Story Of Yulianika

Story Of Yulianika
BAB 89


__ADS_3

Ika memukul dada suaminya pelan. kemudian, menyandarkan kepalanya di pundak laki laki itu.


Fadly yang melihatnya, tersenyum tipis dan memeluk pundak istrinya itu. dan sesekali, mengecup kepalanya.


"akhirnya, kita busa juga melewati hal yang sulit ya sayang," ucap Ika mendongak dan mengecup pipi Fadly.


"hmm rasanya, aku hampir gila karena kamu ninggalin aku," ucap Fadly mengelus kepala isterinya dengan lembut.


"masa,? emang kamu nggak mau cari wanita lain gitu,?" tanya Ika menggoda.


membuat Fadly, langsung membalikan tubuh istrinya, dan menangkup wajah wanita itu.


"jangan pernah kamu berbicara seperti ini lagi sayang, aku mohon!!" ucap Fadly.


dan tanpa Ika sangka, suaminya itu mengeluarkan bulir bening.membuat wanita itu, trrkejut.


"sayang, kamu kenapa menangis,?" tanya Ika seraya mengusap air mata sang suami.


bukanya menjawab,Fadly malah langsung memeluk tubuh wanitanya itu. bahkan, tubuh Fadly sampai bergetar menahan tangis.


"tolong jangan mengatakan apapun tentang perpisaha, hatiku serasa di remas karena mengingat hal itu," ucap Fadly menangkup wajah Ika.


Ika hanya menganggukan kepala. tanpa mengatakan kalimat apapun. dirinya tak menyangka, jika respon suaminya, akan sebesar ini. padahal, niat Ika hanya bercanda.


"apa di sini masih sakit,?" tanya Ika menunjuk dada sang suami.


"masih, dan akan selalu sakit. karena hati ini terlanjur di kecewajan oleh masalalu, jadi samoai kapanpun, akan swlalu merasa sakit," ucapnya. lalu, menenggelamkan wajanya di leher sang istri, yang tertutup jilbab.


memang benar kata orang, hati dan kepercayaan manusia, itu di ibaratkan seperti kaca yang di hantam oleh batu besar. jika sudah hancur, bisa di susun kembali, tapi pasti akan ada celahnya.

__ADS_1


sepwrti perasaan manusia, jika di sakiti, bisa mwmaafkan tapi tidak akan mungkin melupakan.


cukup lama,mereka berpelukan, hingga suara ketukan pintu,membuat pasangan muda itu, melepaskan pelukan mereka.


tak lama, muncul suster dengan membawa makanan dan minuman menghampiri mereka.


"permisi, pak bu, " ucapnya seraya menaruh makanan dan minuman, di atas nakas samping berankar.


Ika hanya menganggukan kepala seraya tersenyum tipis. kemudian suster itu,kembali keluar dari ruangan rawat.


"sekarang, Ayah makan ya," ucap Ika seraya mengambil piring yang berada di sampingnya itu.


Fadly hanya menganggukan kepala, seraya tersenyum tipis.


Ika menyendokan nasi dan mulai menyuapi sang suami dengan sabar. persis seperti seorang ibu yang menyuapi anaknya makan.


"nah, gini kan dari kemarin enak, ngak usah pakai acara mogok makan segala, sampai kritis lagi," ucapnya seraya menyuapi suaminyq.


bukanya baper karena gombalan suaminya, Ika malah mendegus kesal pada perkataan laki laki itu.


"terus, kalau misalnya aku nggak kembali, apa kamu bakal seperti ini terus,?" tanya Ika seraya nelebarkan matanya.


"hmm mungkin, malah kalau lerlu, aku nggak mau lihat dunia lagi, karena menurutku percuma saja, melihat dunia tapi tanoa ada seseorang yang berarti dalam hidup kita," ucap Fadly menatap manik hitam istrinya.


"ish kayak abg aja, masa baru di tinggal pasanganya, la gsung lemes," ucap Ika mencibir.


membuat Fadly menggenggam erat tangan sang istri.


"kamu memang pasangan aku selamanya sayang, berjanjilah untuk tidak pergi lagi dari sisiku," ucapnya seraya memeluk tubuh istrinya itu.

__ADS_1


Ika yang mendengarnya, merasa terharu dan langsung memeluk suaminya itu.


"pasti itu sayang, jangan pernah neragukan jetulusan seorang wanita," ucap Ika mendongak menatap sang suami.


Fadly hanyamenganggukan kepala, kemudian kembali tersenyum manis.


tiba tiba, fokus nereka teralihkan, saat mendengar tangisan bayi.


mereka sama sama menoleh dan kemudian, saling menatap satu sama lain. setelah itu, mereka langsung menghampiri baby Nisa yang tengah tertudur di stroler bayi.


hampir saja, mereka melupakan jika ada bayi mungil diantara mereka.


"duh, sayang maafin bunda ya sayang, " ucap Oka seraya mengangkat baby Nisa dari stroler. kemudian, menggendongnya.


tak lama, bayi mungil itu, kembali terlelap dan membuat Ika tersenyum geli.


"sayang, di tidurkan di sini saja," ucap Fadly.


membuat Ika menoleh dan menganggukan kepala dan menghampiri suaminya.


"tapi apa tidak masalah Yah, Ayahkansedang sakit,?" tanya Ika saat teringat jika suaminya itu sedang sakit.


"nggak papa Bun, Ayah kwn sakitnya hanya sakit malarindu," ucapnya seraya terkekeh kecil.


"dih, narsis," ucapnya mencibir. membuat Fadly terkekeh pelan.


Ika berjalan mendekati brankar dan segera meletan putrinya, di samping sang suami.


kemudian, Ika kembali melangkah keluar untuk membeli sesuatu di kwntin rumah sakit. karena sepeetinya, wanita muda itu, ingin sekali nakan yang segar segar.

__ADS_1


"yah, ayah nggak papa kan, kalau bunda pergi sebentar," ucap Ika menoleh kearah sang suami.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2