Story Of Yulianika

Story Of Yulianika
BAB 51


__ADS_3

sesampainya di dalam kamar, Ika masih saja mengerutu.


ternyata, wanita satu anak itu masih saja merasa kesal atas ulah ibu tadi. yang terang-terangan menghina sang bibi.


"huh, ada ya manusia model begitu, nggak sadar diri," gerutu Ika.


membuat sang suami tersenyum sendiri. " udahlah nggak isah ngomel ngomel itu kata Novita di dekat sini ada danau nwnti sore kita kesana, sekarang kita tidur dulu" ucapnya seraya menarik sang isteri untuk berbaring.


dan akhirnya, mereka berdua terlelap. barusaja satu jam tertidur, Ika samar-samar mendengar ketukan pintu dan tangisan bayi.


Ika mengabaikanya karena ia fikir ini hanya mimpi belaka. namun, ia langsung tersadar saat mengingat sesiatu.


segera, Ika bangkit dan langsung terduduk di tepi tanjangnya. dan perlahan, ia melangkah menuju pintu kamar lalu membukanya.


"eh, bi kenapa,? " tanya Ika saat mendapati sang bibi, sedang berdiri di depan pintu seraya menggendong putrinya.


"maaf ya, bibi mengganggumu. ini, sepertinya Nisa haus, " ucap bi Mira.


"oh, maaf ya bi jadi ngerepotin, " ucap Ika merasa tak enak.


lalu, Ika masuk ke kamar dan langsung membaringkan sang putri di samping suaminya.


ia juga ikut berbaring dan tak lama, mereka terlelap dengqn baby Nisa di tengah.


sore harinya..


kini, Ika dan Fadly sedang berada di danau yang sangat indah. pemandanganya sungguh membuat hati terasa sejuk.


mereka berdua duduk di samping kanan sisi danau seraya menatap beberapa pasangan keluarga yang juga sedang berlibur di tempat itu.


"bagus ya yah pemandanganya,?" tanya Ika yang sedang menggenfong baby Nisa.


"iya, bagus tapi kalah bagus dengan wajah kamu," ucapnya seraya menggombal.


"aish ayah, dari tadi bunda perhatikan gombal terus, pasti ada maunya ini, " ucap Ika penuh selidik.


"hehehe nggak kok, bunda nggak mau apa-apa cuma mau satu aja, boleh,? " tanya Fadly dengan wajah memelas.


"apa,? " tanya Ika.


"setelah anak kita usia lima bulan, bunda mau ya nambah momingan lagi, " ucap Fadly membuat Ika seketika tersedak oleh air liurnya sendiri.


"bagaimana ini,? " tanya dirinya dalam hati.

__ADS_1


"bun, kok ngelamun,? " tanya Fadly menepuk pundak sang isteri.


"e, eh iya yah, emm bunda fikirkan lagi ya yah, " ucap Ika. "lagipun, ayah kenapa sih pengen cepet-crpet nambah momonganlagi,? : tanya Ika.


"enggak papa sih bun, pengen aja biar rame terus ngurusnya biar bisa sekalian, " ucapnya


oh. astaga ingin sekali Ika berteriak dan memaki orang didepanya jika ia tak sadar jika itu adalah suaminya dan sangat di benci oleh Allah.karena termasuk perbuatan durhakim.


dia fikir bergadang itu tidak lelah, mungkin ia tak merasakanya karena selama ini yang lebih banyak bergadang adalah dirinya.


tak lama, ada sepasang suami isteri yang membawa ketiga anaknya yang masih kecil-kecil..


"ayah yakin mau punya anak banyak, lihat tuh ibu-ibu sangat kesusahan tau, " ucap Ika yang sengaja mendramatisir keadaan.


bukanya merasa iba, namun Fadly justru merasa senang.


"iya bun, ayah merasa sangat senang kalau keluarga kita jadi ramai, "ucap Fadly terswnyum.


"hmm ini nggak bisa di biarkan besok, aku harus mencari cara lain, agar mas Fadly bisa teralihkan" gumamnya dalam hati.


malam harinya, Ika dan Fadly memilih pulang kerumah sang ibu.


"kok cepat sekali pulangnya, memang nggak menginap,? " tanya bi Mira.


mereka akhitnya pulang ke kota K. di perjalanan, Ika melihat ssesuatu yang membuatnya tergoda.


"yah, berhenti bunda mau makan sate telur puyuh, " rengek Ika pada sang suami


Fadly langsung menoleh pada sang isteri dan tersenyum, " bunda mau makan sate telur puyuh, bunda ngidam, " ucap Fadly.


entah mengapa, suwminya itu selalu berfikiran jika dirinya hamil lagi.


"ish ayah, bunda itu hanya kepengen makan sate itu, nggak ada hubunganya sama hamil lagi, " ucapnya seraya memutar bola malas.


"iya siapa tau bunda beneran hamil, lagipun kok bunda bisa seyakin itu, kalau bunda nggak hamil,? " tanya Fadly menyelidik.


"iya kan seorang wanita jika ingin hamil itu, pasti memiliki insting ayah, dan insting bunda itu mengatakan jika bunda sedang tidak hamil, " ucap Ika mencoba setenang mungkin.


Fadly hanya mengangguk dan melajukan mobilnya menuju waruh sate tersebut yang tampak ramai,


"bu, pesen sate telur puyuhnya satu porsi sama lontongnya satu," ucap Fadly saat mereka sudah turun dari mobil dan baby Nisa yang masih berada di gendongan sang ayah.


sejenak, Ika dan Fadly menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang begitu asing bagi warga kota P.

__ADS_1


"neng, orang mana,? "tanya si ibu penjual seraya menyerahkan pesananya.


"eh, enggak bu, saya keponakan bu Mira," ucap Ika tersenyum manis.


"loh, ini si Ika yang gendut itu ya, owalah berarti ibu memang gak salah lihat, " ucapnya tersenyum lalu pergi kedapur.


Ika yang mendengarkanya, hanya tersenyum saja. karena, ia sudah terbiasa mendapatkan body sharming seperti itu.


mereka mulai makan satenya dengan lahap dan tanpa sengaja, ia bertemu dengan Samuel dan teman-temanya yang sedang mrnghabiskan malam minggunya.


"wah, di sini ada orang sok kaya yang makan di tempat receh seperti ini, jangan-jqngqn sudah jatuh miskin " ucap Samuel seraya mengeraskan suaranya.


sementara Ika dan Fadly hanya diam seraya nasih asyik makan.


sebenarnya, Fadly merasa geram pada omongan pria itu. ingin sekali ia meluapkan semua isi hatinya saat ini juga. namun, ia tersadar, saat tangan lembut isterinya, menyentuh lengan kokohnya.


"sabar yah, anggap saja, kita sedang mendengarkan orang gika lewat, " ucap Ika berbisik.


Fadly hanya mengangguk. meski sebenarnya, ia merasa geram dan ingin sekali merobek mulut lemes pria itu.


setelah selesai makan, Ika dan Fadly meninggalkan tempat itu menuju mobilnya. dan melajukanya, meninggalkan tempat itu.


sepanjang perjalanan, Ika dan Fadly hanya terdiam meski tangan mereka saling bertautan. sementara baby Nisa tertidur pulas di atas care setnya.


setelah menempuh jarak setengah jam, mereka berdua sampai di rumah mama Erika.


"assalamu'alaikum, " ucap Ika dan Fadly yang hampir bersamaan.


"wa'alaikum salam, loh kirain mamah kalian nginep di sana,?" ucap mama Erika.


"enggak kok mah kita langsung pulang, " ucap Ika berjalan masuk kedalam rumah.


"kalau begitu, kalian langsung istirahat saja, " ucap mama Erika.


Ika dan Fadly langsung menganggukan kepala dan masuk kedalam kamar.


setelah sampai, Ika dan Fadly masih saja terdiam dan tak bertegur sapa.


sebenarnya ada ketakutan di dalam hati masing-masing, atas kejadian yang baru saja terjadi.


merekapun langsung merebahkan tubuhnya seraya memunggungi satu sama lain. tanpa berbicara sedikitpun.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2