
setelah mengucapkan kalimat itu, Fadly segera bangkit dan berlalu pergi meninggalkan kedua temanya di club.
"gila sih gue gak nyangka seorang Fadly Antonio sekarang jadi lembek gara-gara cewek" ucap Riko seraya terkikik geli.
"ya mungkin akan seperti itu jika nanti gue ketemu sama orang yqng tepat" ucap Doni seraya memandang walpaper ponselnya.
Riko yang penasaran, mencoba mengintip dari samping dan seketika ia memandang Doni dengan tatapan penuh curiga.
"loe beneran naksir sama si Afifah?" tanya Riko.
Doni hanya menoleh sebentar dan kembali fokus pada layar ponselnya.
"gue merasa memiliki cemistry drngan wanita itu" ucap Doni menatap lurus kedepan.
"hmm kalau memang naksir kejar aja bro gue dukung" ucap Riko mrnepuk bahu Doni.
lalu setelah beberapa saat mereka di sana, mereka berdua memutuskan pulang kerumah masing-masing.
🌸🌸🌸
Ika mengerjapkan matanya saat dirasa kerongkonganya sangat haus. dengan perlahan, ia mengambil gelas yang berisi air putih dan meneguknya secara perlahan hingga tersisa setengah gelas.
lalu dengan perlahan ia mengedarkan pandanganya menatap sekelilingnya.
srketika itu, Ika teringat akan masalahnya sebelum ia tertidur.
"apa benar yang kamu ucapkan itu mas? " ucap Ika lirih dan tak terasa air matanya meluncur tanpa permisi.
"maafkan bunda jika nanti kamu tidak merasakan keluarga yang utuh nak" ucap Ika seraya mengelus perut buncitnya.
dan Ika merasakan tendangan bayinya didalam rahimnya seakan mengerti ucapan Ika.
"kamu memang malaikat kecil bunda" ucap Ika menunduk dan tersenyum senang.
setelah itu, Ika mandi karena waktu menunjukan pukul dua belas siang waktunya sholat dzuhur.
lima belas menit, Ika keluar dari kamar mandi dan segera melwksanakan sholat tanpa menunggu sang suami karena Ika masih terlalu sakit dengan omongan suaminya.
sementara itu di luar kamar, Fadly baru sampai dan segera memasuki rumahnya.
"bi Ika sudah bangun? " tanya Fadly
"belum sepertinya tuan soalnya dari tadi belum keluar akamar. " ucap bi Sumi
Fadly hanya mengangguk seraya berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.
Ceklek
__ADS_1
Fadly membuka pintu memperlihatkan Ika yang sedang duduk di balkon seraya tanganya lincah mengetik sesuatu di ponselnya tanpa berniat menoleh ke belakang.
karena ia masih marasa kecewa dengan ucapan suaminya tadi.
setelah tiga puluh menit, Fadly menuju lemari pakaian dan mengganti baju muslim untuk melaksanakan dholat Dzuhur.
setelah sholat. Fadly menghampiri sang isteri dan memeluknya dari belakang membuat Ika sempat terkejut nwmun, ia kembali bersikap biasa saja.
"maaf" ucap Fadly lirih yang mengatakanya tepat di telinga sang isteri membuat tengkuk wanita itu meremang.
"maaf karena aku sempat berfikir untuk meninggalkanmu" ucap Fadly seraya mengecup pipi sang isteri.
"jika kamu memang ingin melepaskan aku, lakukan dengan cara terhormat" ucap Ika seraya tubuhnya bergetar hebat.
"tidak itu tidak akan terjadi sayang" ucap Fadly seraya membwlikan tubuh sang isteri agar menghadap dirinya.
"kemarin kau berkata tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi tapi tadi baru saja kau mengingkari janjimu" ucap Ika tersenyum kecut.
"maaf maafkan aku sayang aku terlalu tidak percaya diri untuk bersaing dengan Dia" ucap Fadly seraya berlutut di hadapqn sang isteri.
"ayah, bukanya aku pernah berkata jika wanita itu tidak memandang apapun dari seorang pria? yang mereka butuhkan hanya ketulusan dan rasa tanggung jawab bukan? " tanya Ika menatap sang suami yang masih setia berlutut.
Fadly hanya mengangguk.
" lalu mengapa kamu meragukan hatiku? " tanya Ika
"sudah aku tidak mau berdebat lagi denganmu? " ucap Ika "aku lapar mau makan "lanjutnya seraya melangkah meninggalkan sang suami di kamar.
Fadly menghela nafas ia merasa harus berusaha lebih keras meluluhkan hati sang isteri.
segera ia menyusul sang isteri menuju meja makan.
"bi masak apa? " tanya Ika saat ia sudah berada di meja makan.
"eh nyonya ini saya masak omelete dan Steak sapi " ucap Bi Sumi
"hmm gitu ya " ucap Ika ingin pergi dari ruang makan karena iw merasa tak berselera dengan makanan itu.
"eh nyonya mau kemana? gwk jadi makan? " tanya Bi Sumi.
"iya bi soalnya saya kurang suka sama masakan luar negeri saya lebih suka makanan kita" ucap Ika tersenyum kikuk merasa tidak enak.
"emm terus mau makan apa? biar saya buatkan" tanya bi Sumi.
"emm saya mau makan pepes peda hehe" ucap Ika nyengir.
"ok saya buatkan" ucap Bi Sumi segerw membuatkan makanan pesanan sang majikan.
__ADS_1
sementara itu Ika memperhatikan dari meja makan dan tanpa ia sadari, ada seseorang yang memperhatikanya.
siapa lagi kalau bukan sang suami. lalu setelah puas memperhatikan sang isteri, Fadly menuju keruangan kerjanya untuk bekerja.
ya Fadly sedang merintis sebuah bisnis property yang diam diam. ia merintis karirnya tanpa seprngetahuan siapapun termasuk Ika sang isteri.
ia segera masuk keruangan kerjanya dan sesekali mengecek laporan dari jual beli properti.
dan setelah selesai mengeceknya Fadly hanya termenung di depan jendala seraya memegqng dagunya.
"apa aku salah jika memiliki rasa minder padanya" ucap Fadly lirih seraya menatap keluar jendela.
"kamu gak salah kok Yah minder itu wajar" ucap Ika seraya meletakan makanan di atas meja.
membuat Fadly menoleh dan tersenyum larena sang isteri sudah tidak marah padanya.
"udah gak usah di fikirin mending kamu makqn nih aku bawain mie samyang kesukaan kamu" ucap Ika srraya menghampiri sang suami yang masih setia mematung.
"makan yuk sini aku suapin" ucap Ika mengangkat sendok dan menyodorkanya pada sang Suami.
Fadly menerima suapan sang isteri dan tatapanya masih setia menatap sang isteri.
"jangan terus menatapku " ucap Ika seraya tangannya masih setia menyuapi sang suami.
"aku mencintaimu" ucap Fadly tiba-tiba memeluknya.
Ika yang merasa kaget hampir saja melemparkan piringnya.
"ayah hampir saja nih piring terjatuh" omel Ika meletakan piringnya di meja.
"aku kangen sama kamu sayang kita kekamar" bisik Fadly dan tanpa menunggu persetujuan dari sang isteri ia menggendong sang isteri menuju kamarnya.
Bi Sumi yang melihat itu merasa sangat senang.
sementara pasangan muda itu tengah tertawa bahagia
"boleh ya? " pinta Fadly saat tubuh isterinya sudah di letakan secara perlahan keatas ranjang.
Ika hanya tersenyum seraya menganggukan kepala dan membuat Fadly tanpa aba-aba melqncarkan aksinya.
"terimakasih karena kamu benar-benar memilihku dan aku berjanji apapun yang terjadi, sku akan mempertahankan kalian.
"sku butuh bukti bukan hanya janji semata" ucap Ika seraya memandang sang suami.
"iya ya maaf " ucap Fadly memeluk sang isteri dan perlahan mereka berdua sama-sama terlelap seraya berpelukan.
BERSAMBUNG.........
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN