyum sinis mendengar ucapan suaminya itu.


"hmm egois ya, " ucapnya terkekwh kecil. nanun dapat di lihat, jika senyuman itu, adalah senyuman kesedihan.


"apa maksud Bunda,? " tanya Fadly tak mengerti.


Ika tersenyum miring dan menatap suaminya itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"justru aku yang harusnya bertanya apa maksud dari gambar ini,? " tanya Ika seraya menampilkan swbuah gambar di ponselnya.


"Bun, itu semua nggak seoerti yang kamu fikirkan," ucap Fadly seraya menggenggam tangan Ika.

__ADS_1


namun, dengan cepat, Ika segera menepis tangan suaminya itu, dengan kasar.


"nggak usah sentuh aku, " ucap Ika seraya berjalan ke arah lemari pakaian dan memasukan semua pakaian ke dalam koper.


dan setelah selesai memasukan pakaiannya kedalam koper, Ika segera menggendong baby Nisa yang berada di karpet.


melihat hal itu, Fadly segera menarik tangan sang istri dan mendekapnya erat.


"tolong jangan seperti ini Bun, " ucap Fadly seraya mengecup kening istrinya.


Ika sama sekali tak menghiraukan apa yang di ucapkan oleh sang suami.


ia melepaskan diri dari dekapan suaminya itu dan segera beranjak dari sana.


Fadly tak kehilangan semangat, ia masih saja menarik tangan istrinya itu. sampai sampai, Fadly berlutut di hadapan Ika.


"tolong naafkan Ayah, Bunda yang Bunda lihat itu tak seperti yang kamu kira, " ucapnya seraya mengecup punggung tangan istrinya itu.


"lepas!! " bentak Ika keras hingga membuat Baby Nisa menangis karena merasa terkejut.


Dengan tanpa basa basi, Ika melangkah pergi meninggalkan Fadly yang masih tertegun ditempatnya.


selama mereka menikah, Ika tak sekalipun membentak ataupun berkata kasar padanya.


ika keluar kamar seraya menggeret kopernya. menuruni anak tangga menuju lantai bawah.


di sana, sudah ada Bi Sumi yang sedang menyiapkan sarapan.


"Bi, " sapa Ika seraya menghampiri asisten rumah tangganya itu.


"eh Nyonya, Nyonya mau kemana,? " tanya Bi Sumi saat melihat majikannya itu, menggeret koper.


"hmm mau liburan Bi, " ucap Ika tersenyum tipis. ia sebisa mungkin, menutupi aib keluarganya.


kareba bagaimanapun, aib Suami adalah aib istri juga. dan begitupun sebaliknya.


Bi Sumi hanya mengangguk dan pamit untuk mengambil makanan yang masih verada di belakang.


Ika tersenyum miris dengan apa yang terjadi pada pernikahannya nanti. iapun sudah pasrah saat nanti mendapatkan kemungkinan teeburuknya.


"Bun, tolong jangan pergi, ucap Fadly seraya menarik tangan istrinya. "seharusnya Ayah yang marah karena Bunda membohongi Ayah dan Diam Diam menggunakan alat kontrasepsi, " lanjutnya seraya menarik pinggang istrinya. dan membuat Ika terjerembab ke dalam pelukan sang suami.


"Ayah tau kenapa Bunda menggunakan alat kontrasepsi,? " tanya Ika berapi api.

__ADS_1


wajahnya memerah padam karena menahan amarahnya.


"itu karena Bunda merasa trauma karena proses kelahiran yang dulu terjadi. Ayah fikir enak melahirkan seorang anak,? " tanya Ika.


"dan sampai saat ini,aku masih trauma " ucap Ika bergetar menahan sesak di dada.


Dengan segera, Fadly memeluk sang istri yang masih tampak terisak.


"maaf maaf karena aku terlalu memaksa kamu sehingga kamu menjadi trauma. ," ucap Fadly seraya terisak.


"aku mau pergi, "ucap Ika meronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"enggak aku nggak mau kamu pergi, "ucap Fadly yang masih menahan sang istri.


tapi, dengan sekuat tenaga, Ika melepaskan dirinya dari pekukan suaminya.


"maaf, tapi aku tetep mau pergi, " ucap Ika seraya berjalan keluar rumah. saat genggaman tangan Fadly sudah terlepas.


Ika keluar dari rumah dengan memesan taxi online. dia segera masuk kedalamnya dan berlalu meninggalkan rumah Fadly.


dengan segera, Fadly mengejar langkah sang istri. namun sayang, istrinya sudah terlanjur pergi meninggalkan rumahnya dan sebentar lagi, mungkin akan meninggalkan dirinya.


"arggh S!4!4n," ucap Fadly seraya menjambaj rambutnya sendiri.


dengan segera, Fafly kembali ke dalam rumah, laki laki itu, segera mengembali kunci motornya. Fadly akan menyusul istrinya.


dan semuanya itu, tertangkap oleh penglihatan Bi Sumi.


"duh, kenapa lagi ini,? ' tanya Bi Sumi khawatir.


wanita paruh baya itu, sudah menganggap Fadly dan Ika seperti anaknya sendiri.


sementara itu, Ika yang merasa sangat kecewa kepada suaminya, hingga tak menyadari bahwa twxi yang membawanya, sudah sampai di depan sebuah rumah sederhana.


"maaf Bu, sudah sampai, "ucap Sang Supir taksi menghentikan lamunan wanita itu.


"eh iya oak makasih, " ucap Ima keluar dari dalam taxi seraya menggendong putrinya itu.. sementara supir taxi itu, menurunkan koper Ika membawanya masuk kedalam rumah sederhana itu.


"terimakasih ya Pak, " ucap Ika dan di angguki oleh sang supir.


setelah supir taxi itu pergi, Ika segera nasuk kedalam rumah itu.


rumah yang semalam ia sewa untuk satu bulan kesepan. karena memang sistem kontrakan di sini, hanya Bulanan bikan tahunan.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2