
Fadly langsung menarik tangan isterinya, saat wanita itu hendak melangkah keluar kamar.
" kamu mau kemana sayang,? " tanya Fadly berbisik.
jantung Ika serasa mau copot saat ini, apalagi dengan hembusan nafas berbau nint tersebut.
"a-aku mau menemui mereka yah lagipula Nisa harus minum asi, " ucap Ika gugup.
Fadly tersenyum kearah isterinya. entah mengapa, saat isterinya seperti ini, ia justeru sangat menggemaskan.
"jangan menghindar sayang, atau aku akan melakukanya secara terus menerus selama seminggu,? " tanya Fadly seraya tersenyum menyerigai.
sontak saja, Ika menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Fadly tersenyum penuh kemenangan dan langsung menggendong sang isteri menuju ranjang.
perlahan, Fadly merebahkan sang isteri dan mulai mencum** bibir seksinya.
Ika tanpa sadar ikutbterhanyut dalam permainan sang suami.
ia meringis dalam hati, ia berharap tak hamil dulu setelah ini.
karena bagaimanapun rahimnya sudah kembali seperti senula.
jadi kemungkinan hamil sangat tinggi.
"semoga belum terlambat jika aku menggunakan alat kontrasepsi" gumam Ika dalam hati.
setelah selesai, mereka berdua tertidur dengan lelap dengan saling berpelukan.
pagi harinya.....
Ika bangun terlebih dulu dan bergegas kekamar mandi, untuk membersihkan diri.
lima belas menit, Ika keluar dari kamar mandi dan segera membangunkan sang suami.
"yah, bangun sholat dulu, " ucap Ika seraya menggoyang-goyangkan tubuh sang suami.
Fadly mengerjapkan matanya beberapa kali dan segera bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
setelah selesai mandi, Fadly keluar dengan baju koko dan sarung.
setelah itu, mereka sholat subuh berjamaah.
setelah selesai sholat, Ika bergegas kebawah untuk menyiapkan sarapan tanpa menghiraukan sang suami.
walaupun Ika tau, menolak keinginan sang suami adalah merupakan dosa besar.
namun, rasa takutnya mengalahkan rasa hormatnya.
Fadly yang melihat itu, hanya terswnyum. ia lebih baik diam. agar tak memancing kemarahan isterinya.
"pagi bi, " ucap Ika seraya mengambil alih baby Nisa yang berada di gendongan bi Sumi.
"pagi nyonya, mau makan sekarang,? " tanya bi Sumi.
__ADS_1
"enggak bi, nanti saja mau menyusui baby Nisa dulu. " ucap Ika. " oh ya bi, tadi malam, orang-orang pulang jam berapa,? " tanyanya.
"oh mereka semua pulang jam sembilan nyonya, " ucap bi Sumi. "ada lagi nyonya, " tanya bi Sumi.
Ika menggelengkan kepala dan kini, fokus menyusui baby Nisa.
tak lama, Fadly turun dengan pakaian rapi menghampiri isteri dan anaknya yang duduk di ruang tamu.
Ika menggeser tubuhnya saat merasa sang suami ingin mendekat. namun dengan cepat, Fadly mencekal bahunya.
"jangan sampai aku berbuat nekat di sini, " ucapnya seraya menampilkan senyum neneringai.
membuat Ika melotot dan memukul dada suaminya.
Fadly tersenyum puas saat melihat isterinya pasrah.
setelah selesai sarapan, Ika mengantarkan suaminya bersama baby Nisa yang berada di gendonganya.
"ayah berangkat dulu ya, jaga Nisa baik-baik. " ucapnya seraya mengecup kening isteri dan pipi anaknya.
setelah Fadly berangkat kerja, Ika buru-buru kembali kedalam rumah.
ia menitipkan baby Nisa pada bi Sumi. yang kebetulan, pekerjaan wanita paruh baya itu sudah selesai.
"bi, saya minta tolong jaga baby Nisa sebentar ya, saya mau pergi ke supermarket, " ucap Ika menghampiri bi Sumi yang sedang beristirahat di kursi dekat dapur.
"eh, iya nyonya sini, " ucapnya seraya meraih bayi mungil itu.
"nanti kalau Nisa haus, di kulkas ada asi, " ucap Ika .
Ika menghela nafas saat sudah berada di dalam taxi. " semoga ini yang terbaik, " uvapnya dalam hati.
tak lama, Ika sudah sampai di kota B. Ika sengaja memilih rumah sakit yang jauh dari kota S. agar tidak ketahuan.
katakanlah Ika egois dan sedikit durhaka karena menentang Suaminya.
tapi jujur, ia merasa belum siap jika harus hamil kembali.
"apa ada keluhan bu, " tanya Dr. spesialis kandungan yang kini berada di hadapanya.
"tidak Dok saya ingin pasang IUD, " ucap Ika tersenyum.
"oh mari saya cek, " ucap Dr. Mila.
Ika segera mengikuti langkah Dokter tersebut memasuki sebuah ruangan.
"silahkan berbaring bu, " ucapnya. dan Ika menurut dan segera Dr. Mila mengerjakan apa yang ia harus kerjakan.
"sudah bu, " ucap Dr. Mila seraya keluar dari ruang tersebut.
Ika segera keluar dan duduk dihadapan sang Dokter.
"ibu di larang berh** setelah ini hingga seminggu, " ucap Dr. Mila.
"baik Dok, kalau begitu saya permisi, selamat oagi, " ucap Ika dan pergi meninggalkan ruang itu.
__ADS_1
di perjalanan, ia tak sengaja bertemu dengan Afifah yang sedang bersama sang ibu.
"Ka, loe ngapain disini,? " tanya Afifah saat mereka tak sengaja berpapasan.
"eh Fah lagi kontrol aja, " ucapnya sedikit berbohong.
"oh, terus suami loe nggak ikut, ?" tanya Afifah mengedarkan pandanganya.
"eh enggak mereka ada di rumah. mas Fadly udah milai kerja di kantor lagi, " ucap Ika.
"oh, terus loe kesini naik apa? " tanya Afifah.
"emm naik taxi, " ucap Ika. "tasudah gue balik dulu ya, takut anak gue nangis, " ucap Ika berlalu pergi.
tanpa mereka sadari, ada sepasabg mata yang memlerhatikan gerak-gerik mereka, terutama Ika.
" tunggu saja tanggal mainya sayang, " gumam orang tersebut dan berlalu pergi.
sementara Afifah, memperhatikan tingkah sahabatnya. " seperti ada yang di sembunyikan. " batinya lalu masuk kedalam ruang tunggu bersama sang ibu.
sementara Ika sudah berada didalam taxi. "eh pak nanti mampir di sebelah toko roti ya, " ucap Ika seraya menunjuk kegambar di ponselmya.
"iya neng. " ucap sang supir.
setelah hampir sepuluh menit, Ika turun dari taxi "pak tunggu sebentar ya, " ucap Ika lalu berjalan masuk.
didalam sana, Ika tampak mengambil beberapa roti. lalu, berjalan ke arah kasir.
sementara, di belakangnya tampak seseorang memperhatikanya seraya tersenyum sinis.
"sudah, ini saja,?" tanya mbak-mbak kasir.
Ika menganggukan kepala. tak lama, ia keluar dari toko. namun, langkahnya terhenti saat lenganya di tarik oleh seseorang.
"eh, maaf anda siapa,? " tanya Ika. merasa bingung.
"loe nggak perlu tau siapa gue. yang jelas, gue mau loe tinggalin Fadly, " ucapnya yang berada di balik masker hitam.
"dih nggak jelas loe, kita nggak kenal juga kok main nyuruh, " ucap Ika menghempaskan tangan orang tersebut.
lali, melangkah pergi meninggalkan toko tersebut. baru tiga langkah, Ika terhenti karena mendengar ucapan perempuan itu.
"atau nggak, loe mau keluarga loe menjadi korban, " ucapnya seraya berlalu pergi.
Ika tak menghiraukanya. ia langsung menuju taxi dan menyuruh sang supir untuk segera jalan.
sevenarnya, Ika merasa sedikit was-was dengan ancaman orang tersebut. namun, sebisa mungkin ia berusaha tetap tenang. atau rahasianya akan terbongkar.
lama ia melamun, tak terasa Ika sudah sampai di depan rumahnya.
ia langsung turun dan memberikan uang pada sang supir.
Ika segera masuk ke dalam rumah. dan menemui putrinya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1