
mereka semua kini berada di ruang keluarga dan baby Nisa menjadi rebutan semua keluarga.
"sayang, ikut nenek yuk, " ucap mama Erika seraya meraih baby Nisa dari gendogan Fadly.
Ika hnyq tersenyum haru melihat semua itu. ia tak meyangka, semua wkan sebahagia ini. ia hanya bsa berharap, jika kebahagiaan ini akan bertahan selamanya.
sebuah tepukan lembut, membuat pandanganya teralihkan. lalu, ia tersenyum menatap sang suami yang juga menatapnya.
"aku bahagia melihatnya, " ucap Ika menyandarkan tubuhnya di dada bidang suaminya.
Fadly membalasnya dengan mengeratkan pelukanya dan mengecup kepala isterinya berkali-kali.
"kalian pasti lelah, lebih baik, kalian istirahat nanti sore kalian kerumah bibi kalian yang di kota P" ucap mama Erika.
Ika dan Fadly hanya menganggukkan kepala dan pamit pada semua orang untuk beristirahat. sementara baby Nisa masih berada di ruang tamu bersama yang lain.
sesampainya di kamar, Ika tampak tersenyum kareba suasana kamarnya tak berubah sedikitpun dari terakir ia meninggalkan rumah itu.
lalu, ia berbaring di kasur dan tak lama, ada tangan besar yang melingkar di pinggang rampingnya.
"tidur bun, aku ngantuk beberapa hari ini lembur terus, " ucapnya seraya mengeratkan pukanya dan memejamkan mata.
Ikapun juga ikut memejamkwn matanya dan tak lama, iapun juga ikut terlelap.
sore harinya, mereka berdua menyambangi rumah sang bibi di kota P menggunakan mobil pribadinya.
"mah, aku berangkat ya, " ucapnya
" iya, hati-hati kalau kemalaman, nginep saja di sana, " ucap mama Erika.
"iya mah kami pergi dulu, assalamu'alaikum" ucap Ika pamit pada semua orang.
"wa'alaikum salam, " ucap mama Erika seraya melambaikan tqngan.
Fadly segera melajukan mobilnya menuju jalan raya dan sepanjang perjalanan, tangan Ika dan Fadly tak lepas dari genggaman satu sama lain.
sementara baby Nisa berada di depan dipangkuan Ika.
"bun, kok tambah cantik,? " tanya Fadly membuat Ika menoleh.
"tetus,? " tanya Ika
"jadiakin sayang deh bun, " ucapnya seraya mengerlingkan mata.
"ih, ayah genit, " ucapnya seraya tersenyum manis.
"nggak papa genit, yang penting gak sama isteri orang" ucap Fadly.
"emang mau kalau sama isteri orang,? " tanya Ika.
__ADS_1
"emang boleh,? " tanya Fadly berbinar.
"boleh, asal besoknya bunda kasih kopi sianida" ucapnya menatap horor.
"widih serem amat istetinya Fadly" ucapnya tersenyum kikuk.
"harus kejam biar nggak di tindas sama kaum adam" ucapnya.
"enggak sayang, aku hanya bercanda kok, mana mungkin sih ayah menduakan cinta bunda dan mengingkari janji di hadapan tuhan" ucapnya seraya mengecup tangan sang isteri.
"nah itu tau, pokoknya selama bunda masih hidup, ayah jangan pernah melirik wanita lain" ucapnya seraya berkaca-kaca.
membuat Fadly, seketika menghentikan laju kendaraanya. "loh bunda kenapa nangis,? " tanya Fadly merasa panik.
"bunda nggak mau ayah ninggalin bunda, bunda takut" ucapnya lirih.
"loh, loh siapa yang bilang, ayah mau ninggalin bunda. dengerin ya, sampai kapanpun dan dalam keadaan apapun, ayah akan selalu setia sama bunda" ucap Fadly seraya menarik tqngan sang isteri dalam dekapanya. dengan baby Nisa berada di tengah.
"janji ya" ucap Ika mendongak menatap mata tegas sang suami.
Fadly mengangguk dan tersenyum. membuat wanita itu tersenyum manis. lalu, memejamkan mata saat benda kenyal itu menyentuh keningnya.
sebenarnya, Ika adalah sosok yang tak mudah baper alias terbawa perasaan. namun, entah mengapa ia merasa yqkin dengan kata-kata suaminya itu.
lama, mereka berbincang, akhirnya mereka berdua sampai di rumah bibinya.
"asalamu'alaikum" ucap Ika dan Fafly saat mereka sudah berada dibdepan rumah bi Mira.
mereka berdua menurut dan langsung terduduk di sofa ruang tamu.
"gimana, keadaanmu? " tanya bi Mira
"baik bi Alhamdulillah, oh iya paman di mana, ?" tanyq Ika seraya mengedarkan pandangannya.
"oh, pamanmu biasa, lagi ada di Sawah" ucap bi Mira. "duh ini Nisa kan, udah berapa bulan,? " tanya bi Mira.
"udah dua bulan bi, " jawab Ika tersenyum.
"boleh bibi gendong,? " tanya bi Mira takut takut.
"boleh lah bi, kok seperti takut gitu mukanya,? " tanya Ika merasa heran.
"iya, takut kamu melarang bibi menggendong anak kamu," ucapnya menunduk.
memebuat Ika dan Fadly saling panfang, karena tak mengerti apa yang bibinya maksud.
"ibu takut karena habis di labrak tetangga Ka, " tiba-tiba Novita yang muncul dari kamar.
membuat Ika menoleh kearah sumber suara, " di labrak himqna,? " tanya Ika.
__ADS_1
"ya di labrak Ka, di bilang katanya jqngan nyentuh anaknya karena tangan ibu bau dan kotor, " ucap Novita yang berjalan kearah kursi dan duduk di samping ibunya.
Ika yang mendengar itu, menjadi emosi dan mendadak tak terima. ia mengepalkan tanganya kuat.
bagaimana bisa bibinya di hina begitu oleh seorang, " biar aku yang labrak" ucap Ika yang sudah berdiri.
membuat semua orang yang berada di sana, tercengang.
"bun, kendalikan emosimu, istighfar" ucap Fadly memperingati.
Ika menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskanya kasar.
tak lama, paman Ikapun datang dari sawah dan langsung menyapa mereka.
"eh, ponakan paman dateng, sudah lama,? " tanya Paman Anjas.
"eh, paman. baru saja duduk," ucap Ika hendak meraih tangan laki-laki itu dan menciumnya.
namun, dengan cepat, Paman Anjas segera menariknya.
"kenapa paman,? " tanya Ika bingung dan heran.
sementara bibi Mira, paman Anjas dan Novita hanya bisa diam.
"maaf Ika, tapi tangan paman kotor. paman harus bersih-bersih dulu. " ucapnya dan langsung berlalu pergi.
tak lama, ada seorang ibu-ibu yang berteriak di depan pagar rumah bibi Mira.
"eh, ada tamu ternyata. kok tumben orang miskin tamunya bermobil,? jangan-jangan selingkuhan anaknya lagi, " ucapnya seraya berteriak. kemudian tertawa.
Ika langsung keluar dari rumah dan menatap tajam wanita yang menghina keluarga bibinya itu.
"siapa yang ibu maksud selingkuhan, jika tak bisa berkata baik, lebih baok diam" ucapnya seraya berkacak pinggang.
membuat wanita itu langsung pergi begitu saja dari rumah bibi Mira.
"huh, kok ada ya, manusia model begitu,? " tanya Ika seraya berjalan masuk ke dalam rumah.
"sudahlah nak, kami sudah terbiasa dengan semua ini, " ucap bibi Mira menenangkan.
"sudah terbiasa, betarti sudah sering dong bi,? " tanya Ika yang tampak terkejut.
"sudah-sudah lebih baik kamu sama suamimu istirahat sana, " ucapnya seraya mengalihkan pembicaraan.
Ika yang melihat itu, hanya bisa menghembuskan nafas kasar.
ia tau bahwa diantara semua saudara ibunya, hanya bibu Mira yang tak beruntung masalah ekonomi.
karena semua saudara ibunya, hampir memiliki usaha yang terbilang sukses.
__ADS_1
Ika hanya menurut dan masuk kedalam kamar di ikuti oleh sang suami. sementara Nisa masih bersama Novita.
BERSAMBUNG.......