Story Of Yulianika

Story Of Yulianika
BAB 76


__ADS_3

Ika langsung menghadap sang suami, dengan alis bertautan dan wajah bingungnya. karena ucapan suaminya itu.


"Aywh kenapa,? " tanya Ika seraya menangkup wajah suaminya itu.


Fadly hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis dan terue menatap bola mata indah milik istrinya itu.


mencari sebuah kebohongan yang ada di mata wanita yang ia cintai itu.


"Ayah hanya ingin sebuah kejujuran dari istri Ayah ini, " ucapnya seraya mengecup hidung wanitanya itu.


Ika mendadak menegang. bukan karena kecupan sang suami, melainkan ucaoan suaminya itu.


perkataanya swperti menuntutnya untuk mengakui sebuah kesalahan.


"maaf Yah, tapi Bunda belum siap, " ucap Ika yang tak mampu keluwr dari mulutnya dan hanya bisa keluar dari dalam hatinya.


"nggak ada yang di sembunyikan Ayah sayang, semua baik baik aja, " ucap Ika tersenyum tipis dan langsung masuk dalam dekapan sang suami.


Fadly membalas pelukan itu, dan memejamkan mata sesaat.


"semoga, apa yang Bunda katakan, memang benar adanya, " gumamnya dalam hati.


sementara Baby Nisa berada di kereta bayi dan tersenyum manis pada kedua orangtuanya.


membuat mereka berdua saling berpandangan dan berlari kearah bayi mungil itu.


'uuh sayang sayang, maafiin ayah sama bunda yah, " ucap Fadly seraya mengangkat tubuh mungil itu dan mendekapnya.


dan seperti biasa, Fadly selalu menyempatkan waktu, untuk bermain dengan putri tercintanya itu. walaupun, sesibuk apapun pekerjaannya, Fadly tetap meluangkan waktunya untuk bermain.


hal itulah, yang membuat Ika semakin jatuh cinta pada sang suami.. saat Fadly sedang bercanda dengan anak mereka, Ika berbuat iseng dengan ikut masuk ke dalam pelukan laki laki itu.


membuat Fadly menoleh kwarah sang istri dan tersenyum lembut.


"tuh lihat Nisa, Bunda nggak mau kalah sama kamu, " ucap Fadly mengajak bicara bayi berusia lima bilan itu..


Dan seperti mengerti fengan ucapan sang Ayah, baby Nisa pun tertawa lepas dan membuat kedua orang tuanya, semakin gemas di buatnya.


"duh, gemes banget sih sama anak Ayah, jadi pengen lagi punya satu yang kayak gini, " ucapnya seraya mengecup pipi gembul baby Nisa.


membuat Ika weketika terdiam dengan tatapan rasa bersalah. tapi, dengan cepat, wanita itu, menepis perasaannya dan kembali ceria seperti biasa.


tapi sayangnya, Fadly sudah mendapati wajah istrinya yang murung tadi. dan dirinya, senakin yakin, jika istrinya menyembunyikan sesuatu.


"Bun, tadi di kantor, Diana menghubungi Ayah, dia bilang, mau ketemu sama Ayah, " ucap Fadly saat mereka sudah ingin merebahkan tubuhnya di kasur.


membuat Ika menoleh ke arah suaminya dan menatap laki laki itu, sejenak.


"ya udah kalau begitu, temuin aja, siapa tau penting, " ucap Ika sebisa mungkin bersikap tenang.


"Bunda nggak cemburu,? " tanya Fadly yang sekarang berbaring menghadap istrinya itu.


Ika menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. " mana mungkin, Bunda cemburu, Bunda percaya, Ayah bisa jaga kesetiaan hanya untuk Bunda, " ucap Ika tersenyum.


membuat Fadly dengan cepat, menarik tangan istrinya dan mendekapnya erat seraya sesekali, mengecup kening wanitanya itu.

__ADS_1


"Pasti sayang, Ayah akan selalu setia sama Bunda, " ucap Fadly.


membuat Ika tersenyum tipis dan membalas pelukan dari suaminya itu.


"tapi, kenapa nggak mau ikut,? " tanya Fadly merasa heran. karena istrinya itu, tak mau di ajak bertemu dengan masalalunyq.


walaupun, Fadly tak memiliki hubungan yang spesial dengan Diana, tapi akhir akhir ini, wanita itu, sering mengganggu keluarganya.


Dan mau tidak mau, Fadly hatus meminta izin dulu, kepada istrinya.


karena bagaimana pun, ia telah memuliki istri jadi, sudah sepantasnya ia meminta izin pada istrinya itu.


Pagi harinya, Fadly seperti biasa, menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, dan membantu sang istri mengurus baby Nisa.


setelah itu, Fadly pergi kekantor karena hari ini, dirinya harus mengerjakan pekerjaannya agar bisa cepat selesai.


karena tiga hari lagi, dirinya akan keluar dari kantor sang Papa mertua.


sesampainya di perusahaan sang Papa, Fadly segera menyelesaikan pekerjaan agar bis cepat selesai.


di saat dirinya tengah berkutat dengan komputer di depannya, Doni datang menghampirinyadan duduk di depannya..


"ada apa,? " tanya Fadly tanpa mendongak menatap lawan bicaranya.


"Diana masih saja ngangguin gue, " ucaonya seraya bertopang dagu di hadapan Fadly.


"terus,? " tanya Fadly seraya masih mengerjakan pekerjaannya tanpa menoleh sedikit pun kearah lawan bicaranya.


membuat Doni mendengus kesal karena ucapan Fadly.


membuat Fadly buru buru mengatakan sesuatu yang membuat Doni, menghentikan langkahnya


"tapi, Ika nggak mau ikut, " ucap Fadly membuat Doni menoleh ke arahnya.


"ya loe pergi sendiri lah, gitu aja kok repot, " ucap Doni seakan twk memiliki Dosa saat mengatakan hal itu.


membuat Fadly yang berganti yang mendengus kesal.


"loe ya, kalau ngomong nggak dipikir dulu, " ucapnya kesal. " gimana gue mau pergi, kalau istri gue nggak ikut oon, gue nggak mau menimbulkan fitnah, terlenih lagi, gue malas ketemu wanita itu. " lanjutnya seraya mendudukkan dirinya di kursi kerjanya.


membuat Doni, yang mendengarnya tertegun sesaat. karena ucapan Fadly barusan.


"loe nggak lagi amnesia kan? " tanya Doni tiba tiba membuat Fadly mengerutkan keningnya karena bingung.


"maksudnya,? " tanya Fadly.


"ya loe nggak lagi amnesia kan, sejak kapan, seorang Fadly antonio mendadak alim seperti ini,? " tanya Doni tersenyum tipis.


"sejak gue ketemu sama Ika dan gue berjanji akan terus belajar dan menjadi imam yang baik untuk anak istri gue, " ucap Fadly serays meneruskan kegiatannya.


membuat Doni menganggukkan kepala kemudian tersenyum kecil mendengar ucapan sahabatnya itu.


"luar biasa!! seorang Fadly Antonio sekarang sudah menjadi seorang yang alim, " ucap Doni mengejek.


"harus itu, agar hidup ada tujuannya, dan gue doakan supaya nanti suatu saat, loe juga bisa ketemu sama jodoh terbaik, agar loe bisa berubah jadi lebih baik lagi, " ucapnya.

__ADS_1


"Aamiin semoga saja gie cepat mendapatkan pengganti Afifah di hati gue, " ucap Doni melangkahkan kakinya, meninggalkan ruangan Fadly..


Doni mendudukkan dirinya di kursi kerjanya dan mekamun karena kenbali teringat Afifah. setelah ia menyebutkan nama gadis itu.


lalu, dengan segera, ia memutar musik dan mendengarkan lagu melow.


Di daun yang ikut mengalir lembut


Terbawa sungai ke ujung mata


Dan aku mulai takut terbawa cinta


Menghirup rindu yang sesakkan dada


Jalanku hampa dan kusentuh dia


Terasa hangat, oh, di dalam hati


Kupegang erat dan kuhalangi waktu


Tak urung jua kulihatnya pergi


Tak pernah kuragu dan s'lalu kuingat


Kerlingan matamu dan sentuhan hangat


Ku saat itu takut mencari makna


Tumbuhkan rasa yang sesakkan dada


Kau datang dan pergi, oh, begitu saja


Semua kut'rima apa adanya


Mata terpejam dan hati menggumam


Di ruang rindu kita bertemu


Uh-uh-uh, uh-uh


Uh-uh, uh-uh-uh


Kau datang dan pergi, oh, begitu saja


Semua kut'rima apa adanya


Mata terpejam dan hati menggumam


Di ruang rindu kita bertemu


Bertemu


Hu-uh-uh


Sumber: Musixmatch

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2