
setelah sekian lama, Ika masih setia menggenggam tangan sang suami yang masih setia menutup matanya.
Ikapun, tak henti hentinya memandangi wajah sang suami, dengan perasaan bersalah.
kata Dokter, semenjak Fadly masuk kerumah sakit, laki laki itu, tak pernah mengkonsumsi apapun, hingga membuat komdisinya memburuk.
Ika menghela nafas panjang seraya menatap nanar wajah suaminya itu.
"apa kamu akan selalu menutup mata seperti ini,? " tanya Ika di sela sela isak tangisnya.
hatinya begitug hancur mendapati keadaan suaminya yang sedemikian rupa.
"hiks kamu jahat, " ucapnya terisak seraya menggenggam tangan sang suami dan meletakkan di wajahnya.
tak lama, tangan yang di gengam oleh Ikapun, bergerak dengan perlahan dan tak lama kemudian, matanya, terbuka.
mbuat Fadly perlahan mengelus kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Bun, " ucapnya lirih. membuat Ika yang sedang menangis dan menunduk itupun, segera mendongak dan menatap siapa yang mengajaknya bicara.
Ika tampak terbelalak kaget, saat menyadari bahwa sang suami telah membuka matanya.
"Ayah, Ayah sudah sadar, " ucap Ika dan tak lama memencet bel tanda pertolongan.
tak lama, para Dokter beserta perawat datang. memasuki ruangan dimana Fadly berada.
"Ibu, mohon keluar dulu, agar kami bisa leluasa memeriksa, " ucap salah satu Dokter.
dengan perlahan, Ika mengangguk dan keluar dari dalam ruangan.
"bagaimana keadaan Fadly,? " tanya Papa Yasinu saat Ika telah sampai di hadapan mereka.
"alhamdulillah, Pah mas Fadly sudah sadar dan sekarang sedang di periksa oleh Dokter, " ucap Ika tersenyum tipis dan segera mengambil baby Nisa yang berada di gendongan Papanya.
"alhamdulillah, " ucap mereka semua merasa sangat bahagia.
"oh iya Pah, keluarga kita belum ada yang tau, ?" tanya Ika merasa penasaran karena sang suami sudah berada di sini, hampir tiga bulan. dan dirinya bekum menjumpai seseorang yang dirinya kenal sedari tadi.
Papa Yasinu menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis pada putrinya itu.
"Papa belum berani memberi tahukan hal ini pada keluarga kita, juga keluarga Suamimu, " ucap Papa Yasinu.
membuat Ika menghela nafas lega mendengar ucapan Papanya itu."Syukur kalo begitu, aku masih belum siap jika di salahkan oleh keluarga mas Fadly, " ucap Ika tersenyum tipis.
__ADS_1
entah sejak kapan, keluarga suaminya itu menjadi seperti bermusuhan dengannya. padahal dulunya, mereka semua sangat menerima dan menyayangi Ika sebagai anggota keluarga baru.
tapi sekarang, dia dan keluarga suaminya, seperti seorang musuh bebuyutan jika bertemu.
tak lama, Dokter yang memeriksa Fadly keluar dan menghampiri mereka semua
setelah itu, Ika masuk ke dalam ruang rawat tersebut, dan mendapati sang suami, sedang menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur.
Ika melangkahkan kakinya menuju brankar yang di tempati suaminya.
dengan perlahan, Ika berjalan menghampiri sang suami. kemudian menggenggam tangan besar sang suami.
"bagaimana keadaan kamu,? " tanya Ika lembut seraya mengelus tangan Fadly.
dan di luar dugaan, Fadly langsung memeluk tubuh istrinya dan beberapa kali, mengecup seluruh wajah wanita itu.
Ika hanya diam mendapatkan serangan bertubi tubi dari sang suami. seolah menyiratkan kerinduan mendalam pada istrinya itu.
setelah puas mengecup wajah istrinya, Fadly menatap lekat wajah wanita yang sangat ia cintai itu dengan lekat.
dan tak lama, Fadly memiringkan wajahnya hingga bibir mereka, saling menempel. dengan gerakan cepat, Fadly melu**t bibir tipis istrinya itu.
seakan menyiratkan kerinduan yang sangat mendalam.
Ika hanya mengangguk dan duduk di samping ranjang rumah sakit. namun, dengan cepat Fadly menarik tangan Ija hingga Ika terjerembab ke dalam pelukan sang suami.
dengan segera, Ika bangkit dan hendak melangkah menuju tempat semula. tapi, lagi lagi, Fadly menahannya dengan menahan pinggangnya.
hingga laki laki itu, tak menyadari jika Infus yang melekat di lengannya, terlepas karena gerakan Fadly. yang baru saja ia lakukan.
"kok bisa lepas,? " tanya Ika yang hendak memanggil Dokter. tapi langkahnya di tahan oleh Fadly.
"jangan pergi, tetap bersama Ayah di sini, ' ucapnya kembali memeluk Ika.
membuat Ika terharu dan segera memeluk suaminya itu, dengan suara bergetar.
"maaf, " ucap Ika menundukkan kepala saat sudah melepaskan pelukannya.
Fadly tersenyum tipis dan segera mengangkat dagu ika dan membuat mata mereka bertemu untuk sesaat.
"seharusnya, aku yang meminta maaf, karena sudah menyakiti kamu, dan sekarang aku sudah mendapatkan karmanya, " ucap Fadly memeluk istri tersayangnya itu.
"apa ini masih sakit,? " tanya Fadly seraya menunjuk kearah dada dan area privat Ika. membuat Ika menganggukkan kepala dengan cepat.
__ADS_1
karena memang, semuanya masih terasa menyakitkan walaupun sudah beberapa bulan berlalu.
pengakuan Ika itu, membuat Fadly kembali memeluk istrinya itu. dan kembali menangis tersedu sedu. dan akhirnya, Ikapun juga ikut menangis.
mereka menangis bersama dalam keadaan saling berpelukan. kemudian, sama sama mendongak dan saling menatap satu sama lain.
"maaf jika kamu masih merasa sakit, tapi aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku, apapun yang terjadi, " ucap Fadly seraya menggenggam tangan Ika dengan erat.
"asal kamu juga harus berjanji, jangan pernah memaksakan kehendakmu lagi, " ucap Ika lembut seraya mengecup pipi sang suami.
dengan cepat, Fadly menganggukkan kepala kemudian tersenyum dan membalas kecupan istrinya.
"pasti itu, aku nggak akan mengulang kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya, " ucap Fadly bersungguh sungguh.
semenjak sang istri pergi dari kehidupannya, dirinya sudah berjanji dan bertekad tidak akan pernah memaksakan kehendaknya lagi. karena dirinya tidak mau mengalami hal yang sama untuk yang kedua kalinya.
tak lama, pintu kamar terbuka dan masuklah dua orang perawat menghampiri sepasang suami istri itu. dan dengan cepat, Ika hendak melepaskan pelukan dari suaminya.
namun dengan cepat, Fadly menahan gerakan sang istri, membuat posisi mereka masih sama. yaitu saling berpelukan.
membuat dua orang perawat itu, mengulum senyum seraya saling berpandangan.
Ika yang melihat itu, menjadi salah tingkah dan segera melepaskan genggaman tangan mereka.
"kenapa di lepas,? " tanya Fadly memprotes sang istri.
membuat Ika semakin malu di buatnya. karena dengan polosnya, Fadly malah menanyakan hal yang menurutnya tidak berfaedah.
"maaf, kami harus memindahkan pasien di kamar rawat, " ucap salah satu perawat.
membuat Ika menganggukkan kepala kemudian berjalan keluar.
namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar suara dari belakang yang membuat Ika menoleh.
"mau kemana Bun,? " tanya Fadly yang berusaha turun dari ranjang, karena melihat istrinya akan pergi.
bahkan, dirinya tak mempedulikan tanganya yang bersimbah darah karena jarum infus di cabut.
"tuan, anda mau kemana,? " tanya salah satu perawat.
tapi, Fadly tak mempedulikan. ia tetap berjalan dan langsung meraih tangan sang istri.
BERSAMBUNG....
__ADS_1