
Fadly menatap sang istri, dengan senyuman tipis di wajahnya.
"ksmu nggak salah sayang, semua itu, terjadi karena kesalahpahaman, " ucapnya dwngan masih menampilkan senyuman manis terukir di wajahnya itu.
"tapi dia menyentuhku, " lirihnya seraya memeluk sang suami.
Fadly menundukkan kepala dan melihat, bagian mana yang di swntuh oleh laki laki baj1ng4n itu.
"mana saja yqng disentuh olehnnya,? " tanya Fadly seraya menyentuh lengan sang istri.
Ika menunjuk tangannya yang memang, tadi di ser3y kasar oleh Samuel.
dengan segera, Fadly menarik tangan sang istri dan mengelusnya seraya beberapa kali, menciumnya. " sudah kan, sekarqng kamu merasa sudah tidak kotor lagi.
Ika tersenyum tipis seraya menatap sang suami. " terimakasih ya, suami aku yang paling manis, " ucapnya seraya mengelus rambut suaminya itu.
Cup
swbuah ciuman singkat ia sampaikan pada sang suami. membuat Fadly tertegun sesaat.
lalu, tersenyum manis saat menyadari perubahan sang isteri.
"hmm, sudah mulai nakal ya, istri aku, " ucap Fadly menaik turunkan alisnya. dengan cepat, Ikw ingin menghindar. namun, gerakan suamnya, lebih cepat dari gerakanya.
dan sekarang, dirinya sudah berada di bawah kungkungan suaminya.
"ayah, nanti kalau Nisa minta asi gimana,? " tanya Ika mencoba mengelak.
Fadly hanya menanggapi omongan sang istri, dengan tersenyum tipis.
"jangan memancing kalau nggak mau umpanya di mwkan, " ucap Fadly seraya mengecup seluruh wajah istrinya.
bukanya takut, Ika malah semakin memasang wajah berseri seakan menandakan dirinya telah siap
"oh nantangin bih, " ucap Fadly seraya melancarkan aksinya. hingga membuat Ika kualahan dan malam ini, mereka berdua lalii dengan penuh kebahagiaan.
pagi harinya....
matahari menyingsing, menampakkan diri tanpa malu swakan tersenyum cerah, secerqh sepasang suami istri yang terlihat masih terlelap seraya beroelukan.
seapa lagi, jika bukan Ika dan Fadly. yang tampak masih terlelap di tempat tidur.
Ika mengeliat seregangkan otot otot untuk membuatnya releks. ia nemwkik saat menyadari sesuatu.
__ADS_1
dengan segera, dirinya melompat dari tempat tidur dan ssgera nebuju kamar mandi. tanpa menyadari, jika dirinya tak mengenakan sehelai kainpun.
Ika segara nandi besa4 dan menghodhok solat subuhnya walau memang sudah sangat telat karena sekarang sudah jam setengah enam pagi.
setelah selesai Sholat, Ika segera menghampiri sang suami dan membangunkan suaminya itu.
"ayah bangun, ini sudah siang, ayo mandi dan sholat shubuh, " ucap Ika seraya menggoyangkan pundak sang suami.
Fadly menggeliat dan segera nerwgangkan ototnya dan segera bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.
loma menit kemudian, Fadly keluar dari kamar mandi dan mendapati sang istri sedang menyusui anak mereka.
Fadly tersenyum tipis, melihat pemandangan yang baginya cukup indah itu. ia berjalan menuju kemari dan mengenakan baju kantornya dwn melaksanakan ibadah sholat.
setelah Sholat Subuh, Fadly menghampiri istri dan anaknya yang sedang kehausan.
terbukti dengan kuatnya isapan mulut bayi mungil itu.
Ika tersenyum tipis melihatnya dwn menatap sang suami dengan tersenyum tipis.
"ayo turun, kita sarapan. tapi bunda mandiin bsby nisa dulu, " ucap Ika seraya berjalan menuju kamar mandi.
bukanya menurut, Fadly malah ikut memandikan bayi mungil itu. membuat Ika menatap suaminya.
"ayah ingin ikut mandiin baby Nisa " ucapnya seraya mengelus pundak putri tercintanya itu dengan sabun dan membilasnya.
"jangan ayah, nanti kalau basah gimana,? " tanya Ika.
Fadly menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis di wajahnya. " nggak papa Bun, Ayah ingin ngerasain mandiin anak sendiri, " ucap Fadly seraya menoleh sesaat pada sang istri. dan kembali fokus pada sang anak.
Ika hanya mengangguk dan menurut saja saat suaminya itu, membilas tubuh mungil baby Nisa.
setelah selesai memandikan baby Nisa, Ika dan Fadly keluar dari kamar mandi dan segera memakaikan pakaian pada bayi mungil itu. dengan baju kas dan rok tutu.
tak lupa, dengan bandoo bunga yang melekat di kepala mungil itu.
setelah siap, mereka keluar dari kamar, dan segera menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
setelah sampai di meja makan, Ika dan Fadly segera menuju tempat itu, untuk menyantap makanan mereka dengan diiringi obrolan ringan diantara mereka.
"Bun, hari ini, rencananya Ayah mau menemui Papa, mau membahas soal ayah yang mau resign dari kantor, " ucapnya selesai mengelap mulutnya dengan tisue.
membuat Ika menoleh kearah sang suami dengan tatapan sulit di artikan.
__ADS_1
"Ayah serius mau resign dari kantor Papa,? " Tanya Ika memastikan.
Fadly hanya mengangguk dan meminum susu hangat dan segerq bangkit dari kursi meja makan
"iya Bun, Ayah serius, mungkin Ayah akan mandiri dalam urusan keuangan karena kamu dan Nisa adalah tanggung jawab Ayah, " ucap Fadly berjalan menuju pintu utama.
Ika hanya mengangguk dan mengikuti sang suami yang sudah membuka pintu.
"Bunda ikut saja apa maunya Ayah, asal itu untuk kebaikan kita semua, " ucap Ika tersenyum tipis di wajahnya.
Fadly memeluk sang istri dan mengecup kepala istrinya.
"terimakasih, " ucap Fadly seraya merengkuh pinggang ramping istrinya.
lalu, mereka berjalan menuju garasi dan Fadly mengeluarkan motornya, dari dalam sana.
"Ayqh nggak mau pakai mobil,? " tanya Ika saat melihat suaminya menaiki motornya.
Fadly menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. "nggak Bun, lebih enak pakai motor, lebih cepat dan juga bisa leluasa menghirup udara sebanyak banyaknya, " ucap Fadly.
Ika hanya mengangguk dan menurut saja saat, suaminya mengecup hidungnya.
memang akhir akhir ini, suaminya itu sedikit lebih poseseif dari biasanya.
membuat Ika sedikit heran dan bingung, tapi juga merasa senang.
"Ayah berangkat kerja dulu ya, " ucapnya seraya mengecup pipi bsby Nisa, yang sedari tadi antengdi dekapan sang bunda.
Ika hwnya diam dan mengangguk saja. membuat Fadly sedikit heran.
karena biasanya, sang istri akan mengatakan, jangan pulang terlalu larut. tapi ini tidak ada petuah sama sekali dari istrinya itu.
"Bunda kenapa,? " tanya Fadly
BERSAMBUNG
NOTE: JANGAN LUPA MAMPIR YA KE KARYA TEMAN AKU BAGUS CERITANYA
Malam adalah dunianya. Ia akan aktif beraktifitas saat malam menjelang. Ia sangat suka mengikuti ajang balap liar. Sebab dengan mengikuti hal tersebut, ia dapat menghilangkan sejenak beban pikiran dan derita hidup yang dialaminya. Ia mempertaruhkan hidup dan matinya di atas jalanan. Selain hasil dari taruhan yang mengiurkan.
Ia berjuang hidup mengandalkan sepuluh jarinya sendiri dalam mempertahankan hidupnya di tengah kerasnya kehidupan ibu kota. Terkadang ada rasa iri menyelinap ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Mengapa Tuhan tidak adil padanya. Hingga suatu saat ia bertemu dengan seseorang. Akankah seseorang itu dapat mengubah jalan takdir hidupnya ke arah yang lebih baik. Atau malah semakin menenggelamkan dirinya dalam hitam pekatnya malam.
__ADS_1