
sepanjang perjalanan, baik Ika atau Fadly tidak ada yang membuka suara. mereka sama-sama terdiam dengan fikiran masing-masing.
sesampainya di jalan yang agak sepi, Fadly mrnepikan mobilnya. membuat Ika mengernyitkan dahinya dalam keadaan menunduk. karena jujur Ika sangat takut jika suaminya marah.
karena ada pepatah yang mengatakan jika marahnya orang sabar itu mengerikan.
dengan perlahan, Ika memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap sang suami yang ternyata sudah menatapnya dalam-dalam.
"kenapa? " tanya Fadly yang membuat Ika mengerutkan keningnya bingung. "kenapa begitu menyakitkan mencintaimu? " ucap Fadly yang masih menatap isterinya dalam-dalam. lalu tak terasa ujung mata-laki-laki itu berair dan dengan cepat di usap dengan jarinya sebelum isterinya menyadari
"apa aku harus melepasmu agar semua bahagia termasuk mama kamu? " tanya Fadly yang langsung mendapat gelengan dari sang isteri.
"tidak jangan lakukan ini padaku. bukankah kamu sudah berjanji akan setia padaku dan akan terus menemaniku apapun yang terjadi? " tanya Ika yang kini bergetar habat karena menahan tangis.
"mungkin awalnya aku opyimis memperjuangkan kebahagiaan kita, namun melihat kegigihan masa lalu kamu di tambah dengan omongan yang menyakitkan dari mama kamu membuat aku meragu" ucap Fadly seraya menyerahkan ponselnya.
"apa maksudmu yah? " tanya Ika seraya menerima ponsel suaminya dengan tangan bergetar.
Fadly tidak menjawab, ia hanya diam seraya menunggu sang isteri membuka pesan di ponselnya.
dengan perasaan berdebar, Ika membika ponsel sang Suami dan membuka aplikasi berwarna hijau tersebut.
dengan perlahan ia membuka pesan dan membacanya dengan teliti.
Deg
jantungnya memompa dengan cepat mendapati pesan dari sang mama untuk suaminya.
"gak ayah gak boleh meninggalkan aku kita akan memiliki anak " ucap Ika menggrleng kuat.
"tapi aku ragu mampu mempertahankan kamu atau tidak" ucap Fadly seraya kepalanya bersandar pada kursi kemudi.
"tolong aku mohon ayah jangan lakukan itu" ucap Ika seraya berderai air mata.
Fadly tak menjawab. ia melajikan mobilnya menuju kediaman mereka.
sepanjang perjalanan, Ika tak henti-hentinya menangis dan setelah lelah menangis, Ika tertidur.
Fadly yang memperhatikan isterinya dari kaca depan, meneteskan airmata "maafkan aku" ucsp Fadly lalu fokus menyetir.
setelah lima belas menit, mereka sampai dirumah. dengan hati-hati, Fadly menggendong tubuh Ika memasuki rumah.
bi Sumi yang melihat itu merasa kaget dan dengan segera menghampiri sang majikan.
"tuan, apa yang terjadi pada nyonya? " tanya bi Sumi merasa khawatir.
"tidak apa-apa bi Ika hanya kelelahan setelah berbelanja" jawab Fadly segera menaiki tangga.
__ADS_1
"oh iya bi tolong masukan belanjaan di kamar baby ya" ucap Fadly melanjutkan Langkahny.
bi Sumi hanya mengangguk seraya menuruti apa yang majikanya perintah.
sesampainya di kamar, Fadly segera merebahkan tubuh sang isteri secara perlahan. setelah itu menyelimuti sqmpai kebatas leher.
"maaf kan aku karena sudah melukai perasaanmu" ucap Fadly lalu mengecup kening isterinya.
lama mengecup dengan mata terpejam, Fadly beranjak dari duduknya di sisi ranjang dan beranjak pergi menuju pintu.
sebelum benar-benar keluar, Fadly menoleh kearah ranjang dan menatap sang isteri sesaat dan berlalu pergi.
" tuan, tuan mau kemana? " tanya Bi Sumi saat Fadly sudah berada di lantai dasar.
"saya ada urusan sebentar bi nanti kalau nyonya bangun dan mencari saya, bilang saja saya kekantor" ucap Fadly berlalu pergi dan memasuki mobilnya.
🌸🌸🌸
di dalam mobil Fadly menggebrak setir mobilnya dan menggeram.
"arrgghh "ucap Fadly mengacak-acak rambutnya frustasi.
lalu dengan perlahan, Fadly merogoh saku celananya mengambil ponselnya dan mendail nomor seseorang.
tut tut tut
terdengar sambungan telepon yang belum diangkat. tak lama dengar suara di sebrang sana.
"....."
"ok temui gue di tempat biasa" ucap Fadly menutup telponya.
segera ia menjalankan mobilnya menuju tempat yang di janjikan untuk mereka bertemu.
tak lama, mereka bertiga bertemu dan melakukan tos ala pria lalu kemudian diduk di sofa panjang yang ada di dalam.
"loe kenapa bro kusut amat kaya baju belum di strika? " tanya Riko menyadari wajah murung sahabatnya.
bukanya menjawab, Fadly malah memesan wine. membuat kedua sahabatnya semakin curiga. karena Fadly sudah lama tidak menyentuh minuman tersebut.
"loe sebenarnya kenapa? "tanya Doni yang mulai tidak sabar.
"gue bingung"lirih Fadly yang menutup wajahnya dengan telapak tanganya.
merekapun saling melempar pandangan dengan wajah bingung. "maksud loe? " tanya mereka berdua kompak
"gue bingung bertahan atau melepas" ucap Fadly yang masih membuat kedua sahabatnya bingung.
__ADS_1
lalu dengan menghela nafas, lalu mulai bercerita
FLASBACK ON
malam, selesai Fadly pulang dari lembur dari kantor ia mendapatkan panggilan, dengan agak mqlas karena lelah, ia merogoh kantong celana dan mengambil ponselnya.
matanya menyipit melihat siapa yang menelpon semalam ini. setelah memastikan jika itu benar, segera ia nengangkat pangilan itu.
"halo assalamu'alaikum mah " ucap Fadly sedikit ragu.
"wa'alaikum salam" ucap seorang wanita paruh baya di seberang sana.
"ada apa mah? " tanya Fadly tanpa basa-basi.
"langsung to the point saja saya minta kamu lepaskan anak saya karena saya sudah mendapatkan yang lebih segalanya dari kamu" ucap wanita itu yang tak lain adala mama Erika.
hening
suasana menjadi hening sesaat setelah suara di sebrang sana mengatakan hal yang membuat Fadly meremang.
"maaf mah saya tidak bisa melepaskan Ika karena Ika sekarang sudah menjadi tanggung jawab saya" ucap Fadly berusaha sekuat tenaga menyembunyikan luapan amarahnya dengan sikap tegasnya.
"cih sombong sekali kau berbicara seperti itu dasar tak tau diri" maki Mama Erika mematikan panggilanya.
Fadly menghela nafas lalu memandang kearah ranjang dimana sang isteri berada.
lalu Fadly memutuskan untuk mandi karena hari memang sudah larut malam
setelah lima belas menit, Fadly menyusul sang isteri yang sudah lebih dulu terlelap. dengan perlahan ia merangkak naik lalu mendekap sang isteri kemudian mengecup bibir dan kening isterinya.
"sampai kapan pun aku akan selalu mempertahankan kalian" ucap Fadly lalu ikut terlelap.
FLASBACK OF
"lalu, kenapa sekarang loe ragu? " tanya Doni
"entahlah setelah gue lihat orang yang menginginkan dia jauh di atas segalanya gue jadi ragu " jawab Fadly.
"brow loe percaya gak tentang ketulusan cinta? " Riko bertanya.
"iya gue percaya" jawab Fadly.
"dan loe percaya kalau cinta tak memandang apapun? " tanya Riko kembali yang di jawab anggukan oleh Fadly.
"lalu loe melihat ketulusan itu di mata isteri loe? " kini Doni yang bertanya dan lagi-lagi Fadly hanya mengangguk.
"jadi loe masih meragukan isteri loe? " tanya Doni yang membuat Fadly langsung bangkit dari duduknya dan berlalu pergi.
__ADS_1
BERSAMBUNG.........
tinggalkan jejak kalian gaes