
Pak Ujang, memberikan bubur itu pada gadis kecil di samping majikanya.
dan dengan cepat, gadis kecil itu membuka dan memakanya.
Ika meringis melihat pemandangan di depannya. di mana, anak kecil itu, memakan dengan sedimit rakus. menandakan, bahwa gadis itu belum makan.
"kamu lahap sekali makanya, " ucap Ika seraya mengelus rambut gadis itu.
gadis kecil itu, hanya mendongak dan menganggukan kepala. " atu udah lama dak di tasih mam mama," ucapnya seraya melahap bubur itu.
Deg
jantung Ika serasa ingin lepas dari tempatnya. bagaimana bisa ibunya tega tak memberinya makan.
"makan yang banyak ya sayang, " ucap Ika tersenyum pada gadis kecil itu.
tak lama, mereka sampai di restaurant milik Fadly dan mereka segera turun dari mobil..
tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap dengan tatapan tajamnya.
"heh, kalian memang pantas untuk mati!!" ucapnya seraya mempersiapkan semuanya.
siapa lagi jika bukan Diana. wanita itu memang sudah tak waras. bahkan ia rela di penjara asal bisa melenyapkan musuhnya.
dengan cepat, Diana mengendarai motornya dengan membawa pisau di tanganya.
saatmelihat Ika membuka pintu mobil, dengan segera diana menghampiri dan..
jlep.. brug.."aaaa,
setelah itu, Diana mengendarai motornya dengan serigai licik di bibirnya.
"mamp*s kau," ucapnya seraya melajukan motornya meninggalkan area restaurant.
sementara itu, di sana sudah banyak sekali warga yang datang untuk melihat keadaan.
dimana, di sana terdapat dua wanita yang sedang terkapar di jalan. siapa lagi, jika bukan Ika dan Mila.
di saat kejadian, Mila yang mengenali sosok pengendara motor itu, segera mendorong Ika dan berharap mamanya tak menyakiti tante baik itu.
tapi naas, karena Diana membawa senjata tajam dan langsung menikam perut Ika. beruntungnya, baby Nisa berada di gendongan sang supir.
tak lama, Fadly datang karena menyadari, keramaian di depan restaurantnya. dan dirinya sangat terkejut karena ada terkapar.
Fadly segera mendekat dan langsung berlari kencang. saat dirinya tau, siapa yang sedang terkapar itu.
dengan cepat, Fadly segera mengankat tubuh istrinya dan membawanya jerumah sakit. begitupun dengan Mila.
__ADS_1
"sayang, maafkan aku," ucap Fadly menangis sejadi jadinya. dirinya tak henti hentinya, memukul kepalanya swndiri. sementara Pak Ujang hanya bisa terdiam di bangku kemudi.
untungnya, baby Nisa anteng saja di carsetnya. sehingga, Fadly tak terlalu pusing di buatnya.
sesampainya di rumah aakit, Ika dan Mila segera mendapatkan pertolongan.
tak berapa lama, Dokter keluar dari ruang UGD. dsn menghampiri Fadly yang tengah duduk termenung di kursi tunggu.
"bagaimana keadaan istri saya Dok,?" tanya Fadly beranjak dari duduknya.
terlihat, Dokter itu menghela nafas sebelum mengatakan sesuatu.
"istri anda harus segera di tangani karena kandunganya, tak bisa kami selamatkan. kami mohon maaf," ucap Dokter itu. dengan wajah penuh sesalnya.
Duar
seperti di sambar petir di siang bolong, tubuh Fadly langsung terkulai lemas dan jatuh di atas lantai.
serasa kakinya tak mampu menumpu tubuhnya.
"a-apa y-yang se-sebenarnya trrjadi,?" ucap Fadly tergagap. seketika itu juga jiwanya ikut pergi bersama calon anak keduanya.
kemudian ia menutup wajahnya, dan menangis sejadi jadinya seraya meracau tak karuan.
tak lama, semua keluarga menghampiri Fadly yang begitu sangat kacau. mereka di beritau oleh pak Ujang.
"Fadly," ucap Papa Yasinu seraya menyentuh bahu menantunya.
"calon anakku pergi Pah," ucap Fadly terdengar begitu memilukan.
"sabar Dly, mungkin itu belum menjadi rezeki kalian untuk memiliki anak kembali," lanjutnya seraya menepuk pelan punggung menantunya.
"lalu, bagaimana anak perempuan itu,?" tiba tiba, Fadly teringat akan sosok anak kecil yang bersama istrinya itu.
"dia kritis, kita berdoa saja, semoga bisa melewati naaa kritisnya. kalau begitu, saya permisi dulu." ucap Dokter itu. seraya berlalu pergi.
"siapa dia,?" tanya Mama Erika yang sedari tadi hanya diam.
"dia adalah anak yang di temukan nyonya Ika di jalan nyonya," ucap Pak ujang. lalu menceritakan semuanya pada mereka yang berada di sana.
mereka semua merasa prihatin pada keadaan anak itu. dan tak lama, para Dokter keluar dari ruang UGD menuju ruang oprasi.
Fadly dan yang lainya, mengikuti langkah oarq dokter menuju ruang oprasi.
selama satu jam, mereka semua tak henti hentinya berdoa.
tak lama, pintu ruang oprasi terbuka dan Dokter menghampiri Fadly.
__ADS_1
"bagaimana Dok,?" tanya Fadly beranjak dari duduknya.
"semuanya sudah berjalan dengan baik," ucap Dokter itu. membuat semua orang, mengucspkan hamdalah.
tak lama, ruang oprasi di buka dan beberapa perawat, mendorong brankar untuk menuju ruang rawat.
Fadly tertegun sesaat, dadanya terasa sesak membayangkan reaksi sang istri nanti jika di beritatahu, jika calon bayi mereka sudah tiada.
tiba tiba, ia merasakan, punggungnya di tepuk oleh seseorang. Fadly menoleh dan mendapati papa mertuanya, menatapnya. seakan mengatakan jika semua akan baik baik saja.
sementara baby Nisa, berada di gendongan sang Oma. balita satu tahun itu, merasa sangat bingung karena banyak orang.
"hhuaa ama," ucap Nisa seraya memeluk sang Oma.
"sstt sayang, sabar ya, jangan nangis.," ucap mama Erika seraya menepuk punggung Nisa secara perlahan. membuat balita itu, lama kelamaan tertidur.
mereka kini berada di depan ruang perawatan Ika. sementara Fadly menunggu istrinya di dalam.
laki laki itu, tetap setia menunggu sang istri hingga istrinya itu sadar.
"sayang, ayo dong sadar,' ucap Fadly berbisik di telinga sang istri. ia menitihkan air matanya.
tak lama, mata Ika sedikit terbuka dan tangan nengelus kepala suaminya yang tertunduk di sampingnya.
"sayang, kamu sudah bangun," ucap Fadly terkejut seraya tanganya, langsung menggenggam tangan sang istri.
"bagaimana anak kita,?" bukanya menjawab, Ika malah bertanya tentang hal yang membuat dada Fadly terasa terhimpit.
"Nisa baik sayang, sekarang lagi sama mama," ucap Fadly melenceng. karena laki laki itu, merasa tak kuat jika harus memberikan kabar buruk ini.
Ika menggelengkan kepalanya. " bukan Nisa, aku tanya bayi yang ada di kandungan aku," ucap Ika memperjelas.
Fadly hanya diam membuat hati Ika merasa tidak tenang. dengan perlahan dirinya beranjak dari brankar dan hendak turun.
"sayang, kamu mau kemana,?" tanya Fadly mencegah sang istri.
"apa yang terjadi dengan bayiku,?" tanya Ika dan Fadly hanya diam.
"jawab!!" bentak Ika seraya menahan tangis.
"a-anak kita tak selamat," ucap Fadly bergetar dan menahan tangis.
Deg.
jantung Ika berpacu dengan cukup keras setelah mendengar ucapan suaminya.
"anakku," ucap Ika lirih dan tak berapa lama, wanita itu pingsan.
__ADS_1
dengan segera, Fadly memangil para Dokter untuk memeriksa kondisi istrinya. dan tak berapa lama, para Dokter datang untuk memeriksa.
BERSAMBUNG.....