
setelah sekian lama memeluk tubuh sang Suami, Ika melonggarkan pelukanya dan mendongak menatap manik tajam lelaki itu.
"yah, minggu depan, kita di undang sama Afifah diacara pernikahanya," ucap Ika.
"hmm kamu mau datang, ?" tanya Fadly yang seakan tau fikiran isterinya itu.
"hmm sebenarnya, Bunda males datang Yah, tapi ini demi Afifah, " ucap Ika tersenyum
sebenarnya, hatinua masih belum ikhlas jika melihat wajah para pembulynya dulu. namun, Ika hatus bersikap dewasa. karena tak mungkin, dirinya menghindar terus menerus.
"jika tidak enak, jangan di paksa, " ucap Fadly yang seakan tau isi hati dan fikiran isterinya.
Ika tersenyum tipis kearah sang suami. " nggak papa Yah, asal ada Ayah, Bunda siap, " ucap Ika membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
"hmm baiklah, kita tidur sudah malam, besok Ayah akan di sibukan setelah ke kantor, Ayah akan ke Cafe saat makan siang, katanya ada masalah, " ucap Fadly menggiring sang Isteti untuk tidur.
mereka akhitnya, terlelap dengan posisi baby Nisa di tengah orang tuanya, dengan Fadly dan Ika yang berpelukan.
pagi harinya...
jam setengah lima, sebuah tepukan mungil mengenai wajah kedua orang tuanya secara bergantian.
membuat kedua pasangan suami isteri itu terbangun secara bersamaan. dan mendapati bayi mungil yang sedang tengkurap dan menatap mereka sembari tertawa.
sontak saja, kedua orang dewasa itu, langsung bangun dan duduk karena melihat pemandangan pertama bagi mereka.
ya, baby Nisa baru bisa tengkurap di usia lima bulan dan kata Dokter itu masih wajar saja.
"wah, anak ayah udah bisa tengkurap nih, hmm" ucap Fadly seraya mengangkat bayi itu dan mengecup seluruh wajahnya. membuat baby Nisa tertawa karena merasa kegelian.
Ika yang menyaksikan itu, hanya bisa tersenyum manis melihat kebersamaan mereka.
tak lama, Ika turun dari ranjang dan segera membersihkan diri, karena memang sudah waktunya sholat Shubuh.
setelah lima belas menit, Ika keluar dari kamar mandi dan segera mengambil mukena dan memakainya.
setelah itu, menghampiri suaminya yang masih asyik dengan putri mereka.
"Yah, mandi dulu sana, " ucap Ika. Fadly hanya mengangguk danberlalu untuk membersihkan diri.
setelah lima belas menit, Fadly keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan baju koko dan sarung.
setelah itu, mereka berdua Sholat dan membiarkan Nisa di atas kasur.
mereka beribadah dengan khusyuk. setelah selesai Sholat, Fadly dan Ika memutuskan untuk berada di kamar dengan sang putri tercinta mereka.
"hmm nggak terasa ya Yah, anak kita sudah semakin besar, " ucap Ika seraya membiarkan sang putri berada di karpet.
__ADS_1
"iya ya bun, sepertinya, ayah baru kemarin mengadzani Nisa, eh sekarang sudah besar aja," ucap Fadly tersenyum.
"oh, iya Yah, gimana kalo kita ajak Doni dan Riko nanti di acara nikahan Afifah," ucap Ika memberikan usul.
"hmm nsnti ayah bicarakan sama mereka, " ucap Fadly.
membuat Ika tersenyum miris, " gimana perasaan Doni ya,? " tanya Ika merasa kasihan pada teman suaminya itu.
"hmm entahlah," ucap Fadly kembali bercanda dengan sang putri tercinta.
setelah jam dinding menunjukan angka pukul enam pagi, mereka bertiga turun dari kamar menuju meja makan untuk sarapan.
"bi, masak apa,? " tanya Ika sast mereka sudah berada di meja makan.
"eh nyonya, ini masak sambal goreng ati, " ucspbya seraya menunjuk menu di meja makan.
"wah, lezat sekali, " ucap Ika berbinar menatap makanan yang ada di depanya..
mereka berempat pun sarapan dengan hikmat dengan baby Nisa tentunya. yang sudah duduk manis di meja makan khusus bayi.
setelah selesai makan, Fadly pamit untuk pergi ke kantor dan meminta restu agar semua lancar.
setelah itu, Fadly mengendarai motornya karena hari ini, Ika ingin menggunakan mobil itu untuk jalan jalan ke mall.
perlu di ketahui, jika Ika sudah bisa mengendarai mobil dan sudah memiliki SIM.
membuat Ika, seperti sosialita berkelas pada umumnya.
wajahnya pun mendukung, karena wajah Ika yang sedikit kebule bulean.
ia menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota S dengan menendarai mobil mewahnya.
sesampaimya di mall tersebut, Ika turun seraya menggendong baby Nisa di gendongan depan.
Ika menyusuri mall dengan melihat lihat di sekitarnya. hingga dirinya tak sengaja, menabrak seseorang yang tengah terburu buru.
"eh, maaf saya tak sengaja, " ucap Ika saat mereka sudah berdiri.
"kamu, ternyata kamu sendirian mana suami kamu, hemm,? " tanya orang itu mencibir..
membuat Ika memutar bola malas dan melangkah menjauh darinya.
namun, baru beberapa langkah, suara dari belakang, membuat Ika terhenti.
"jika kamu mau berubah fikiran, saya siap menampung kamu, " ucapnya terdengar mencibir.
membuat Ika berbalik arah dan menatap sinis orang di depanya itu.
__ADS_1
"jangan mimpi!! " ucapnya seraya beranjak pergi meninggalkan orang itu.
sepanjang perjalanan, Ika terus saja menghela nafas panjang. kenapa di dunia ini ada manusia serempong itu, dan lagi, seorang pria.
untung saja, dirinya tak sampai menikah dengan orang itu. jika jadi menikah, Ika tak bisa membayangkan, akan seperti apa hidupnya nanti.
setelah sampai di toko yang ia tuju, Ika segera membeli barang yang ia inginkan.
setelah puas berbelanja, Ika segera menuju kasir untuk membayar.
"totalnya jadi enam ratus ribu mbak," ucap mbak Kasir pada Ika.
sementara itu, Nisa tampak anteng saja di stroler bayi.
setelah selesai membayar, Ika menuju cafe di dalam mall untuk membeli makanan ringan berupa Sosis bakar. dan dengan lahap, Ika segera memakan makananya itu, tanpa menyadari jika ada seseorang yang memperhatikan dirinya sendiri tadi dan berjalan menuju kearahnya.
"ngapain disini,? " tanya orang itu, membuat Ika mendongak menatap sang pemilik suara.
Ika tersenyum saat mengetahui, jika sang suami yang menghampirinya.
"kok kesini,?" tanya Ika seraya melahap makanan yang ada di depannya.
"kenapa,? "tanya orang itu nengambil sosis tersebut dan melahapnya.
membuat Ika, membulatkan matanya karena makanan itu, bekas dirinya.
"ayah, itu bekas bunda tau, " ucap Ika merasa tak enak pada sang suami.
"emang kenapa kalau punya bunda, ayah nggak boleh minta gitu,? " tanya Fadly.
"ya bukan gitu maksudnya, kan itu bekas bunda, nggak sopan aja kalau ayah makan, "ucap Ika.
"enggak papa Bunda sayang, justeru kita terlihat romantis kalau makan berdua gini, " ucap Fadly tersebyum.
yap. orang yang memperhatikan Ika dari jauh itu, adalah Fadly.
Fadly memang sengaja ingin menyusul sang isteri yang sedang berbelanja di mall terbesar di kota S itu.
karena memang, ini sudah waktunya makan siang. setelah dari Cafe.
BERSAMBUNG.....
Note: mampir sini kak di karya kak haryani.
Ketika harga diri seorang wanita tidak lebih dari selembar materai, mampukah ia bertahan di dalam keluarga yang kaya raya dan terpandang.
__ADS_1
Hidup di dalam garis kemiskinan membuat Virgo harus digadaikan demi membayar hutang kedua orang tuanya. Bertemu dengan Dylan seorang pemuda yang terkenal dingin dan ringan tangan membuatnya berjuang ekstra demi bisa bertahan hidup.