Story Of Yulianika

Story Of Yulianika
BAB 68


__ADS_3

Fadly melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dan segera meninggalkan restaurant mengendarai motornya.


sesampainya di perusahaan, Fadly segera masuk ke dalam sana. dan langsung menuju ke ruangnya. untuk segeea melanjutkan pekerjaannya.


sore harinya, saat Fadly baru keluar dari ruangan kerjanya, Doni datang menghampiri Fadly.


"bro, loe di ajak ketemuan sama Diana, " ucap Doni saat sudah berada di sampingnya.


membuat Fadly menoleh sesaat dan kemudian kembali menatap lurus ke deoan.


Yap. memang selama ini, Fadly selalu menggunakan Doni sebagai perantara dirinya berkomunikasi dengan Diana.


bukan karena Fadly ingin memanfaatkan sahabatnya itu, tapi lebih menjaga perasaannya pada sang istri dan terlebih lagi, dirinya merasa enggan untuk bertemu wanita itu.


"bilang aja gue males, " ucap Fadly yang langsung berlalu pergi. karena sore ini, dirinya, akan mengajak istri dan anaknya kebutik kenslananya.


Fadly segera mengendarai motornya, menuju restaurant miliknya. dan sesampainya di sana, ternyata sang istri telah menunggunya di depan pintu masuk.


"assalamualaikum, " ucap Fadly saat sudah berada di samping istrinya. setelah turun dari motornya.


"wa'alaikum salam, " ucap Ika seraya meraih tangan sang suami, mengecup punggung tangan itu.


"udah lama ya nunggu, ?" tanya Fadly seraya mengelus kepala istrinya, dengan sayang.


"belum kok yah, baru saja karena tadi mandiin Nisa di dalam dwn juga bunda udah mandi dan Sholat ashar, kalau nungguin ayah kelamaan, " ucap Ika tersenyum tipis.


"iya Bun, nggak papa, justru Ayah nerasa senang kalau bunda bisa mengerjakan perintah-Nya tepat waktu. maaf, maaf karena Ayah sering lalai oada Perintah-Nya, " ucap Fadly menundukkan kepala karena malu.


malu, karwna dirinya sebagai imam, belum bisa membimbing sang istri, malu karena justru sang istrilah yang mengajarkan hal banyak padanya.


"ayah nggak perlu minta maaf, karena semua orang bisa belajar kapan saja, yang penting, ada niat di sini, " ucap Ika seraya menyentuh dadanya.


membuat Fadly tersenyum hatu melihat dan mendengar ucapan sang istri. memang, Fadly bukan laki laki yang baik dan Sholeh. tapi, ia berjanji akan membimbing dan membawa anak istrinya, hingga janah. Aamiin.


"gimana udah siap,? "tanya Fadly pada sang istri.


Ika hanya mengangguk dan menurut saja. saat, Suaminya membawa dirinya dan baby Nisa masuk kedalam mobil ean melajukanya meninggalkan area restaurant.

__ADS_1


pemandangan yang baru saja terjadi itu, membuat semua karyawan restaurant merasa kagum kepaga bos mereka.


"sosweet banget deh pak bos, " ucap salah satu karyawan.


"bener, jadi pingin jadi istrinya, " ucap yang lain. membuat salah satu dati mereka, menepuk tangan wanita itu, dengan keras. hingga membuat si empunya tangan, meringis karena kesakitan.


"awh sakit, " ucap gadis itu seraya mengelus lenganya yang terasa panas.


"makanya, kalau ngomong jangan sembarangan kalo ngomong, " ucap temanya memperingati temanya agar tak sembarangan dalam berucap.


"iya iya, gitu aja marah, " gerutunya serays berlalu pergi.


mereka memang twk ingin mencari masakah dengan bis mereka, apalagi , dengan kasus dua temanya yang tak tau nasib kabarnya itu.


sementara itu, di dalam mobil, Ika dan Fadly tak hentinya menebarkan kemesraan, dengan genggaman tangan mereja yang tak pernah lepas.


"emang kita mau kemana,? " tanya Ika saat menyadari jika mereka tak melewati jalan menuju rumahnya. melainkan, menuju sebuah butik ternama di kota S.


"kita akan ke butik untuk membeli baju buat Bunda dan Nisa, " ucap Fadly seraya menoleh dan tersenyum manis pada sang istri.


membuat Ika membulatkan matanya karena kaget. dia masih banyak baju baru dan juga masih layak di gunakan


"nggak papa Bun, Ayah ingin mengenalkan oada temen Ayah, " ucsp Fadly.


membuat Ika seketika, menoleh kearah sang suami.


"msksud Ayah apa,? siapa, laki laki atau perempuan,? " tanya Ika beeturut turut membuat Fadly tersenyum tipis. mendengarnya.


"kok malah ketawa, jangan jangan, benar dia adalah selingkuhan ayah ya,? ' tanya Ika berturut turut.


membuat Ika semakin kesal di buatnya, dan wanita Cantik itu, memilih diam. hingga mobilpun, sampai di sebuah butik besar.


Fadly memarkirkan mobilnya di parkiran husus mobil.


"ayo keluar, " ucap Fadly mengajak sang istri untuk masuk ke dalam butik.


Ika hanya diam dan memilih untuk memainkan ponsel miliknya, seraya bercsnda dengan baby Nisa.

__ADS_1


Fadly hanya tersenyum kecil, melihat reaksi sang istri. tanpa ba bi bu, Fadly segera menarik sang istri untuk keluar dari dalam mobil dan segera mengambil alih baby Nisa, dari gendongan istrinya.


Ika menrut saja, saat Fadly menarik tanganya ,vagar masuk ke dalam butik tersebut.


Ika tampak tertegun, saat masuk kedalam butik itu. jiwa emak emaknya, meronta ronta sat melihat baju baju bagus bertengger di sana.


"wah, bagus banget Yah baju bajunya, " ucap Ika memandang kagum. dan melupakan kekesalannya pada sang suami.


Fadly tersenyum geli melihat tingkah sang istri yang menurutnya, sangat lucu dan mengemaskan. baru saja, tadi merajuk karena kesal, sekarang sudah tersenyum manis padanya. benar benar, wanita tak bisa di tebak.


BERSAMBUNG....


note : ada novelbagus nih kak punya teman aku judulnya Masa Lalu Sang Presdir By: Enis Sudrajat.



Masa Lalu Sang Presdir (21+)


Blurb :


Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?


"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."


"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."


"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."


"Richard ...."


"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.


Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.


"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"


Ameera mengangguk mantap.

__ADS_1


Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.


__ADS_2