
"pulang sayang, aku rindu, " ucapnya bergetar hebat menahan tangis.
hingga akhirnya, Fadly pingsan tak sadarkan diri. mungkin hatinya merasa lelah hingga seorang laki-laki seperti Fadly, bisa tumbang begitu saja, hanya karena seseorang.
padahal Fadly di kenal dengan orang yang paling ganas di hadapan semua musuhnya.
pagi harinya, Bi Sumi berteriak histeris, setelah mendapatkan tubuh Fadly tergeletak di lantai.
"tolong, " ucap Bi Sumi menggema. membuat Doni dan Riko yang sedang bersantai di balkon kamarnya, langsung bergegas menemui Bi Sumi.
"Fadly!!, " ucap Doni Dan Riko serempak dab langsung berlari menghampiri Fadly yang sudah tak berdaya di atas lantai.
mereka segera memapah tubuh Fadly untuk menuju mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Don, cepetan " ucap Riko saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Doni menancap gas dan kecepatan penuh karena memang, hari masih terlalu pagi. sehingga jalanan masih lenggang.
hingga mobil yang mereka tumpangi, sampai di rumah sakit
"sus tolong, " ucap Doni, saat mereka sudah turun dari mobil.
dengan segera, beberapa perawat datang menghampiri mereka.
dan langsung membawa Fadly menuju ruang UGD. sementara Riko dan Doni merasa kebingungan karena mereka tak tau harus berbuat apa.
karena Fadly sana sekali, tidak memberikan izin, untuk keduanya memberitahu masalah ini oada siapapun.
termasuk pada keluarganya ataupun keluarga Ika.
tak lama, seorang perawat keluar dari ruang UGD. dan menghampiri Doni dan Riko yang masih berada di depan ruang rawat itu.
"maaf, permisi, " ucap si perawat dan membuat Doni dan Riko, mendongak menatap siapa yang mengajak mereka bicara.
'eh, iya ada apa,? ' tanya Doni seraya langsung berdiri.
"begini, pasien mengalami dehidrasi parah, hingga beliau tidak bisa bangun dari tempat tidur, " ucao su perawat.
membuat Riko dan Doni yang mendengarnya, terperanjat kaget.
bagaimana bisa, Fadly tak menyantap makanan dari kemarin, benar benar menyusahkan diri sendiri dwn juga orang di sekitarnya.
"oh kalau begitu, kami boleh melihatnya,? " tanya Doni dan Riko. membuat perawat itu menganggukkan kepala kemudian berlalu pergi.
ceklek.
__ADS_1
suara pintu di buka dari luar dan masuklah Doni dan Riko yang menghampiri Fadly yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit.
mereka berdua berjalan mendekati Fadly yang terlihat menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"bro, " ucap Doni seraya menepuk pelan bahu Fadly. membuat laki-laki itu, menoleh dan kemudian tersenyum kecil.
"sakit banget ya di tinggal seseorang yang kita sayang, " ucap Fadly tertawa hambar.
"bro, " tegur Riko karena tidak kuasa melihat kondisi sang sahabat, yang menurutnya sangat memprihatinkan.
"gue boleh minta satu hal kan sama kalian,? ' ucap Fadly seraya menatap kedua sahabatnya itu secara bergantian.
"apa,? " tanya Doni dan Riko serempak.
Fadly tersenyum tipis sebelum mengatakan sesuatu. "gue minta kalian cari istri dan anak gue, " ucapnya seraya merogoh saku celana. dan mengambil sejumlah uang di sana.
"ini, gunakan ini untuk mencari keberadaan mereka, jika masih kurang, kalian boleh minta lagi, " ucap Fadly menyerahkan uang tersebut pada kedua sahabatnya.
"nggak perlu, " ucap Doni dengan segera mendorong pelan tangan sahabatnya itu.
"kita akan cari dimana keberadaan istri dan anak lie, tanpa uang, " ucap Doni.
"tapi, menggunakan uang, lebih cepat ketemu, " ucap Fadly realistis. karena memang kenyataannya, semua akan mudah jika berhubungan dengan uang.
memang benar semuanya bisa mudah jika ada uang, tapi didunia ini ada beberapa hal yang menurutnya tak bisa dibeli. dan itu adalah persahabatan mereka.
"gue akan cari istri dan anak loe, tapi setelah loe makan, " ucapnya seraya menyodorkan piring di hadapan Fadly.
dengan cepat, Fadly mendorong pelan makanan di hadapannya.
"gue nggak lapar, sekarang yang terpenting, loe berdua bisa mencari keberadaan mereka, " ucapnya.
membuat Doni dan Riko menghela nafas panjang seraya menganggukkan kepala.
"baik Kita akan mencari mereka, " ucap Doni seraya beranjak dari duduknya menuju pintu keluar.
diikuti oleh Riko yang juga ikut keluar dari ruang UGD.
"temukan mereka swgera ya, gue takut kalau umur gue nggak nyampe besok, " ucap Fadly. membuat Doni dan Riko langsung menoleh dan menatap Fadly dengan tatapan tajam.
"loe ngomong apa sih, jangan ngomong aneh aneh deh, " ucap Doni sedikit membentak.
ia tak mau mendengar omong kosong yang keluar dari mulut sahabatnya itu. yang menurutnya, sangat ngelantur kemana mana.
Fadly terkekeh pelan melihat reaksi kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
"udah sana, " ucapnya seraya memperagakan tangannya, seperti orang yang sedang mengusir.
membuat Doni dan Riko, mendengus kesal dan mereja berdua berlalu dari sana seraya menutup pintu.
setelah kedua sahabatnya itu pergi, Fadly merebahkan tubuhnya di ranjang rumah sakit. dan sesekali, menyeka air matanya agar tidak jatuh.
"apa kamu akan tetap menjauh dari hidupku,? " tanya Fadly lirih.
Fadly memang sangat rapuh, apalagi, dirinya sedari kecil, tak pernah mendapatkan kasih sayang.
dan kini, saat dirinya mulai merasakan hidup bahagia, cobaan datang justru dari dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan emosinya saat sedang marah.
hingga kemarahan itu, membuat orang yang ia cintai menhauh dari hidupnya dan bahkan meminta untuk berpisah.
sementara itu, di luar rumah sakit, Doni dan Riko berjalan menuju area oarkir dengan sesekali berbincang bincang.
"Fadly bisa sampai seperti itu, berarti hebat Ika bisa masuk kedalam hati yang paling dalam dan menetap di sana, " ucap Doni seraya mengenakan helm dan menaiki motornya.
"hmm iya, bahkan Fadly hampir gila karena istrinya itu, " ucap Riko membenarkannya.
mereka mengendarai motornya, menuju tempat tempat di mana biasanya Ika kunjungi saat wanita itu bersedih.
namun, hingga sore menjelang, mereka berdua tak menemukan keberadaan istri sahabatnya itu.
dan akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah sakit dan menemui Fadly diruang rawat.
ceklek
suara pintu di buka dan nunculah kedua orang itu, dab berjalan menghampiri Fadly yang tampak semakin lemas.
"bagaimana,? " tanya Fadly lirih. seakan dirinya sudah tidak memiliki tenaga sama sekali untuk berbicara.
bukanya menjawab, mereka berdua, mwlah menatap Fafly dan makanan yang masih utuh duatas nakas.
"kenapa loe nggak makan? " tanya Doni. membuat Fadly menggelengkan kepala seraya tersenyum kecil mendengar ucapan sahabatnya itu.
"gue nggak butuh makanan, yang gue butuhkan itu hanya satu, Ika, " ucapnya seraya kembali menatap lurus ke depan.
"tapi Dly, loe juga harus makan, gimana kalau nanti Ika ketemu, terus loenya kritis,? ' tanya Riko. membuat Fadly menoleh kearahnya.
"seenggaknya, gue bisa melihat dia walau hanya untuk terakhir kalinya, " ucap Fadly tersenyum tipis.
membuat Doni dan Riko, membulatkan matanya karena mendengar ucapan sahabatnya itu.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1